Jember (beritajatim.com) – Sentuhan humanis pada teknik pembuatan batik oleh perajin tidak akan bisa ditandingi mesin kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI).
Hal ini diungkapkan Wakil Gubernur Emil Dardak di sela-sela pembukaan Jambore Batik III, di Wisata Puncak Rembangan, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (28/7/2023) sore.
“Ketahuan bedanya antara batik yang dibuat dengan teknik printing dengan yang benar-benar dibuat (memakai tangan),” kata Emil.
“Yang paling keren adalah kalau kita tahu siapa perajinnya. Itu (ada) koneksi emosional yang tidak bisa disubstiitusi dengam apapun. Keragaman corak dan teknik membuat ini sulit (ditandingi). Ini yang mungkin tidak gampang disaingi AI, karena human touch atau sentuhan manusianya sangat penting dalam batik,” kata Emil.
Jambore Batik III ini diikuti 150 pelaku batik dari seluruh Jawa Timur. Pemprov Jatim mengapresiasi kembali berkumpulnya para perajin batik setelah pandemi usai.
“Saya langsung terkesan dengan kain batik yang diperagakan para model,” kata Emil. Ia memuji keberagaman corak dan warna semua batik yang menggambarkan kekhususan setiap kabupaten di Jatim. Kualitas batik itu dinilai bagus sekali.
“Ini benar-benar start luar biasa bagi para perajin batik Jatim. Kami dari Pemprov tentu ada banyak sekali wadah untuk ikut men-support, apakah kemudian melalui fasilitasi pemasaran, apakah melalui pendampingan teknik produksi. Tapi sekali lagi batik ini akan sukses kalau kita kembangkan bersama-sama oleh pemerintah, masyarakat, dan pelaku,” kata Emil.(wir)






