Surabaya (beritajatim.com) – Diskriminasi seharusnya tidak terjadi pada siapapun. Terutama kepada para penyandang disabilitas.
Sayangnya, seorang remaja berkebutuhan khusus di India telah mengalami diskriminasi sosial saat ia dan keluarganya hendak melakukan perjalanan dengan pesawat terbang menuju Heyderabad, India. Remaja itu dilarang terbang akibat kondisinya yang seorang difabel.
Dikutip dari Indiatimes.com, remaja itu ditolak masuk ke pesawat karena tidak menunjukkan perilaku “normal”. Meskipun penumpang lain menawarkan dukungan, seorang anggota staf IndiGo dilaporkan tidak membiarkan bocah itu naik ke pesawat.
Laporan menunjukkan karyawan tersebut juga mengumumkan bocah itu berisiko mengalami tantrum saat pesawat sudah take off. Karyawan itu membandingkan kondisi remaja tersebut dengan penumpang yang mabuk. Insiden itu menjadi viral di media sosial, dan maskapai menerima banyak kritik.
Kejadian itupun viral dan setelah kritik yang diterima oleh maskapai IndiGo karena diduga melakukan diskriminasi terhadap remaja berkebutuhan khusus itu, CEO perusahaan, Ronojoy Dutta telah menyatakan penyesalannya atas insiden yang tidak menguntungkan tersebut.
“Sementara memberikan layanan yang sopan dan penuh kasih kepada pelanggan kami sangat penting bagi kami, staf bandara, sesuai dengan pedoman keselamatan, terpaksa membuat keputusan sulit apakah keributan ini akan berlanjut ke pesawat. Setelah meninjau semua aspek insiden ini, kami sebagai organisasi berpandangan bahwa kami membuat keputusan terbaik dalam keadaan sulit,” bunyi pernyataannya.
Sebagai CEO Ronojoy menjelaskan bahwa selama ini staff maskapai telah disiapkan dan dilatih untuk mendampingi dan melayani para penumpang berkebutuhan khusus dengan sangat hati-hati dan penuh pekaan. Namun Ronojoy menyampaikan bahwa keputusan untuk tidak menerbangkan remaja berkebutuhan khusus itu beserta orang tuanya adalah keputusan yang sulit dan perlu, mengingat begitulah pedoman keselamatannya, karena remaja itu terlihat sangat panik.
“Selama proses check-in dan boarding, niat kami tentu saja untuk membawa keluarga. Namun, di area boarding remaja itu terlihat panik,” jelas Ronojoy lebih lanjut.
Untuk keputusan yang tidak menguntungkan itu, melalui surat pernyataan minta maaf sang CEO, IndiGo Airlines memberikan kompensasi berupa kursi roda elektrik yang diberikan melalui kedua orang tua remaja itu.
Menteri Penerbangan Sipil Jyotiraditya Scindia mengatakan bahwa tindakan yang tepat akan diambil terhadap IndiGo. Mr Scindia juga menekankan pada fakta bahwa tidak ada toleransi untuk perilaku diskriminatif seperti itu oleh staf maskapai. Dia menambahkan bahwa dia akan menyelidiki masalah ini secara pribadi. (adg/beq)






