Heysel, Belgia, 29 Mei 1985. Kerusuhan pecah. Joe Fagan mendekati tribun pendukung Liverpool di belakang gawang. Ia menangis. Ini pertandingan terakhirnya sebagai manajer Liverpool. “It is my last game as a manager…Please, please, let’s just have a game, let’s enjoy the day.”
Fagan mencopot jas hitamnya dan menunjukkan kaosnya kepada para suporter. Lihat, kita sama. “We are Liverpool, please stop the violence and let us get on with what we’ve all come here for,” katanya.
Namun situasi sudah tak terkendali. Joe syok. Kerusuhan tetap pecah. Hari itu, 39 orang meninggal dunia. Liverpool kalah 0-1 dari Juventus dan gagal merebut Piala Champions untuk kali kelima. Fagan kembali ke Liverpool, dan turun dari pesawat dengan dipapah Roy Evans, salah satu stafnya yang kelak menjadi manajer Liverpool.
Tragedi Heysel dipicu oleh kesalahan manajemen massa dan stadion yang tak layak. Panitia pelaksana dan aparat keamanan tidak mengantisipasi sejumlah hooligans Inggris berideologi politik ultra-kanan ikut menyusup di antara fans Liverpool. Semua lengah, karena selama dua dasawarsa terakhir, fans Liverpool praktis tak pernah terlibat kerusuhan dan dipuji banyak orang sebagai kelompok suporter yang loyal dan sportif.
Ada dugaan para hooligans ini datang untuk membalas dendam terhadap insiden pada final Piala Champions antara Liverpool dan AS Roma, di Stadion Olimpico Roma, setahun sebelumnya. Liverpool mengangkat trofi. Namun saat itu, lebih dari 40 suporternya terluka karena diserang sejumlah geng lokal.
Liverpool sejak awal tidak suka bermain di Heysel. Kondisi stadion berusia 60 tahun itu tak layak. Menurut Komisi Penyelidikan Parlemen Belgia menyebut kondisi stadion itu tak layak digunakan. Kerusakan di sejumlah tribun berdiri terlihat. Selain itu pintu keluar untuk evakuasi juga minim.
Phil Scraton dalam buku Hillsborough: The Truth menulis: ‘The eventual Belgian Parliamentary Commission of Inquiry called the stadium ‘dilapidated’ with ‘columns, crush-barriers and steps’ structurally deteriorated. The terracing in particular was ‘neglected’, with ‘normal maintenance work’ not carried out’.
Tribun fans Liverpool dan Juventus dipisahkan satu tribun yang diisi penonton netral. Namun upaya pemisahan ini percuma saja, karena sebagian besar tiket penonton netral diborong fans Juventus. Saat itu, Federasi Sepak Bola Belgia dianggap bersalah karena tiket untuk penonton netral (warga Belgia) justru jatuh ke tangan suporter Juve. Padahal UEFA, Federasi Sepak Bola Eropa, sudah menentukan jumlah alokasi tiket dan tempat duduk masing-masing untuk fans Liverpool dan Juve.
Bentrok pertama terjadi antara fans Juve dengan polisi. Mereka merusak pagar kawat di tribun dan melempari polisi dengan benda-benda keras. Dua puluh tujuh polisi terluka dalam bentrokan itu.
Bentrokan berikutnya terjadi di tribun penonton netral. Ribuan suporter Juve masuk ke tribun penonton netral. Batu dan cerawat pun beterbangan di antara fans dua klub. Dalam situasi panas itu, sekelompok orang dari tribun yang dikuasai suporter Liverpool merangsek masuk ke tribun penonton netral yang dipenuhi fans Juve. Kepanikan pun terjadi.
[berita-terkait number=”4″ tag=”liverpool”]
Pagar dan dinding sayap stadion yang memang rapuh akhirnya runtuh. Total 39 orang meninggal dunia dan ratusan orang penonton lainnya terluka. Situasi yang terjadi sebelum pertandingan itu ternyata tak menyebabkan partai final batal. Panitia pelaksana tetap menggelar pertandingan yang dimenangi Juventus dengan skor 1-0.
Gara-gara insiden tersebut, seluruh klub Inggris dilarang bermain di level Eropa selama lima tahun. Khusus untuk Liverpool, UEFA melarang klub tersebut mengikuti kompetisi Eropa selama enam tahun. Hari ini plakat hitam dengan logo Liverpool dan Juventus tertempel di salah satu sudut Stadion Anfield, bertuliskan: IN MEMORIA E AMICIZIA – In remembrance of the 30 supporters who lost their lives at the Heysel Stadium, May 29th 1985.
“kami akan selalu mengenang mereka yang kehilangan nyawa di Heysel dan menggunakan momentum ini untuk menunjukkan respek kami. Heysel adalah sebuah tragedi yang tak akan pernah terlupakan, dan hari ini Liverpool Football Club menghormati semua yang terdampak,” kata Susan Black, Direktur Komunikasi Liverpool, pada peringatan Tragedi Heysel 29 Mei 2017. [wir/ted]






