Banyuwangi (beritajatim.com) – Setiap pagelaran ritual Seblang Olehsari ada kembang dermo yang menjadi primadona warga. Selain Seblang yang menjadi ikon utama dalam ritual ini.
Pasalnya, kembang dermo dinilai syarat makna dan penuh kesakralan. Kembang Dermo konon dipercaya sebagai sebuah media untuk tolak balak, mengusir penyakit, keselamatan maupun keberuntungan.
Bunga ini ditancapkan di sebatang bambu kecil yang terdiri tiga kuntum bunga yang terdiri dari bunga Wongso, bunga sundel, dan pecari kuning.
“Tadi saya tanya apa makna kembang dermo kepada ketua adat, katanya selain sebagai simbol menolak bala. Bunga ini juga dipercaya mengundang jodoh. Untuk itu saya doakan pengunjung hingga saat ini selalu gagal dalam percintaan agar bisa cepat dapat jodoh,” ucap Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat menghadiri acara Seblang Olehsari di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Minggu (30/4/2023).
Tak ayal, saat acara digelar selalu ramai oleh pengunjung yang datang. Tak hanya warga setempat tetapi mengundang berbagai kalangan dari luar desa tersebut.
Cara mendapatkan kembang dermo tersebut cukup mudah. Cukup membayar mahar untuk setiap kembang yang diinginkan. Namun sulitnya mereka harus berebut dengan pengunjung lainnya.
Banyak pengunjung yang berebut membeli kembang tersebut. Salah satunya Thomas Paradito (25), warga Grogol, Jakarta, mengaku membeli Kembang Dermo untuk dirinya sendiri.
“Semoga pulang dari sini saya bisa segera mendapat jodoh,” kata Dito, sambil tertawa.
Prosesi ritual penutupan Seblang Olehsari cukup sakral dan membuat semua penonton ikut larut dalam acara ini. Prosesi penutupan seblang ini diawali seorang pawang dengan membawa penari Seblang ke arena untuk dipasangkan mahkota omproknya.
Selanjutnya para pawang membacakan mantra-mantra sembari diiringi gending Seblang Lukinto, yang dipercaya sebagai sarana roh masuk ke dalam tubuh sang penari.
https://beritajatim.com/peristiwa/seblang-olehsari-tari-mistis-dari-banyuwangi/
Sang penari bukanlah orang sembarangan. Ia harus seorang gadis yang memiliki hubungan darah dengan para penari Seblang sebelumnya. Sang penari Selang kali ini bernama Dwi Putri Ramadani (19).
Pada prosesi terakhir ini, selain menari prosesi juga dilanjutkan dengan dengan Ider Bumi. Penari bersama para pawang, sinden, dan seluruh perangkat keliling desa menuju empat penjuru yang dianggap sebagai tempat bermula Desa Olehsari berdiri, hingga ke makam Mbah Buyut Ketut.
“Dengan melakukan prosesi seblang selama tujuh hari, segala bala dan blai (bencana dan keburukan) telah hilang dari desa kami. Kami percaya Seblang untuk menolak bala dan sebagai tradisi nenek moyang untuk membersihkan desa,” terang Ansori, Ketua Sesepuh Adat Seblang. (rin/ted)






