Jember (beritajatim.com) – Daging sapi yang terkena penyakit mulut dan kuku (PMK) masih aman untuk dikonsumsi manusia. Saat masuk ke dalam tubuh manusia, virus dalam daging sapi yang terkena PMK itu akan mati dengan sendirinya.
“PMK pada hewan tidak menular pada manusia. Daging dan susunya aman dikonsumsi, masaklah dengan benar. Ini sudah kami sampaikan di media sosial juga. Walaupun ternak itu terindikasi PMK, daging kita potong dan konsumsi, tidak menular pada manusia. Tapi dengan catatan dimasak secara standar,” kata Kepala Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Jember Andi Prastowo, ditulis Selasa (12/7/2022).
“Kenapa (tidak berbahaya bagi manusia)? Karena tidak ada reseptor tempat berkembangnya virus itu. Mudah-mudahan ke depan tidak ada perubahan lagi. Tapi sampai saat ini masih sangat aman untuk manusia,” kata Sekretaris Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Jember, Sugiarto.
Daya simpan semua daging ternak yang sakit rendah, karena lebih berair. “Daya simpan tidak tahan lama. Tapi dari sisi kualitas dan rasa insya Allah tidak ada perubahan,” kata Sugiarto.
Namun Dinas Peternakan menuyarankan agar kepala, kulit, jerohan, ekor, dan kaki bagian bawah sapi yang terkena PMK agar direbus sebelum dikonsumsi. “Kenapa direbus? Bukan karena membahayakan manusianya, tapi kalau dibawa pulang, sepanjang perjalanan, virusnya akan menyebar dan menulari sapi-sapi di sekitarnya,” kata Sugiarto.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pmk-jatim”]
Kendati aman untuk dikonsumsi, Sugiarto menyarankan agar daging yang berubah warna diafkir. “Karena kita tidak tahu secara pasti apa penyebab perubahan warnanya. Bisa jadi kalau daging itu kepanasan terlalu lama, ada potensi hidrogensulfat yang teroksidasi. Biasanya kalau teroksidasi, warna berubah jadi biru, itu ada bakteri pseudomonas. Tapi kalau tidak kepanasan, tapi membiru, ya kemungkinan ada tetanus, Itu berbahaya,” katanya.
Sugiarto menngingatkan, penyebaran virus PMK bisa dikarenakan oleh manusia. “Mereka menonton ternak sapi yang sakit, lalu saat pulang tidak mandi dan ganti baju langsung melihat ternak sapi miliknya sendiri. Ini yang kami sarankan: tidak mendekati kandang milik tetangga,” katanya.
Sekretaris Komisi B DPRD Jember David Handoko Seto berharap Dinas Peternakan menguatkan masyarakat, termasuk konsumen agar tidak takut. [wir/but]






