Sumenep (beritajatim.com) – Wabah penyakit yang menyerang sapi di Desa Prancak, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Madura, menimbulkan kepanikan para pemilik sapi. Apalagi, sudah ada puluhan sapi yang terserang penyakit itu mati.
Salah seorang aparat desa Prancak Naufil Hasbie mengatakan, ada sekitar 40 sapi di desanya yang mati terserang penyakit. Gejala awal yang dialami sapi-sapi tersebut seperti batuk, kemudian keluarnya busa dari mulut, dan hilangnya nafsu makan
“Sapi saya sendiri ikut terserang penyakit itu, dan penularannya cukup cepat. Tidak jarang menyebabkan kematian pada sapi,” katanya, Rabu (01/01/2025).
Karena itu, lanjutnya, para pemilik sapi pun ramai-ramai menjual sapinya dengan harga sangat murah. Sapi yang biasanya seharga Rp 15 juta, dijual murah menjadi Rp 6-7 juta. Sudah ada sekitar 150 sapi yang dijual pemiliknya.
“Para pemilik sapi di Prancak ini khawatir sapi-sapinya terjangkit semua. Mangkanya mereka memilih menjual sapinya meski dengan harga sangat murah. Daripada nanti sapinya kena penyakit dan mati, malah rugi besar. Itu kata pemilik sapi di sini,” ujar Naufil.
Karena itu, ia berharap ada tindak lanjut dari pemerintah daerah untuk wabah penyakit yang menyerang sapi-sapi di Prancak, Pasongsongan.
“Kami berharap pemerintah segera turun tangan memberikan bantuan baik berupa vaksin, pengobatan, maupun pendampingan teknis untuk mengendalikan penyebaran wabah ini,” harapnya.
Sementara Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep, Chainur Rasyid mengatakan, pihaknya menyiagakan 39 petugas yang siap 24 jam untuk memberikan layanan kepada masyarakat yang sapinya terjangkit penyakit.
Ia menjelaskan, sapi yang terserang penyakit biasanya juga kembung atau ‘tympani’ karena konsumsi rumput muda yang tinggi gas. Rumput muda yang tidak dilayukan terlebih dahulu dan langsung diberikan pada sapi, bisa menyebabkan kembung (tympani).
“Karena itu, kami berharap agar para pemilik sapi melayukan rumput muda sebelum diberikan ke sapi untuk menghindari timbulnya kembung,” ujarnya.
Selain itu, Chainur Rasyid juga mengimbau warga selalu menjaga kebersihan kandang sapi dengan menyemprotkan disinfektan secara mandiri untuk mencegah penyebaran penyakit.
“Kami minta masyarakat segera melaporkan ke petugas di masing-masing kecamatan jika sapinya sakit, agar bisa segera ditangani. Jangan menunggu sakitnya parah. Kalau bisa segera ditangani, cukup banyak sapi yang akhirnya sembuh,” ucapnya. (tem/ian)






