Magetan (beritajatim.com) – Sri Gunarsih, penyandang disabilitas daksa asal Magetan memberdayakan 150 penyandang disabilitas lain. Meski sempat minder, wanita 43 tahun itu sukses mendirikan Yayasan Wira Daksa Utama yang bertujuan memperjuangkan hak-hak difabel sekaligus memberikan pelatihan agar mereka berdaya dengan berwirausaha.
Semua berawal saat warga Desa Nguri, Kecamatan Lembeyan itu bergabung dalam National Paralympic Committee (NPC). Dari situ, yang bisa berdaya hanya penyandang disabilitas yang bisa berolahraga. Namun, dia melihat banyak difabel yang tak mampu melakukan olahraga. Dia pun terpikirkan untuk membuat mereka berdaya dengan memberikan pelatihan agar mereka bisa berwirausaha.

Alumnus UPT Rehabilitasi Sosial Bina Daksa Bangil Pasuruan itu sempat mendapatkan pelatihan sebagai penjahit. Dia pun sempat membuka usaha jasa jahit mulai 2002 hingga 2010. Kini, tenaga pendidik MA Miftahul Ulum Kedung Panji, Lembeyan Magetan iru aktif sebagai guru dan di yayasan.
“Awal mendirikan yayasan tahun 2018, yang tergabung sekitar 50 orang penyandang disabilitas daksa. Kemudian semakin berkembang sampai 150 orang lebih. Ada yang tuna rungu wicara dan tuna netra,” kata Sri Gunarsih saat ditemui beritajatim.com di Sekretariat Yayasan Wira Daksa Utama, Desa Ngadirejo, Kawedanan, Magetan, Kamis (4/5/2023).
Sejak enam bulan terbentuk, dirinya langsung mendaftarkan yayasan itu ke notaris. Tujuannya agar memberikan bukti pada publik bahwa yayasan yang dia dirikan murni beranggotakan para penyandang disabilitas. Karena, saat ini banyak sekali oknum-oknum yang mengaku difabel padahal normal.
“Citra kami sebagai penyandang difabel agak tercoreng karena ada oknum yang mengaku difabel dan hanya ingin mengambil keuntungan dari sumbangan ke sejumlah instansi atau berbagai lembaga,” katanya.
Semenjak yayasan didirikan, dia langsung silaturahmi ke sejumlah instansi. Dia mendapatkan respons positif dari Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Kearsipan dan Perpusatakaaan, serta Bakesbangpol Magetan.
“Saya dan rekan lain yang sudah pandai menjahit ini memberikan pelatihan ke temen-temen juga. Kemudian, akhirnya bisa membuka jasa usaha jahit. Sehingga, dari 150 orang ini 80 persennya memiliki usaha jasa jahit. Sisanya bervariasi, ada yang aktif sebagai pengolah kopi, jasa laundry, bikin keripik, warung makan, meubeler, jasa potong rambut hingga handycraft,” lanjut Sri.
Beberapa usaha anggota yayasan itu ada yang berkembang pesat. Bahkan, produk-produknya tembus ke luar pulau. Khususnya untuk yabg bergerak di bidang wirausaha selain jasa jahit.
“Kami turut berbangga. Namun, tetap kami juga ajak penyandang disabilitas lain yang belum memiliki usaha agar bisa ikut. Saat ini, yang belum bergabung itu ada di wilayah Kecamatan Karas, Karangrejo, Parang, dan Kartoharjo dari 18 kecamatan di Magetan,” kata Sri.
Dari situ, penyandang difabel tak hanya berkutat di rumah. Mereka bisa bersosialisasi dengan bebas di luar rumah. Bahkan, dengan mereka memiliki usaha atau pekerjaan, jadi tumbuh kepercayaan diri. “Sehingga para difabel ini tidak merasa minder. Mereka bisa berdaya meskipun memiliki keterbatasan,” katanya.
https://beritajatim.com/politik-pemerintahan/dispendukcapil-ponorogo-jemput-bola-rekam-odgj-dan-difabel/
Apa yang diupayakan Sri, rupanya sempat membuat RSBD Bangil di bawah Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur memberikan apresiasi. Yayasannya sempat didatangi oleh pihak RSBD Bangil pada dua tahun lalu.
Selain itu, dia kerap berkomunikasi dengan berbagai macam komunitas difabel serta instansi yang menjadi leading sektor pemberdayaan difabel dan mengurus semua hak difabel. Semua itu dilakukannya usai sempat bergabung dalam acara Temu Inklusi di Yogyakarta.
