Ponorogo (beritajatim.com) – Ratusan kejadian bencana alam terjadi selama tahun 2022 lalu. Kejadian tanah longsor dan banjir mendominasi bencana alam yang terjadi di Kabupaten Ponorogo. Peristiwa terbanyak yakni, tanah longsor dengan total 173 kejadian. Sedangkan bencana banjir total ada 97 kejadian.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Ponorogo Henry Indrawardana menyebut pemicu banyaknya kejadian bencana alam, salah satunya adalah sepanjang tahun 2022 lalu, terjadi cuaca ekstrem di bumi reog. Sehingga akibat cuaca ekstrem tersebut, menimbulkan bencana alam. “Untuk tanah longsor terjadi di daerah pegunungan, seperti di Kecamatan Ngebel, Pulung, Pudak, Sawoo dan Sooko,” ungkap Henry, Kamis (12/01/2023).
Jika ditotal tidak hanya tanah longsor dan banjir, selama kurun waktu setahun terakhir, di Kabupaten Ponorogo telah terjadi bencana alam sebanyak 340 kejadian. Angka tersebut meningkat jika dibandingkan dengan kejadian bencana alam tahun 2021. Tahun 2021 di Ponorogo telah terjadi bencana alam sebanyak 230 kejadian.
[berita-terkait number=”5″ tag=”BPBD-Ponorogo”]
“Salah satu faktornya cuaca ekstrem yang terjadi pada tahun 2022 lalu. Sehingga jumlah bencana alam tahun 2022 lebih banyak dibandingkan dengan tahun 2021,” kata mantan Kepala DPUPKP Kabupaten Ponorogo tersebut.
BPBD Kabupaten Ponorogo, tahun ini berusaha keras untuk melakukan sosialisasi mitigasi terhadap masyarakat. Sehingga jika sewaktu-waktu terjadi bencana, sudah tahu yang harus dilakukan. Tak hanya ke masyarakat di lingkungan yang berpotensi terjadi bencana, BPBD Kabupaten Ponorogo juga akan keluar masuk sekolah untuk sosialisasi mitigasi ini. “Kita juga akan ke sekolah-sekolah, minimal siswa siswi di Ponorogo perlu diedukasi penanganan pengendalian bencana,” katanya.
Sebab, seusai kejadian bencana itu, pihaknya selalu melakukan evaluasi secara mendetail. Kebanyakan akar masalahnya terjadi di hulu. Di mana di daerah hulu, tumbuhan atau lebatnya pohon mulai hilang. Tak ayal, ketika hujan yang lebat terjadi bisa berpotensi tanah longsor dan banjir. Sebab, tidak adanya akar-akar pohon yang bisa mengikat tanah atau air. “Dengan berkoordinasi dengan dinas terkait, kita juga akan melakukan gerakan penghijauan di daerah-daerah hulu yang jarang ada pohonnya,” pungkasnya. (end/kun)






