Jombang (beritajatim.com) – Ratusan warga Tionghoa melakukan ritual Ceng Beng di makam KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Sabtu (24/6/2023) siang. Ritual Ceng Beng atau sembahyang kubur merupakan upacara perwujudan dari sikap masyarakat Tionghoa untuk menghormati leluhurnya.
Selain dari Jombang, ratusan warga Tionghoa itu berasal dari Semarang dan Surabaya. Mereka bersama-sama datang ke makam Presiden ke-4 RI (Republik Indonesia) yang berada di pondok pesantren Tebuireng Jombang.
Barisan paling depan menandu papan arwah dari kayu yang bertuliskan Gus Dur. Barisan kedua dan seterusnya diikuti umat Tionghoa dari sejumlah wilayah. Ritual semakin semarak dengan iringan musik khas Tionghoa.
BACA JUGA:
Libur Akhir Tahun, Makam Gus Dur di Tebuireng Jombang Dipadati Peziarah
“Ritual ini kami lakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap Gus Dur atas jasanya menyatukan keberagaman,” ujar ketua rombongan Harjanto Halim sekaligus Ketua Perkumpulan Tionghoa Boen Hian Tong, Semarang.
Harjanto mengungkapkan, pihaknya sengaja membawa papan arwah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sebelumnya, papa arwah tersebut diletakkan di meja leluhur di Semarang sana. Ritual Ceng Beng sudah dua kali dilakukan.
Namun papan arwah tersebut sudah ada sejak 2014. Saat itu papan arwah diserahkan langsung Hj Sinta Nuriyah, istri Gus Dur. Selanjutnya, tahun ini papan arwah dibawa ke makam Gus Dur. Warga Tionghoa kemudian menempatkan papan arwah yang dibawa dari Semarang di samping makam Gus Dur.

Bukan itu saja. Mereka juga membersihkan sekitar makam Gus Dur dengan sapu. Semuanya berlangsung khidmat. Acara diakhiri dengan doa bersama. Saat doa dipanjatkan, semua warga Tionghoa menyalakan hio dan mengikuti prosesi. Setelah berdoa, seluruh peserta menyanyikan lagu Ya Lal Wathan diiringi musik tradisional Tionghoa dan Indonesia Raya
Menurut Harjanto, selama hidup, Gus Dur menjunjung nilai keberagaman, kemanusiaan, dan demokrasi. Maka tidak heran, Gus Dur mendapat gelar Bapak Tionghoa Indonesia dan guru Bangsa. “Mudah mudahan ini bisa menjadi pengingat kita semua dan bisa menjadi contoh Gus Dur dengan keteladanannya. Sebab sosok Gus Dur adalah yang kami hormati,” jelas pengusaha asal Semarang ini.
Ketua Kelenteng Gudo Jombang Toni Harsono, yang ikut hadir menambahkan, sosok Gus Dur adalah pelindung etnis minoritas di tengah mayoritas. “Acara ini bertujuan mengenalkan Gus Dur pada generasi muda Tionghoa. Kami juga berencana menyelenggarakan Ceng Beng di pusara Gus Dur setiap tahun,” ujar Toni. [suf]






