Minahasa Utara (beritajatim.com) – Sejumlah media yang memiliki kepedulian tinggi terhadap isu lingkungan resmi mendeklarasikan Green Media Network (GMN) pada Sabtu (7/2/2026) untuk memperkuat kolaborasi jurnalisme iklim. Inisiatif strategis ini menggabungkan pilar konten, teknologi, dan model bisnis kolektif guna memastikan informasi krisis lingkungan menjadi arus utama pemberitaan nasional maupun daerah.
GMN dirancang sebagai hub penghubung yang mengintegrasikan berbagai kekuatan media guna menjawab tantangan fragmentasi isu dan keterbatasan sumber daya. Tujuannya adalah membangun ekosistem jurnalisme yang independen serta berdampak luas, sehingga isu lingkungan tidak lagi dianggap sebagai topik yang sepi pembaca.
Asep Saefullah, CEO Ekuatorial dan salah satu inisiator, menjelaskan bahwa GMN adalah langkah konkret untuk memperkuat infrastruktur media di Indonesia. Ia menekankan bahwa peningkatan kualitas media tidak boleh hanya berhenti pada aspek konten, tetapi juga harus menyentuh sisi teknologi dan pengembangan audiens.
“Dari pengalaman kolaborasi Ekuatorial dengan beberapa media, perlu ditingkatkan bukan pada aspek konten saja, tapi juga terkait teknologi dan bisnisnya. Dan yang tak kalah penting juga soal memahami serta mengembangkan audiens bersama-sama yang punya minat pada isu lingkungan,” papar Asep.
Pentingnya jejaring ini bagi penguatan media di tingkat daerah turut ditegaskan oleh Findamorina Muhtar dari VivaSulut. Ia memandang GMN sebagai jembatan krusial untuk mengatasi kesenjangan akses dan perhatian publik terhadap isu-isu lingkungan di wilayah terluar Indonesia.
“Bagi kami di daerah Green Media Network sangat penting. Dengan ini kami yang jauh dari Jakarta bisa belajar dan memperoleh akses untuk mengembangkan jaringan,” kata Findamorina.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi lintas platform ini akan mencegah isu-isu krusial di daerah tenggelam begitu saja dari perhatian publik. Melalui distribusi yang lebih luas, kasus lingkungan di pelosok diharapkan bisa menarik perhatian para pengambil kebijakan di tingkat nasional.
“Selain itu, banyak kasus lingkungan di daerah yang tidak menjadi perhatian nasional karena hanya dipublikasikan oleh media lokal dengan audiens yang terbatas. Dengan Green Media Network, kasus lingkungan di Miangas misalnya, akan tersebar lebih luas dan menarik perhatian berbagai pihak, termasuk pengambil kebijakan,” imbuhnya.
Senada dengan itu, Dedek Hendry dari LiveBengkulu mengungkapkan keberhasilan kolaborasi dalam mengangkat isu lokal ke panggung yang lebih luas. Fokus utama GMN juga menyasar pada keterlibatan kelompok rentan dan masyarakat adat yang sering kali terpinggirkan dalam narasi arus utama.
“Dengan kolaborasi itu, konten-konten tentang petani perempuan adat di Bengkulu dengan inisiatif kopi tangguh iklim bisa tersebar lebih luas. Bahkan dengan kemasan gaya anak muda, konten tentang kearifan lokal masyarakat adat bisa tersebar lebih luas di kalangan anak muda,” ungkap Dedek.
Green Media Network berdiri di atas semangat untuk mengakhiri kompetisi ego sektoral antar media dan menggantinya dengan kolaborasi yang lebih memartabatkan. Melalui sindikasi konten, berbagi infrastruktur teknologi, dan collective bargaining dalam bisnis, GMN bertekad menjadikan isu lingkungan sebagai diskursus utama di seluruh penjuru negeri. [beq]






