Sidoarjo (beritajatim.com) – Sore yang sejuk di pinggiran sawah desa Simoketawang, Sidoarjo, orang-orang tua muda berdatangan dengan wajah berseri. Tepatnya di Pesantren Ahlus Shafa Wal Wafa asuhan Gus Nizam orang-orang yang datang membawa teks macapat 3 pupuh yaitu: asmaradana, pucung, dan kinanthi.
Mereka akan menembangkan macapat bersama-sama dalam peristiwa yang belum pernah terjadi di Sidoarjo yaitu “Seribu Warga Sidoarjo Nembang Macapat 24 Jam Nonstop”.
Kegiatan ini terjadi atas kejasama Fakultas llmu Budaya Unair, Tim Pengabdian Masyarakat Umsida, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo. Tiga Instansi tersebut mendukung Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda), MGMP Seni Budaya SMA, MGMP Seni Budaya SMP, MGMP Basa Jawa SMP, bersama paguyuban-paguyuban macapat dan budaya Jenggala Manik, Rika Rahayu Rasmi, Sekar Kawedar dan banyak paguyuban lain.
Kegiatan diawali jam 13.30 dengan penampilan kelompok karawitan dari 9 sekolah asuhan Cak Murlan Candiloka, S.Sn. dan dilanjutkan dengan sambutan Dekan Fakultas llmu Budaya Unair Prof. Purnawan Basundoro.
“Macapat merupakan produk besar peradaban yang diwariskan oleh nenek moyang kita sangat berpotensi baik untuk pendidikan karakter budaya generasi muda,” kata Prof Basundoro.

Dekan FIB juga menembang pupuh Dhandhanggula dalam sambutan tersebut. Acara nembang macapat dimulai dengan ditandai pemukulan gong oleh Dr. Tirto Adi, M. Pd. Kepala dinas pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo.
Dr. Autar Abdillah ketua acara menjelaskan “Kegiatan ini tidak terjadi tiba-tiba begitu saja, namun dengan beberapa persiapan. Awalnya Pak Warmin menciptakan macapat gaya Sidoarjo dengan meruntut pakem Almarhum Ki Suwoto Gozali, macapat tersebut didiskusikan dalam sarasehan dengan para dalang. Ketika para dalang telah memberkan respon positi materi ciptaan Mbah Warmin itu dijarkan kepada para guru SMP SMA MGMP Basa Jawa dan MGMP seni Budaya. Para guru mebngajarkan ke siswanya lalu sore ini dibawalah para siswa untuk menembang besama di Pesantren Gus Nizam ini,” kata Dr Autar.

Setelah seribu orang lebih selesai nembang macapat sehabis asar itu, kegiatan nembang dilanjutkan oleh para anggota paguyuban macapat dari Sidoarjo dan sekitarnya. Dimulai sehabis isak sampai subuh.
Pagi hari guru MGMP dan para pelajar melanjutkan tembang sampai zuhur. Sehabis zuhur sampai asar dilakukan sarasehan macapat dengan tema “Masa Depan Macapat Sidoarjo”. [but]






