Jember (beritajatim.com) – Para mahasiswa jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, merayakan akhir pekan bersama cita rasa dari 12 negara.
Mereka menggelar Food Festival Gastrodiplomacy Showcase di salah satu ruang kampus FISIP Unej, Sabtu (29/11/2025). Ada makanan dari dua belas negara yang tersaji di meja: dari Rusia, Britania Raya, Malaysia, Italia, India, Swedia, Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Singapura, Prancis, dan Arab Saudi.
Abubakar Eby Hara, dosen pengampu gastrodiplomasi mengatakan, jurusan HI saat ini berfokus pada gastrodoplomasi. Fokus ini membedakan jurusan HI FISIP Unej dengan jurusan di perguruan tinggi lain yang menjadi syarat akreditasi dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Menurut Eby Hara, Food Festival Gastrodiplomacy Showcase menjadi medium praktik bagi mahasiswa HI untuk mempromosikan makanan dari seluruh dunia. “Mahasiswa tidak hanya membuat dan menampilkan makanan, tapi harus tahu sejarahnya,” katanya.
Sebelum acara tersebut, mahasiswa diminta mempresentasikan aspek sejarah makanan-makanan yang akan disajikan. “Pilihan negaranya kami serahkan ke mahasiswa.” kata Eby Hara.
Eby Hara berharap para mahasiswa bisa belajar dari negara-negara yang sudah berhasil di dalam gastropromasi. “Kita belajar bagaimana makanan menjadi kekuatan kita, menjadi soft power yang mempengaruhi dan membuat citra kita baik di negara lain. Jadi orang melihat Indonesia bukan hanya dari aspek budaya yang lain, tapi ada juga makanan,” katanya.
Eby Hara mengatakan, gastrodiplomasi Indonesia masih jauh tertinggal. “Namun ada usaha kita untuk memulai, seperti pada masa Presiden Jokowi ada program Indonesia Spiced Up The World,” katanya.
Food Festival Gastrodiplomacy Showcase saat ini masih diselenggarakan di tingkat jurusan. Eby Hara berharap kelak acara ini menjadi agenda Unej. “Kita usahakan untuk berkoordinasi dengan Humas Unej,” katanya.
Sementara itu, Agus Trihartono, guru besar gastrodiplomasi Unej, mengatakan, gastrodiplomasi adalah tren baru dalam hubungan internasional. “Soft power adalah untuk memenangi hati dan pikiran. Makanan adalah diplomasi paling purba. Tapi dalam studi hubungan internasional ini justru paling kontemporer. Kita mengajari mahasiswa bukan hanya untuk memahami, tapi juga merasakan soft power,” katanya.
Salah satu contoh keberhasilan gastrodiplomasi, menurut Agus, terlihat dari kebahagiaan orang Indonesia makan di restoran Jepang dengan harga mahal. “Sejumlah negara di dunia sudah lama melakukannya, dan kita baru belajar,” katanya.
Agus ingin mahasiswa tak hanya hanya memahami konsep soft power. “Tapi juga merasakan betapa soft power benar-benar hadir dalam kehidupan mereka. Ini pelajaran penting sebetulnya untuk ke depan bahwa Indonesia juga harus bisa memproyeksikan soft power-nya,” katanya.
Korea bisa menjadi contoh keberhasilan diplomasi soft power dari K Pop dan film. “Pendapatan soft power Korea lebih besar daripada pendapatan dua Hyundai dan Samsung. “Ini pelajaran penting, bahwa di masa damai soft power adalah mata uang paling penting di dunia,” kata Agus. [wir]






