Mojokerto (beritajatim.com) – Tarian sufi yang biasanya hanya dipentaskan di komunitas-komunitas dan di acara keagamaan, bisa ditemui di Sanggar Pesantren Roudlotul Qurro’wa Munsyidin. Santri Pondok Pesantren (Ponpes) di Dusun Semanggi, Desa Salen, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto diajarkan tarian sufi.
Tarian sufi menjadi ekstrakulikuler di ponpes asuhan Muhammad Nurul Huda sejak tahun 2018 lalu. Ada sebanyak 49 orang santri yang sudah bisa menari tarian yang diciptakan oleh penyair Persia, Jalaludin Rumi pada 13 abad lalu ini. Setiap Sabtu malam, para santri berlatih tarian dari Turki ini.
“Ponpes ini berdiri tahun 2017, pada milad pesantren ke 2 saya menghadirkan KH Budi Harjoyo yang merupakan guru besar tari sufi Indonesia untuk mengisi acara maulud nabi dan milad pesantren. Karena saya sejak tahun 2000-an adalah penggagum tari sufi,” ungkapnya, Sabtu (4/2/2023).
Dalam acara tersebut, masih kata Gus Huda, Pengasuh Ponpes Al-Islah Tembalang, Semarang tersebut membawakan tarian sufi. Dari acara tersebut para santri Ponpes Roudlotul Qurro’wa Munsyidin tertarik dan ingin belajar tari sufi.
“Kami kemudian mendatangkan guru dari Semarang, dari KH Budi Harjoyo untuk mengajarkan tarian sufi kepada santri. Awal santri yang ikut ada 11 santri. Tari sufi di sini sifatnya ekstrakurikuler jadi tidak wajib semua santri di sini belajar tari sufi,” katanya.
Gus Huda menjelaskan, jika tidak ada pakem terkait kostum tarian sufi yang disebut dengan tenur dengan warna tertentu. Namun di Sanggar Pesantren Semanggi membuat aturan sendiri jika santri yang sudah dewasa memakai tenur berwarna putih.
“Untuk usia anak-anak, saya bebaskan. Tenur yang warna-warni karena di usia itu, masih butuh warna-warni. Untuk santri dewasa, tenur warna putih. Tenur itu ibaratnya kain kafan dan kopyah yang dipakai itu namanya Sikke, ibaratnya batu nisan. Jadi tarian sufi adalah mengingat kematian,” ujarnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”mojokerto”]
Kostum tersebut ada yang dibuat sendiri, namun ada juga mendatangkan dari Salatiga. Hingga saat ini, lanjut Gus Huda, santri di Sanggar Pesantren Semanggi ada sebanyak 49 santri. Puluhan santri tersebut berlatih tarian sufi rutin setiap Sabtu malam.
“Santri di sini kebanyakan dari Mojokerto sendiri. Luar Mojokerto ada dari Blitar, dari Jawa Tengah, dari Blora. Ada satu dari NTB. Untuk usia santri mulai dari usia dini sampai SMA, ada juga yang lulus kuliah juga nyantri di sini. Rata-rata usia SMP, di sini satu-satunya pesantren yang mengajarkan tarian sufi di Mojokerto,” tegasnya. [tin/but]