“Di sana kan semua dibahas tentang hak-hak difabel. Serta bagaimana cara agar instansi itu melibatkan penyandang disabilitas agar mereka turut diberdayakan. Semisal saja, semua fasilitas publik harus ramah pada penyandang disabilitas. Ini yang saat ini sudah dibangun di beberapa kantor layanan umum di Magetan. Utamanya kantor Polres Magetan yang kini juga sudah cukup ramah bagi penyandang disabilitas,” katanya.
Menurut Sri yang membutuhkan fasilitas khusus seperti jalan landai untuk masuk ke gedung atau menaiki tangga tidak hanya difabel. Tapi, termasuk orang yang sudah sepuh atau bahkan ibu hamil.
“Sehingga yang butuh tidak hanya kami saja. Nah, syukurlah kali ini hak kami yang sekecil ini saja sudah diperhatikan,” katanya.
https://beritajatim.com/ekbis/sajadah-batik-ciprat-karya-difabel-blitar-dipesan-kemensos/
Bahkan, selama.tiga tahun terakhir dia turut menginisiasi acara seremonial Hari Disabilitas Internasional (HDI) di Magetan. Dalam acara itu, selain mengenalkan produk-produk hasil usaha para difabel, dia juga turut menyuarakan hak-hak difabel.
“Utamanya, kami mengharap dari Perda Nomor 5 tahun 2021 tentang Penghormatan, Perlindungan dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas. Sampai saat ini belum ada Perbupnya. Kami ingin segera ada peraturan bupatinya agar tidak menggantung dalam eksekusi pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas,” kata Sri.
Dia sempat bertemu langsung dengan Kepala Dinas Sosial Magetan Parminto Budi Utomo. Sri menanyakan terkait perda tersebut. Namun, Parminto menjawab jika untuk membuat perbupnya masih dalam pembahasan.
“Kami mengharap perbup ini bisa segera dibuat dan disahkan. Agar hak kami.sebagai difabel bisa terwujud satu per satu. Bagaimanapun, kami ini warga negara juga yang berhak mendapatkan perlakuan yang adil dari pemerintah,” katanya.
Saat ini, dia sudah menutup usaha jahitnya. Dia fokus mengajar dan aktif di yayasan. Saat di madrasah selain menjadi pengajar mapel Bahasa Indonesia, dia juga mengajar ekstrakurikuler menjahit untuk siswa-siswi di madrasah.
“Kalau atas nama yayasan, saya juga masih kerap diundang menjadi tutor menjahit. Kami pernah diundang untuk memberikan pelatihan menjahit bagi ibu-ibu pada sebelum puasa tahun ini. Dan masih banyak lagi pelatihan-pelatihan yang melibatkan kami sebagai tutornya,” kata Sri.
Dia tak menyangka saat ini dia menjadi bermanfaat bagi orang lain dengan memberikan pelatihan sekaligus memberikan wadah bagi penyandang disabilitas lain untuk berkembang. Padahal, sejak kelas IX SMP, dia sudah menjadi yatim piatu dan tak menyangka bisa hidup mandiri meski difabel.
“Sejak saya mendapatkan kesempatan untuk sekolah dengan dibiayai oleh orang tua asuh dulu, saya bertekad untuk bsia kuliah. Namun, ssbelum itu saya diikutkan pelatihan oleh Dinas Sosila di RSBD Bangil itu. Hingga akhirnya saya dikenal dan diajak untuk mengajar MA hingga saat ini,” katanya.
https://beritajatim.com/politik-pemerintahan/difabel-di-lamongan-terima-bantuan-asistensi-dari-kemensos/
Dia pun bisa kuliah saat dirinya tergabung di MA Miftahul Ulum. Sejak kuliah dia menutup usaha jahitnya karena sudah tak sempat lagi membagi waktu antara mengajar, kukiah, dan menjahit. Kuliahnya pun sempat dibantu oleh pihak MA. “Sejak saat itu saya jadi optimis. Meski minder menjadi pengajar. Takut diejek siswa. Tapi ternyata saya bisa. Saya tidak lagi minder,” katanya.
Dia mengharap, pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas di wilayah Magetan khususnya bisa terus diwujudkan. Apalagi sejak tahun 2016, Presiden Joko Widodo sudah meneken Undang-Undang Nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Dimana dalam regulasi itu, penyandang disabilitas mendapatkan hak yang sama sebagai warga negara.
“Sehingga banyak kegiatan yang sifatnya inklusif. Bahkan saat menjelang tahun politik 2024 ini, kami selalu diajak komunikasi oleh Bawaslu dan KPU Magetan agar turut terlibat dalam kegiatan mereka yang bersifat inklusif,” pungkasnya. [fiq/but]







