Sidoarjo (beritajatim.com) – Bagi jamaah Nahdlatul Ulama atau kaum Nahdliyin yang menghadiri acara puncak Resepsi Satu Abad NU di Gelora Delta Sidoarjo 6-7 Pebruari 2023, bisa menyempatkan diri untuk pergi berziarah ke makam-makam auliya yang berada di Sidoarjo.
Karena diantara daftar ulama yang bersemayam di Sidoarjo, merupakan guru dari pendiri organisasi Nahdlatul Ulama. Seperti KH Hasyim Asy’ari, tercatat pernah mengeyam pendidikan di Pondok Pesantren Al Hamdaniyah Siwalanpanji Buduran.
Para jemaah tentunya tidak ada salahnya untuk berkunjung ke pondok Mbah Hasyim tersebut. Pesantren Al Hamdaniyah menjadi pondok pesantren tertua di Jawa Timur dan telah melahirkan banyak ulama besar, salah satunya KH Hasyim Asy’ari.
Masih setia dengan tradisi lama selama hampir 2,5 abad, hingga kini pondok ini tetap eksis dan telah menjadi bagian dari titik simpul perkembangan Islam di Nusantara. “Dari literasi yang saya baca, dan itu sudah masyhur kalau Mbah Yai Hasyim dulu mondoknya di Pondok Pesantren Al Hamdaniyah, atau Pondok Panji Siwalanpanji Buduran,” ucap Ketua PCNU Sidoarjo KH. M Zainal Abidin, Kamis (2/2/2023).
Ada juga wisata religi lainnya dan juga terkenal di kalangan kaum Nahdliyin, yakni makam KH Ali Mas’ud atau yang lebih sering disebut Mbah Ud yang berada di Pagerwojo Buduran. Kemudian ada Makam Aulia Ulama Sono yang berada di Komplek Gupusjat Optronik II Puspalad di Desa Sidokerto, Kecamatan Buduran Sidoarjo.

Berada diatas lahan 3.956 M2, Makam Aulia Sono Buduran menjadi salah satu destinasi wisata religi yang dapat anda kunjungi saat menghadiri Satu Abad NU di Gelora Delta Sidoarjo.
Di komplek Makam Aulia Ulama Sono terdapat lima makam diantaranya pendiri Pondok Pesantren Sono, Buduran KH. Muhayyin, Hj. Asfiyah (Istri KH. Muhayyin), KH. Abu Mansur (putra), KH. Zarkasyi (putra), KH. Said (Cucu/ ayah KH Ali Mas’ud), KH. Maksum (cicit).
Ketokohan kelima ulama sepuh Sidoarjo membuat sejumlah ulama besar seperti KH. Hasyim Ashari Jombang Pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH. Abdul Karim Lirboyo Kediri, KH. Usman Jazuli Ploso Kediri, KH. Wachid Hasyim dan banyak ulama besar lainnya yang menimba ilmu di Pondok Pesantren Sono Buduran.
[berita-terkait number=”4″ tag=”satu-abad-nu”]
Berikut Daftar Wisata Religi yang Dapat Dikunjungi Jamaah 1 Abad NU di Sidoarjo:
1. Pondok KH Hasyim Asyari atau Mbah Hasyim berada di Jl. KH Hamdani No.9, Siwalanpanji, Siwalanpanji, Kec. Buduran, Kabupaten Sidoarjo.
Makam auliya
2. Makam Aulia Ulama Sono berada di komplek Gaspujat Optronik II Puspalad di Desa Sidokerto, Kecamatan Buduran Kab. Sidoarjo.
3. Makam KH Ali Mas’ud atau Mbah Ud terletak di Pagerwojo, Kec. Buduran, Kabupaten Sidoarjo.

