Surabaya (beritajatim.com) – Umat Hindu di Surabaya, hari ini tengah merayakan Galungan. Mereka menggelar sembahyang bersama di Pura Segara Kenjeran, Rabu (4/1/2022).
Hari Raya Galungan dan Kuningan ini bagi umat Hindu Indonesia adalah bentuk perayaan kemenangan dharma atas adharma. Galungan adalah hari raya yang menandai waktu ketika ruh leluhur mengunjungi Bumi dan ditutup perayaan Kuningan pada hari terakhir.
Sejak pagi, terdengar suara lonceng dan kidungan doa dari pedanda pura dikumandangkan. Satu persatu para pemadek (orang yang akan bersembahyang) diperciki dengan air suci tirta pengiling ketika memasuki tempat sembarangan pura.
Lalu pemadek bersiap melakukan persembahyangan. Diawali dengan menggelar sesajen untuk dihaturkan ke Ida Sang Hyang Widhi dan suasana berlangsung Khidmat.
Upacara tersebut dipimpin Pemangku Pura yang melakukan prosesi Puja Tri Sandya. Lalu, diiringi bunyi lonceng sang pemangku.
Yang menarik bukan hanya umat yang membawa bebanten berisikan sajen. Sejumlah ornamen dipasang, seperti penjor tiang bambu atau penjor dengan hiasan menggunakan daun kelapa terpampang di beberapa sudut pura.

Bahkan tanaman seperti buah-buahan, beras, jagung, kelapa, sampai daun. Namun, tak terlihat adanya atraksi dan pawai yang berbeda untuk merayakan hari raya perayaan keagamaan itu.
Salah satu umat Hindu Surabaya, I Wayan Sardite mengaku senang sekali bisa turut merayakan Galungan. Sebab, pasca PPKM dicabut dan angka pandemi Covid-19, suasana dan ritme sembahyang berangsur normal kembali.
“Sangat senang sekali, karena ada kebebasan untuk merayakan Galungan ini. Kami memperingati kemenangan Dharma melawan Adharma. Jadi, seluruh umat Hindu menyambut dengan gembira,” ungkap I Wayan Sardite usai sembahyang.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Surabaya”]
“Apalagi, setelah pencabutan status PPKM, mulai normal dan ramai lagi. Ya semoga tidak ada pembatasan-pembatasan seperti kemarin-kemarin lagi,” imbuhnya.
Pria yang tinggal di Sedati, Sidoarjo itu menegaskan, suasana dan persiapan Galungan tahun ini serupa dengan sebelum pagebluk melanda. Hanya saja, tak semarak sebelumnya lantaran masih mewaspadai Covid-19.
“Karena kami kan banyak haru raya, Galungan, Kuningan, Nyepi, dan sebagainya. Sebelum pandemi dengan sekarang ya sama, kalau pandemi kan dibatasi dan wajib jaga jarak, tapi sekarang sudah longgar tapi tetap pakai masker dan selalu waspada,” ujarnya.
Hal senada disampaikan umat Hindu lainnya, Laksmi Eka. Menurutnya, suasana Galungan kali ini sudah mulai semarak.
“Kegiatan dan persiapan sama saja (seperti sebelum pandemi), tapi biasanya galungan lebih ramai dibanding kuningan, karena kan openingnya,” tutupnya. [way/beq]






