Ngawi (beritajatim.com) Kasus kematian sapi akibat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) terus meningkat di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Warga Desa Kendal, Kecamatan Kendal, terpaksa menyewa alat berat untuk mengubur sapi-sapi yang mati guna mencegah penyebaran penyakit.
Proses Pemakaman dengan Alat Berat
Rekaman video warga menunjukkan dua ekor sapi mati yang dikuburkan di pekarangan rumah menggunakan alat berat. Keduanya diduga mati mendadak akibat serangan PMK. Sapi tersebut milik Jarwo, seorang warga setempat berusia 50 tahun.
Tidak hanya sapi, empat ekor kambing milik Jarwo juga mati akibat penyakit yang sama. Dalam empat hari terakhir, setidaknya sembilan ekor sapi dan empat kambing di desa tersebut dilaporkan mati mendadak. “Sapi saya mati semua karena PMK, sekarang sapi lainnya juga masih sakit,” ungkap Jarwo.
PMK Menyebar, Warga Panik
Menurut warga lain bernama Iwan, serangan PMK semakin parah. “PMK menyerang jantung sapi, lalu mati mendadak. Kita menggunakan alat berat untuk mengubur hewan-hewan yang mati agar penyakitnya tidak menyebar. Sudah tiga lokasi dilakukan penguburan dengan alat berat,” jelasnya, Kamis (16/01/2025).
Sebagian warga yang panik memilih menjual ternak sapi dan kambing yang sakit dengan harga murah. Upaya ini dilakukan untuk meminimalkan kerugian sebelum ternak mereka mati.
Data Kasus PMK di Ngawi
Berdasarkan data dari Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Ngawi, hingga saat ini tercatat 736 ekor sapi terinfeksi PMK. Dari jumlah tersebut, 101 ekor sapi dilaporkan mati.
Pemerintah dan pihak terkait terus mengimbau warga untuk mengambil langkah preventif dalam menangani PMK agar wabah ini tidak semakin meluas. Penyediaan alat berat untuk pemakaman massal dan langkah pencegahan lainnya sangat diperlukan guna menekan penyebaran penyakit. [fiq/aje]






