Jakarta (beritajatim.com) – Rektor Universitas Paramadina Didik J Rachbini menilai rencana impor 105 ribu kendaraan niaga pick-up secara utuh (completely built up/CBU) dari India berpotensi mengancam arah industrialisasi nasional dan melemahkan fondasi industri otomotif dalam negeri.
Pernyataan itu disampaikan Didik sebagai respons atas kebijakan pemerintah yang berencana mendatangkan kendaraan niaga secara impor di tengah dorongan penguatan manufaktur domestik.
“Rencana impor 105 ribu kendaraan niaga pikap secara utuh (CBU) dari India mencerminkan permasalahan kepemimpinan ekonomi dan industrialisasi yang tidak sinkron karena akan melemahkan arah kebijakan industri nasional. Di tengah implementasi kebijakan industrialisasi dan, kebijakan jalan pintas ini berpotensi menjadi langkah deindustrialisasi yang terselubung. Jika terus dilakukan, maka ini menjadi kebijakan instan jangka pendek terlihat praktis, tetapi dalam jangka panjang melemahkan struktur industri nasional,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Menurutnya, kebijakan impor dalam jumlah besar tersebut tidak hanya berdampak pada sektor industri, tetapi juga berisiko menekan indikator makroekonomi nasional.
“Kebijakan ini menimbulkan masalah makroekonomi, karena impor masif ini menekan neraca perdagangan dan sekaligus akan membuat neraca pembayaran tertekan terus negatif. Indonesia sudah mengekspor otomotif ke manca negara dalam jumlah besar, lebih setengah juta unit (518 ribu unit). Kebijakan ini melemahkan strategi ekspor otomotif Indonesia. Negara yang tengah berupaya memperkuat posisi sebagai basis produksi otomotif regional justru berisiko berubah menjadi pasar bagi produsen luar negeri,” tegasnya.
Didik menekankan, selama dua dekade terakhir industri otomotif Indonesia telah berkembang menjadi basis produksi regional sekaligus eksportir global. Masuknya kendaraan impor dalam jumlah besar, menurutnya, berpotensi menurunkan utilisasi pabrik, menekan volume produksi, serta melemahkan daya saing industri yang telah dibangun melalui investasi besar.
“Kebijakan ini menjadi preseden bahwa industri domestik dapat dengan mudah dikorbankan demi solusi cepat, yang pada akhirnya melemahkan fondasi transformasi ekonomi Indonesia. Industri otomotif Indonesia selama dua dekade terakhir telah berkembang menjadi basis produksi regional dan eksportir global. Masuknya impor dalam jumlah besar berpotensi menurunkan utilisasi pabrik, menekan volume produksi, serta melemahkan daya saing industri yang telah dibangun dengan investasi besar,” katanya.
Ia juga menilai kebijakan tersebut bertolak belakang dengan dorongan pemerintah terhadap peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), investasi manufaktur, dan penguatan rantai pasok nasional.
“Ini jelas merupakan kebijakan yang salah dan sekaligus cerminan inkonsistensi dari strategi industrialisasi pemerintah. Negara secara simultan mendorong TKDN, investasi manufaktur, dan penguatan rantai pasok, tetapi melemahkannuya, membuka pintu impor massal kendaraan yang masif. Inkonsistensi kebijakan seperti ini menciptakan ketidakpastian bagi investor dalam dan luar negeri, serta berisiko merusak kredibilitas kebijakan industri jangka panjang,” ujarnya.
Didik menegaskan pemerintah perlu membatalkan rencana impor tersebut dan memastikan kebijakan industri berjalan konsisten dengan agenda hilirisasi serta penguatan produksi domestik.
“Pemerintah mutlak harus membatalkannya. Harus ada arah kbijakan yang konsisten dan strategis dengan menjadikan prioritas produksi domestik melalui pengadaan pemerintah. Dana publik, dan pajak harus digunakan untuk memperkuat industri nasional. Pemerintah mendorong peningkatan investasi kendaraan niaga lokal dan membuat kebijakan industri yang konsisten dengan agenda hilirisasi,” tegasnya. [beq]






