Surabaya (beritajatim.com) – Istilah imlek bukan berasal dari bahasa Mandarin, melainkan bahasa Hokkien. Imlek yang dimaknai sebagai Tahun Baru China atau Lunar New Year ini biasanya identik dengan warna serba merah dan sejenisnya.
Selain itu, beragam mitos dan tradisi menarik lainnya juga kerap dijumpai saat Imlek. Sehingga tak jarang masyarakat Tionghoa masih memegang teguh keyakinan ini.
Berikut beragam mitos dan tradisi saat perayaan Hari Raya Imlek.
Tidak boleh menyapu
Sehari sebelum Imlek biasanya rumah dibersihkan hingga ditata serapi mungkin. Hal ini sebagai bentuk membuang kotoran yang disimbolkan sebagai kesialan.
Namun berbeda saat saat memasuki waktu imlek hari pertama. Seseorang justru dilarang untuk menyapu. Hal ini karena masyarakat Tionghoa percaya bahwa rejeki yang sudah masuk ke dalam rumah akan ikut tersapu keluar.
Serba merah
Konon pada zaman dahulu warna merah dijadikan sebagai pengusir roh jahat. Meski kepercayaan tersebut mulai terkikis, namun masyarakat percaya bahwa warna merah sebagi simbol kesuksesan dan keberuntungan.
Tak ayal jika di tahun baru ini harapan-harapan baik itu senantiasa digambarkan pada nuansa Imlek. Itulah sebabnya tahun baru China dihiasi dengan warna serba merah, seperti pakaian, aksesoris, angpao, lampion, hingga hiasan rumah lainnya.
Angpao
Yang paling ditunggu-tunggu saat perayaan Imlek ialah angpao. Angpao merupakan amplop merah yang diberikan seseorang yang sudah menikah kepada mereka yang belum menikah. Biasanya berisi sejumlah uang. Hal ini dipercaya dapat menjadi transfer energi serta untuk memperlancar rejeki di kemudian hari.
Kumpul keluarga
Layaknya perayaan-perayaan besar lainnya, seperti lebaran atau hari natal, saat Imlek juga biasa digunakan untuk saling berkumpul dengan keluarga dan sanak saudara. Biasanya ini dilakukan pada malam sebelum Imlek.
Acara kumpul keluarga ini bisa dilakukan dengan cara makan bersama, tujuannya tentu untuk mempererat tali persaudaraan.
Hidangan Khas Imlek
Perayaan apapun akan terasa kurang berkesan jika hidangan khasnya tidak ada. Begitupun dengan Imlek. Tahun Baru China ini biasanya identik dengan makanan khasnya, seperti mie, kue keranjang, kue lapis hingga buah jeruk.
Itu semua seolah sudah menjadi makanan wajib yang harus ada ketika Imlek. Maka tidak afdol rasanya jika hidangan tersebut tidak tersedia di meja terlebih ketika sedang berkumpul bersama keluarga. Makanan tersebut tentu juga memiliki makna dan filosofinya sendiri bagi masyarakat Tionghoa.
Pantang makan bubur
Jika tadi telah disebutkan makanan yang khas dan harus ada ketika Imlek, ternyata ada juga makanan yang harus dihindari, yakni bubur. Hal ini karena bubur dianggap sebagai simbol kemiskinan.
Pagelaran barongsai
Pagelaran barongsai atau tarian singa menjadi hiburan yang paling ditunggu-tunggu ketika Imlek. Tarian yang biasa dimainkan oleh dua orang atau lebih ini dipercaya dapat membawa keberuntungan.
Itulah tadi beberapa mitos dan tradisi yang masih dipegang teguh oleh masyarakat Tionghoa sampai sekarang saat perayaan Imlek. (fyi/ian)






