Yogyakarta (beritajatim.com) – Rejowinangun, salah satu kelurahan yang terletak di Kecamatan Kotagede, Kota Yogyakarta berhasil memperdayakan warganya. Sedikitnya, 20 orang warga Kelurahan Rejowinangun RT 24 RW 08 bekerja sebagai pembuat olahan jamu tradisional maupun herbal.
Upaya pemberdayaan dengan mengajak seluruh warga menanam tanaman sendiri di masing-masing pekarangan rumah. Baik itu tanaman tiga maupun sayur-sayuran. Selain bisa dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga sendiri, juga bisa diolah sebagai produk jamu olahan atau dijual dalam bentuk pot.
[berita-terkait number=”4″ tag=”kuliner”]
Selain mendorong warga untuk menanam tanaman toga dan sayur untuk dijual, warga juga mendapat pelatihan untuk membuat produk olahan jamu tradisional. Melalui Kelompok Asuhan Mandiri ‘Joyo Wilogo Bagas Waras’, Kelurahan Rejowinangun RT 24 RW 8 sebagai sentral produk herbal serta jamu tradisional.
Selain perekonomian warga menjadi meningkat, berbagai program kegiatan yang ada di Kelurahan Rejowinangun RT 24 RW 8 banyak dikunjungi sebagai tempat studi. Sejumlah kalangan baik dari pemerintah daerah maupun perguruan tinggi banyak datang belajar di Cluster Herbal Kelurahan Rejowinangun RT 24 RW ini.
Salah satu pengrajin jamu tradisional yakni, Samilah (62). Di pekarangan depan rumah miliknya ditanami tanaman toga seperti kunyit, jahe, serai, lengkuas, jeruk nipis, lidah buaya dan masih banyak lagi serta tanaman sayuran seperti daun kelor, sawi, pepaya gantung dan sambiroto.
“Di lingkungan sini, ada sekitar 20 orang yang membuat jamu. Saya bisa selain dari turun temurun, dari ibu, nenek juga ikut pelatihan sejak tahun 2016. Kebetulan saya juga suka menanam, sebelum bikin jamu, di pekarangan rumah juga sudah saya tanami sayur dan toga. Ada 50 jenis tamanan toga,” ungkapnya.
Masih kata Samilah, bersama warga lainnya yang tergabung dalam Kelompok Asuhan Mandiri ‘Joyo Wilogo Bagas Waras’, ia rutin mengikuti pelatihan dan pembinaan. Ibu dua anak ini menuturkan jika lingkungan Kelurahan Rejowinangun RT 24 RW 08 menjadi Cluster Herbal karena warganya.
“Bikin jamu karena lingkungan, lingkungan sini pengrajin jamu. Di Kelurahan Rejowinangun itu dibagi beberapa kluster. Sini herbal, jualan jamu, orang Jogja wajib bisa bikin jamu. Ada yang bikin jamu segeran kayak saya ini, jamu beras kencur sama kunir asem, ada yang herbal. Kalau ini tidak bisa kirim luar kota,” katanya.
Istri dari Suparman (62) ini menjelaskan, jamu buatannya bisa tahan sampai satu minggu jika langsung masuk lemari pendingin. Namun jika tidak maka hanya dalam 24 jam, warna berubah dan rasa sudah berbeda. Sehingga jamu buatannya banyak di pesan kalangan instansi dan warga sekitar Yogjakarta.
“Saya bikin sendiri sama bapak, kebetulan bapak sudah pensiun. PNS Dinas Pendidikan Kota Jogja tahun 2017, anak saya dua perempuan sudah menikah dan ikut suaminya jadi bikinnya sama bapak. Pelanggan banyak dari instansi, pesan kemudian saya buatkan. Meski di sini ada pelatihan, tapi antara satu orang dengan orang lainnya beda,” ujarnya.
Ini lantaran, sesuai permintaan pelanggan. Samilah mencontohkan, ada yang minta kayu manis lebih banyak dan lainnya. Menurutnya, pandemi Covid-19 banyak permintaan di empon-empon (jenis tumbuhan yang dapat digunakan sebagai jamu tradisional).
“Saya sendiri setiap hari minum jamu, dari campuran kunyit, temulawak, daun kelor direbus. Untuk meningkatkan memperbaiki pencernaan dan meningkatkan imun. Kalau pencernaan baik maka imun juga akan baik,” jelasnya. [tin/ted]








