Jember (beritajatim.com) – Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) angkatan II di Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang digelar sejak 20 Agustus 2022 berakhir pada 26 Desember 2022. Sebanyak 172 orang peserta dari 41 perguruan tinggi negeri dan swasta dari berbagai kota akhirnya pulang kampung.
Mereka berasal dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan Nusa Tenggara, dilepas Rektor Unej Iwan Taruna di aula lantai 5 Gedung Soedjarwo Unej, Selasa (27/12/2022) sore. “Walau hanya empat bulan, namun Program PMM menorehkan pengalaman tak terlupakan, seperti mottonya: Bertukar sementara, bermakna selamanya,” katanya, sebagaimana dilansir Humas Unej.
Iwan tak berlebihan. Empat bulan program PMM meninggalkan kesan bagi Neta Nia Limbong, mahasiswa Program Studi Ilmu Gizi Universitas Negeri Medan. Dia mahasiswi non muslim yang tinggal di Pondok Pesantren Ulul Azmi, Bondowoso.
[berita-terkait number=”5″ tag=”unej”]
Menjadi minoritas di pesantren itu, Neta berusaha menikmati pengalamannya. “Saya juga turut bangun jam tiga dini hari sebab aturannya memang semua santri harus bangun untuk salat tahajud,” katanya.
Neta merasakan bagaimana diperlakukan seperti anak sendiri oleh ibu kos di lingkungan pondok itu. “Kalau kami tidak masak hari itu, maka tinggal minta makan sama Ibu Kost. Pokoknya semua orang di pesantren baik kepada saya,” katanya.
Rusti Maya, mahasiswi Universitas Sulawesi Barat, terkesan dengan masyarakat Jember, Ia merasa nyaman, sehingga bisa menjalani semua program perkuliahan dengan baik di Fakultas Keperawatan Universitas Jember. “Warga sekitar kampus menerima kami dengan baik. Banyak pengalaman menarik selama di Jember, tapi yang pasti mengikuti Program PMM membuat saya memiliki banyak kawan baru dari seluruh Indonesia,” katanya.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, sebanyak 12 ribu mahasiswa mengikuti PMM angkatan II. Mereka adalah hasil seleksi lebih dari 12 ribu orang mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. “Saya berharap program PMM mampu membentuk intelektual muda yang berbhineka tunggal ika,” kata Iwan.
Program PMM memang bertujuan meningkatkan wawasan kebangsaan, cinta tanah air, serta memiliki pemahaman tentang kebinekaan dan toleransi. Menurut Iwan, para mahasiswa tak boleh lupa jika Indonesia dibangun berdasarkan kemajemukan, dan sepakat merdeka dengan kondisi beragam suku, agama, budaya dan adat istiadat. Keberadaan program PMM menjadi wahana pengembangan karakter bagi generasi muda Indonesia.
Salah satu dosen pembimbing Modul Nusantara pada Program PMM angkatan II, Eko Suwargono menjelaskan, ada dua program besar yang dijalankan. “Pertama, Program Kebhinekaan, mahasiswa dari beragam budaya diperkenalkan dengan budaya lokal sembari merefleksikan kearifan lokal yang ada. Seperti diajak tinggal di pondok pesantren, mengikuti kegiatan di sanggar seni budaya dan lainnya. Kedua, para mahasiswa diajak membuat program sosial yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat,” katanya. [wir]






