Surabaya (beritajatim.com) – Beberapa orang tampak duduk berjejer pada sebuah lapak di sisi kanan pintu keluar Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Sebagian lainnya terlihat berdiri untuk mengantre.
Arah mereka menghadap pada sosok wanita sepuh yang sedang meramu bahan-bahan es dawet. Tangannya cekatan memadukan dawet atau cendol dengan santan kelapa dingin dan gula merah cair.
Meski sudah senja, semangat wanita yang dikenal dengan nama Mbah Hari itu patut menjadi panutan bagi yang tengah berusaha mengais rejeki. Mbah Hari adalah satu dari sekian wajah yang telah menghiasi khazanah kuliner Beringharjo.
Setiap pagi, wanita berusia 76 tahun ini menempuh perjalanan sepanjang 12 kilometer dari Bantul menuju Pasar Beringharjo untuk berjualan di lorong pasar. Tanpa ada stand, mbah Hari hanya menyiapkan dua tatakan tempat berjualan, ember dawet, santan, gula, mangkuk dan sendok seadanya.
Ia bercerita sudah 40 tahun lamanya berjualan dawet di pusat belanja barang-barang khas Yogyakarta itu. Pelanggannya sudah tidak terbilang banyaknya, mulai orang biasa maupun kelompok tersohor.
“Tiap pagi saya diantar dari Bantul ke pasar Beringharjo jualan es dawet sagu. Lalu jualan dari jam 9 pagi sampai 15.00 sore,”ucapnya.
Ditanya darimana beli dawet sagu, ia tersenyum dan menceritakan jika dawet sagu yang dijualnya adalah buatan sendiri. Setiap hari ia nguleni (mengadon) tepung sagu hingga mencetak menjadi dawet. Bukan hanya itu ia pun membuat cincau hijau sendiri, yang diolah dari daun cincau asli.
[berita-terkait number=”3″ tag=”kuliner”]
Racikan dawet sagu Mbah Hari pun sederhana. Mencegah agar santan tidak basi, Mbah Hari punya cara yaitu dengan merebusnya ditambahi sedikit garam dan daun pandan. Untuk rasa manis, Mbah Hari menggunakan sirup gula aren buatan sendiri. Tiga kompenen ini dicampurkan dengan dawet sagu dan cincau hijau dengan seduhan es batu.
“Ya saya di usia segini semuanya masih saya bikin sendiri, nguleni dawet, bikin gula aren hingga santannya masih semua sendiri,”ungkapnya.
Harga dawet sagu yang dijual pun sangat terjangkau, Rp5.000 satu mangkuk ukuran kecil. Jika kurang, dapat tambah barang satu mangkuk.
Salah satunya pembeli dawet asal Surabaya, Ratna Dwi ketika jalan-jalan ke Pasar Beringharjo melihat penjual dawet yang rame menjadi salah satu alasan penasaran membali.
“Awalnya saya lihat di sudut pintu keluar sisi kanan kok rame sekali sampai antri, ternyata jual dawet saya coba memang ternyata enak beda rasanya perpaduan dawet sagu dan cincau hijau dan murah banget cuma Rp5.000 perak,”ungkapnya. [way/beq]







