Jombang (beritajatim.com) – Ribuan santri yang selama ini menuntut ilmu di Kabupaten Jombang mengajukan pindah memilih pada Pemilu 2024. Mereka tidak pulang ke kampung halaman untuk mencoblos. Namun menggunakan hak pilihnya di TPS (Tempat Pemungutan Suara) di Jombang.
Ketua KPU (Komisi Pemilihan Umum) Jombang Abdul Wadud Burhan Abadi melalui Komisioner KPU Jombang Ayatullah Khumaini menje;askan, Senin (15/1/2024) pukul 23.59 WIB, adalah hari terakhir pelayanan bagi pemilih reguler untuk pindah pilih.
Dari situ diketahui, ada dua ribu lebih orang yang telah mengajukan menggunakan hak pilihnya di Kabupaten Jombang. Mayoritas mereka adalah santri. “Jumlahnya dua ribu hingga dua ribu lima ratus orang. Kita masih melakukan sinkronisasi,” kata Ayatullah, Rabu (17/1/2024).
Untuk itu, lanjutnya, KPU Jombang melakukan koordinasi dan sinkronisasi dengan KPU asal dari pemilih yang mengajukan pindah lokasi memilih itu. Pihaknya belum berani menyuguhkan data secara detal. “Besok baru kita sampaikan datanya. Kisaran dua ribu orang lebih,” ujarnya.
Menurut Ayatullah, Pemilu 2024 ini ada 5 surat suara yang diberikan kepada pemilih di TPS. Masing-masing surat suara Pilpres (Pemilihan Presiden), surat suara pemilihan DPD (Dewan Perwakilan Daerah), surat suara pemilihan DPR (Dewan Perwakilan Rakyat), serta surat suara pemilihan anggota DPRD Provinsi dan surat suara pemilihan DPRD Kabupaten/Kota.
“Pemilih yang mengajukan pindah lokasi memilih, nantinya memiliki hak terbatas dalam mendapatkan surat suara. Untuk pemilih dari luar Jawa Timur, nantinya hanya bisa menggunakan hak pilihnya untuk memilih Capres-Cawapres,” katanya.
Salah satu santri yang mengajukan pindah memilih adalah Amilatul Milah. Dia berasal dari Pondok Pesantren Al Fathimiyah Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. Amilatul sengaja mengajukan pindah pilih agar bisa mecoblos pada Pemilu 14 Februari nanti.
Di pondok tersebut, Amilatul bersama 82 santri lainnya yang memiliki hak pilih dianjurkan untuk mengajukan pindah pilih ke KPU Jombang. Caranya dengan membawa berkas yang dibutuhkan. “Kami ingin turut serta dalam pesta demokrasi nanti. Agar hak pilih saya tetap bisa digunakan. Kalau pulang dulu, ribet,” kara gadis berjilbab asal Sidoarjo ini. [suf]






