Surabaya (beritajatim.com) – Stadion Kanjuruhan, terletak di Jalan Trunujoyo, Krajan, Kedungpedaringan, Kecamatan Kepanjen, Malang, Jawa Timur, adalah markas yang sering digunakan oleh Arema FC, salah satu klub sepak bola terkenal asal Malang. Stadion ini memiliki kapasitas mencapai 35.000 tempat duduk, menjadikannya salah satu stadion terbesar di wilayah tersebut.
Sejarah Stadion Kanjuruhan dimulai pada tahun 1997 ketika pembangunan stadion ini dimulai. Stadion ini akhirnya diresmikan oleh Presiden ke-5, Megawati Soekarnoputri, pada tanggal 9 Juni 2004. Dalam peresmian ini, pertandingan kompetisi Divisi Satu Liga Pertamina tahun 2004 diadakan, mempertemukan Arema Malang dengan PSS Sleman. Arema memenangkan pertandingan ini dengan skor 1-0, yang menjadi momen bersejarah bagi klub dan stadion ini.
Nama “Kanjuruhan” diambil dari sebuah kerajaan Hindu di Malang yang berdiri pada abad ke-6. Kerajaan ini merupakan pusat aktivitas budaya dan politik sekitar tahun 760 hingga 1414, dan Prasasti Dinoyo menjadi salah satu bukti penting keberadaannya.
Baca Juga: Berkunjung ke Banyuwangi, Dirjen Gakum KLHK Dapat Laporan dari Alas Purwo
Namun, sayangnya, Stadion Kanjuruhan tidak hanya dikenal karena prestasinya dalam dunia sepak bola. Pada 1 Oktober 2022, stadion ini menjadi saksi dari tragedi yang mengguncang Indonesia. Setelah pertandingan sengit antara Arema dan Persebaya yang berakhir dengan skor 2-3 untuk kemenangan Persebaya, kerusuhan pecah.
Kekalahan Arema membuat para suporter tim tersebut merasa sangat kecewa. Setelah peluit wasit berbunyi sebagai tanda akhir pertandingan, para suporter yang kecewa turun ke tengah lapangan. Gelombang suporter ini semakin tak terkendali, memaksa pihak keamanan untuk mengambil tindakan dengan melemparkan gas air mata.
Namun, reaksi yang diharapkan dari penggunaan gas air mata adalah ketenangan dan penyebaran massa, tetapi sebaliknya, situasi semakin memburuk. Massa menjadi panik, berhamburan, dan berdesak-desakan untuk segera keluar dari stadion.
Baca Juga: Jalan Sehat dengan Ganjar di Surabaya, OSO Sebut Pemimpin Harus Sehat
Tragedi ini akhirnya menelan korban jiwa yang mencapai angka yang sangat tragis, dengan lebih dari 135 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka. Tragedi Kanjuruhan tanggal 1 Oktober 2022 akan selalu dikenang sebagai salah satu kejadian paling kelam dalam sejarah sepak bola Indonesia, mengingatkan kita akan pentingnya menjaga keamanan dan keselamatan dalam acara olahraga. Semoga tragedi ini menjadi pelajaran berharga untuk mencegah kejadian serupa di masa depan. (fyi/ian)