4. Makam Mbah Sapu Jagad terletak di Jl. Sapu Jagat No.31, Sidopurno 2, Sidokepung, Kec. Buduran, Kabupaten Sidoarjo.
5. Makam Mbah Jaelani di Jalan Pesarean Mbah Djaelani, Kajeksan, Kec. Tulangan, Kabupaten Sidoarjo.
6. Makam KH. Muhdlor dan Ny. Hj. Syamsiyah berlokasi di Jl. Mbah Muhdlor RT. 15 RW. 4, Desa Lebo, Kecamatan Sidoarjo.
Dari pernikahan KH. Muhdlor dengan Ny. Hj. Syamsiyah lahirlah ulama-ulama berpengaruh di berbagai kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
[berita-terkait number=”3″ tag=”wisata-religi”]
Mbah Muhdlor berasal dari Lasem Rembang. Ia adalah salah satu santri dari Mbah Syekh Shomadiyah, Makam Agung Tuban. Mbah Muhdlor pernah diambil menantu oleh Mbah Shomadiyah namun namun perjalanannya, kedua firaq (pisah).
Setelah itu, beliau menikah lagi dengan Mbah Syamsiyah dan menetap di daerah Sidoarjo. Dari pernikahannya itu mereka dikarunia tiga anak: Mondoliko, Pinang dan Singopuro.
Ketiga nama anak itu kedengarannya memang agak aneh. Nama-nama itu lebih mirip nama tempat. Ternyata ada kisah dibalik penamaan itu. Ketiga nama itu untuk mengingatkan kisah Mbah Muhdlor ketika berangkat haji dan naik kapal laut.
Kapal yang dinaiki pernah terdampar di pulau Mondoliko (wilayah Jepara, Jawa Tengah), Pulau Pinang (Negara Bagian Penang, Malaysia) dan Pulau Singopuro (Singapura).

Dari ketiga anak Mbah Muhdlor inilah lahir banyak generasi ulama yang menyebar di daerah Tuban, Sarang, dan Sidoarjo. Nyai Mondoliko menikah dengan Mbah Ma’ruf bin Shomadiyah dari Makam Agung Tuban, Nyai Pinang menikah dengan Mbah Ghozali bin Lanah Sarang Rembang, dan Mbah Singopuro menetap di Sidoarjo.
Dari pernikahan Mbah Ma’ruf dengan Nyai Mondoliko ini lahir lima putra: Ya’qub, Basyar, Dahlan, Badrul Jamal, dan Shiddiq. Mbah Basyar punya putri Mbah Shofiyah yang melahirkan KH. Ali Mansur muallif Salawat Badar. Mbah Ali Mansur makamnya berada di Maibit Rengel Tuban.
Persebaran keturunan ke daerah Jenu yaitu dari jalur Mbah Badrul Jamal. Mbah Badrul Jamal punya putri Mbah Badi’ah. Kemudian Mbah Badi’ah menikah dengan Mbah Sholeh Mukhtar (Ponpes Mukhtariyah Syafiiyah Jenu Tuban). Mbah Sholeh menurunkan beberapa putra, di antaranya yaitu Mbah Masyithoh (istri KH. Fathurrahman Abu Said, pendiri Ponpes. Manbail Futuh Jenu Tuban).
[berita-terkait number=”3″ tag=”pesantren-tebuireng”]
Untuk jalur ke Sarang yaitu Nyai Pinang menikah dengan Mbah Ghozali bin Lanah (pendiri Pondok Sarang / MIS). Mbah Ghozali punya putri Mbah Saidah (istri KH. Syuaib). Mbah Saidah punya putra Mbah Ahmad bin Syuaib. Mbah Ahmad punya putri Mbah Mahmudah (istri KH. Zubair Dahlan) yang kemudian berputra Mbah KH. Maimoen Zubair.
Kemudian dari Mbah Singopuro lahir beberapa generasi yang menyebar di Sidoarjo, Kyai Singapuro atau kyai Misbah memiliki putra Kyai Dasuki. Dan Kyai Dasuki memiliki putra Kyai Haji Mubin. Dan Kyai Haji Mubin beristeri Hj. Amnah memiliki putra KH. Agoes Ali Masyhuri (Gus Ali)
K.H Agoes Ali Masyhuri (Gus Ali) pendiri dan pengasuh Pesantren Progresif Bumi Shalawat, yang semula di Tulangan dan berkembang pesat pusat pendidikannya di Desa Lebo Kec. Sidoarjo.
KH. Agoes Ali Masyhuri menikah dengan Ny. Hj. Qomariyah Alhafidzah. Dari pernikahannya dikarunia 11 anak.
Yakni:
1. KH. Aria Muhammad Ali
2. H. Syaikhul Islam Ali (anggota DPR RI dari Fraksi PKB periode 2014 -2019 dan 2019-2024)
3. H. Hasan Fuadi Ali
4. Hj. Rabeea Ali
5. Nyai Hj. Manzila Ali
6. H. Ahmad Muhdlor Ali terpilih sebagai Bupati Sidoarjo (2020-2024)
7. Hj. Nurul Haromaini Ali (isteri dari Bupati Gresik H. Fandi Akhmad Yani (2020-2024)
8. H. Ahmad Balya Ali
9. Thoyibah Ali (wafat kecil)
10. Hj. Nihayah Ali
11. H. Shohibul Burhan Ali [isa/suf]






