Ringkasan Berita:
- Pawai Hari Santri Nasional 2026 di Genukwatu, Jombang, berlangsung meriah dengan melibatkan sekitar 1.500 peserta dari PAUD hingga MTs, guru, dan pengurus ranting NU.
- Kreativitas dan keberagaman mewarnai pawai, dengan peserta mengenakan kostum polisi, TNI, serta pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia.
- Yayasan Bahrul Ulum menanamkan semangat cinta tanah air, dengan mengajak generasi muda mengenang perjuangan para kiai melalui nilai hubbul wathan minal iman.
Jombang (beritajatim.com) – Bendera Nahdlatul Ulama (NU) berkibar di antara ribuan langkah yang memenuhi jalan Desa Genukwatu, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Sabtu (24/10/2026). Tabuhan jidor yang bertalu-talu berpadu dengan riuh suara drum band. Anak-anak hingga orang dewasa berbaris penuh semangat, mengenakan beragam kostum yang menyita perhatian.
Ada yang tampil gagah dengan seragam ala polisi dan TNI. Ada pula yang mengenakan pakaian adat dari berbagai penjuru Nusantara. Warna-warni busana itu seolah menjadi gambaran kecil tentang keberagaman Indonesia yang dirawat dalam semangat kebersamaan.
Bukan sekadar pawai, kegiatan tersebut menjadi cara Yayasan Bahrul Ulum Genukwatu merayakan Hari Santri Nasional (HSN) 2026. Di balik kemeriahan itu, tersimpan pesan penting: mengenalkan perjuangan para ulama kepada generasi muda sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air.
Sejak awal kegiatan, Lapangan Yayasan Bahrul Ulum dipadati peserta dan masyarakat. Barisan panjang kemudian bergerak perlahan menyusuri rute yang telah disiapkan panitia, mulai dari lapangan yayasan hingga berakhir di Masjid Dusun Dayangan, Desa Genukwatu.
Suasana semakin semarak ketika bendera start dikibarkan. Barisan peserta pun mulai bergerak, diiringi tabuhan jidor dan irama drum band yang membangkitkan antusiasme. Bendera NU yang berkibar di sepanjang barisan menjadi penanda kuat bahwa peringatan Hari Santri ini juga menjadi momentum merawat tradisi dan semangat perjuangan Nahdlatul Ulama.
Sejumlah unsur pemerintahan dan keamanan tingkat kecamatan turut hadir menyaksikan kegiatan tersebut. Di antaranya Kepala Desa Genukwatu, Camat Ngoro, Wakapolsek Ngoro, dan Komandan Koramil Ngoro.
Diikuti 1.500 Peserta, dari PAUD hingga MTs

Pembina Yayasan Bahrul Ulum, Muhammad Mahrus, menjelaskan bahwa pawai Hari Santri tahun ini melibatkan peserta dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Madrasah Tsanawiyah (MTs).
Jumlah siswa yang terlibat mencapai sekitar 1.150 orang, ditambah para guru. Partisipasi juga datang dari pengurus ranting NU setempat sehingga total peserta diperkirakan mencapai 1.500 orang.
Besarnya partisipasi tersebut menunjukkan bahwa peringatan Hari Santri bukan hanya milik kalangan santri, melainkan juga menjadi ruang kebersamaan bagi lembaga pendidikan, keluarga besar NU, dan masyarakat.
Menurut Mahrus, kegiatan ini memiliki tujuan yang lebih dalam daripada sekadar menghadirkan tontonan meriah di jalanan desa. Pawai diharapkan menjadi sarana bagi anak-anak untuk mengenal dan mengenang jasa para kiai yang turut berjuang mempertahankan bangsa dan negara.
Harapannya, nilai perjuangan itu tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi tumbuh menjadi kesadaran yang tertanam dalam diri generasi penerus.
“Dengan adanya pawai tersebut, kami berharap anak-anak bisa mengenal dan mengenang perjuangan para kiai dalam rangka mempertahankan bangsa dan negara ini sehingga bisa tertanam hubbul wathan minal iman,” jelas Kiai Mahrus.
Ungkapan hubbul wathan minal iman—cinta tanah air merupakan bagian dari iman—menjadi pesan yang ingin diwariskan melalui kegiatan tersebut. Nilai itu diharapkan tumbuh sejak dini, seiring anak-anak mengenal sejarah, tradisi, dan perjuangan para ulama.
Bebas Berkreasi, Tetap Berpegang pada Semangat NU

Kemeriahan pawai juga terlihat dari kebebasan peserta menampilkan kreativitas masing-masing. Yayasan memberikan ruang bagi para peserta untuk menentukan penampilan sesuai keinginan mereka, dengan tetap memperhatikan tema yang berkaitan dengan badan otonom (banom) dan lembaga-lembaga di lingkungan NU.
Perpaduan kostum, pakaian adat, dan penampilan beragam kelompok menjadikan pawai ini lebih dari sekadar arak-arakan. Setiap peserta memiliki cara sendiri untuk memeriahkan peringatan Hari Santri, tetapi semuanya berjalan dalam satu semangat kebersamaan.
“Yayasan membebaskan peserta pawai berkreasi sesuai dengan keinginannya, cuma ada tema-tema sesuai dengan banom dan lembaga yang ada di NU. Rutenya mulai lapangan yayasan ini sampai Masjid Dayangan,” terang Mahrus.
Dari Lapangan Yayasan Bahrul Ulum hingga Masjid Dayangan, ribuan langkah itu membawa pesan yang sama: perjuangan para kiai patut dikenang, persatuan harus terus dirawat, dan kecintaan terhadap Indonesia perlu ditanamkan sejak anak-anak.
Di tengah riuh tabuhan jidor dan sorak kegembiraan, Hari Santri di Genukwatu menjadi penanda bahwa warisan perjuangan tidak hanya dijaga melalui cerita dan upacara. Ia juga hidup melalui pendidikan, kebersamaan, serta nilai-nilai kebangsaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. [suf]






