Surabaya (beritajatim.com) – Jakarta, kota yang tak pernah tidur, mendapati dirinya terperangkap dalam kegelapan ketika serentetan teroris meluncurkan serangan mengerikan dengan 13 bom yang tersembunyi di seluruh penjuru kota.
Dalam sebuah kisah penuh ketegangan, Badan Intelijen dan agen rahasia mencoba mengungkap dan menghentikan ancaman ini, memfokuskan perhatian pada dua tokoh kunci, Oscar (Chicco Kurniawan) dan William (Ardhito Pramono), yang diduga terlibat dalam rencana mengerikan ini.
Namun, apa yang menjadi tontonan menarik bukan hanya serangan teror itu sendiri, melainkan juga kompleksitas misi tim agen rahasia yang semakin sulit dengan adanya dugaan penyusup di antara mereka.
Di sisi lain, pemimpin kelompok teroris, Arok (Rio Dewanto), terus menebar ketakutan dengan meledakkan bom setiap 8 jam. Solusi yang diajukan oleh Arok pun tak lazim: imbalan miliaran rupiah dalam bentuk bitcoin harus diserahkan atau seluruh warga Jakarta berada dalam bahaya.
Film “13 Bom di Jakarta” menggambarkan drama serangan teroris dengan penuh intensitas. Meskipun menggunakan formula penceritaan yang familiar dalam film aksi, sutradara Angga Dwimas Sasongko mampu memberikan sentuhan segar melalui pengembangan konflik yang mendalam, eksplorasi rencana aksi, dan penggambaran karakter-karakter yang terlibat. Kejutan demi kejutan dilemparkan ke layar, meningkatkan ketegangan cerita secara dramatis.
Sutradara ini dengan jelas terinspirasi oleh film-film aksi Hollywood yang terkenal, dan hal ini tercermin dalam kualitas cerita yang dia sajikan. “13 Bom di Jakarta” berhasil membangun fondasi cerita yang kokoh, memberikan ruang untuk eskalasi aksi yang akan menyita perhatian penonton selama 2 jam 23 menit.
Dalam film yang tayang perdana tanggal 28 Desember 2023 ini, setiap karakter di film ini diperkenalkan dengan baik, dengan cerita mereka masing-masing yang mendalam sehingga penonton dapat merasakan keberadaan dan motivasi mereka dalam alur cerita.
Pencapaian yang menarik adalah kemampuan sutradara untuk meramu ensemble cast yang tidak hanya meyakinkan dalam peran masing-masing tetapi juga menciptakan dinamika hubungan yang menambah kompleksitas konflik dalam film.
Skenario film tidak hanya sekadar mengenai permainan kucing-kucingan, tetapi juga membahas kelicikan, pengkhianatan, dan upaya mengatasi konflik tersebut. Kolaborasi antara Angga Dwimas Sasongko dan penulis skenario Irfan Ramly menghasilkan narasi yang lugas dan menyeluruh.
Dengan film ini, Angga Dwimas Sasongko membuktikan kemampuannya untuk menyajikan film aksi dengan nuansa berbeda. Perhatian terhadap setiap aspek cerita, dikombinasikan dengan kemampuan mengendalikan ritme narasi, membuat film ini menghadirkan ketegangan dan hiburan secara maksimal. Sebuah karya yang patut dicatat dalam dunia perfilman Indonesia. (ian)






