Ponorogo (beritajatim.com) – Peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), tidak sekadar menjadi seremoni perjalanan sejarah. Selama 3 tahun terakhir, pondok pesantren modern tersebut menggelar hampir 100 kegiatan di berbagai lokasi. Seluruh rangkaian itu dirancang melalui 3 pilar utama, yakni syiar, khidmat, dan legasi.
Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun PMDG, Khairul Umam, mengatakan rangkaian kegiatan telah dimulai sejak 27 September 2023. Momentum tersebut bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1445 Hijriah, yang menjadi penanda 100 tahun Gontor berdasarkan kalender Hijriah. Sejak kick-off hingga menjelang acara puncak, berbagai kegiatan terus dilaksanakan.
“Peringatan 100 tahun Gontor ini, telah kita mulai hampir 2 tahun 11 bulan yang lalu, tepatnya 27 September 2023,” kata Khairul Umam, Senin (14/9/2026).
Khairul menjelaskan, pilar syiar diwujudkan melalui kegiatan yang memperkenalkan sistem pendidikan Gontor kepada masyarakat luas. Bentuknya mencakup olimpiade sains, keilmuan Islam, haflah, hifzil Qur’an, dan tilawah Qur’an.
Sejumlah kegiatan yang semula digelar antarpondok, kemudian berkembang ke tingkat nasional. Marching Band Competition bahkan mendapat penilaian positif dari juri yang biasa bertugas di tingkat internasional.
“Begitu juga ada kegiatan penting di Gontor seperti Marching Band, itu juga kita adakan syiar berupa competition yang tadinya level antar-pondok kita, kemudian berlanjut kepada nasional dan bahkan oleh tamu kita yang hadir, yang beliau ini biasa juri di tingkat internasional, mengatakan yang diadakan di Gontor salah satu acara terbesar di Asia Tenggara yang Marching Band Competition dan menjadi harapan besar itu bisa dilanjutkan,” ungkapnya.
Pilar kedua adalah khidmat, yang diarahkan untuk memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Kegiatan tersebut digelar di berbagai kampus Gontor, baik putra maupun putri. Khairul menyebut khitanan massal, bazar, dan tabligh akbar sebagai beberapa bentuk kegiatan pengabdian. Rangkaian ini menjadi bagian penting dari peringatan satu abad Gontor.
Selain syiar dan khidmat, panitia juga menempatkan legasi sebagai bagian dari refleksi perjalanan pondok. Legasi tersebut diwujudkan dalam bentuk pembangunan fisik maupun pencapaian nonfisik. Salah satu pembangunan yang disebut adalah new BPPM, yang mampu menampung lebih dari 5.000 santri. Pembangunan lain meliputi RS Yasyfin, mini rumah sakit di Gontor 3, dan mini soccer.
Menurut Khairul, pembangunan fisik menjadi salah satu cara untuk mensyukuri perjalanan pondok. Namun, legasi yang ditinggalkan tidak hanya berupa bangunan. Di bidang pendidikan tinggi, Gontor mencatat sejumlah pencapaian yang menjadi bagian dari legasi satu abad.
Universitas Darussalam (Unida) Gontor berhasil mendirikan Fakultas Kedokteran pada 2023. Universitas tersebut juga telah meraih status unggul. Selain itu, Gontor menyiapkan legasi berupa Mushaf Al-Qur’an yang ditulis langsung oleh para ustaz Gontor.
“Termasuk legesi yang nanti akan juga kita saksikan di tanggal 19 September adalah legesi Mushaf Al-Qur’an yang ditulis langsung oleh ustadz kita, Ustadz Gontor,” jelasnya.
Proyek penulisan mushaf tersebut dimulai sejak 2023 dan berlangsung hampir 3 tahun. Khairul mengatakan mushaf telah melalui proses tashih dan sebagian telah dicetak. Karya itu akan disampaikan dalam momentum puncak peringatan 100 tahun pada 19 September mendatang.
Menjelang acara puncak, Gontor juga menggelar Global Islamic Holistic Education Summit di Jakarta. Forum tersebut membawa pesan bahwa sistem pendidikan pesantren modern Gontor sejak awal dirancang secara holistik.
Pendidikan tidak hanya berfokus pada kemampuan kognitif, tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan santri selama 24 jam. Khairul menyebut konsep tersebut menjadi perhatian UNESCO dan sejumlah pakar pendidikan dunia.
“Tak hanya ini sistem pendidikan yang dimaui oleh UNESCO, dimaui oleh banyak pakar di belahan dunia Eropa maupun Amerika, tetapi mayoritas tidak mampu melakukan. Alhamdulillah, Pondok Modern Islam Gontor 100 tahun telah membuktikan mampu melakukan apa yang mereka kenal dengan Holistic Education,” ungkapnya.
Rangkaian berikutnya adalah Festival Kaligrafi Internasional yang digelar di Gontor. Kegiatan ini menjadi bagian dari syiar sekaligus legasi karena kaligrafi telah menjadi kurikulum resmi di Gontor.
Tradisi tersebut melahirkan sejumlah khattat atau penulis kaligrafi yang dikenal di Indonesia. Khairul menyebut Profesor Kiai Haji Dr. Diding Suhandy sebagai salah satu tokoh yang lahir dari tradisi tersebut.
Kini, tradisi kaligrafi Gontor berkembang hingga penulisan mushaf Al-Qur’an oleh guru dan santri sendiri. Menurut Khairul, hal itu sejalan dengan prinsip al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah. Prinsip tersebut bermakna menjaga nilai-nilai lama yang baik sekaligus mengambil pembaruan yang lebih baik.
“Ini merupakan bagaimana yang selalu ditekankan oleh kiai-kiai kita, sebuah prinsip al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah, menjaga nilai-nilai dan terus ingin melakukan perbaikan-perbaikan ke depan,” katanya.
Khairul menambahkan, kegiatan peringatan 100 tahun Gontor tidak terpusat di satu lokasi. Rangkaian acara digelar di Gontor Pusat, pondok cabang putra dan putri, Unida Gontor, serta Jakarta.
Pada 2023, misalnya, panitia mengadakan jalan sehat di Monas yang diikuti sekitar 15.000 peserta. Kegiatan tersebut menjadi salah satu bukti luasnya keterlibatan masyarakat dalam momentum satu abad Gontor. (end/ian)






