Jakarta (beritajatim.com) – Ketua DPR RI Puan Maharani menegaskan bahwa keterlibatan strategis Indonesia dalam Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) untuk Gaza harus tetap teguh pada prinsip politik luar negeri bebas aktif. Penegasan tersebut disampaikan dalam Rapat Paripurna Penutupan Masa Persidangan III Tahun Sidang 2025-2026 di Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Puan mendesak pemerintah agar mengoptimalkan posisi Indonesia di kancah internasional untuk memberikan kontribusi nyata bagi krisis kemanusiaan di Palestina. Hal ini mencakup peran ganda Indonesia sebagai Presiden Dewan HAM PBB serta anggota dewan yang mengawal rehabilitasi pascakonflik di Gaza.
“Pemerintah harus dapat mengoptimalkan posisi strategis Indonesia sebagai Presiden Dewan HAM PBB maupun dalam Dewan Perdamaian (Board of Peace) untuk berkontribusi nyata terhadap penyelesaian krisis kemanusiaan di Gaza serta mendorong terwujudnya kemerdekaan Palestina,” kata Puan.
Menurut Puan, kepemimpinan Indonesia dalam lembaga dunia tersebut harus senantiasa menjunjung tinggi prinsip sovereign equality atau kesetaraan kedaulatan negara. Fondasi ini dinilai krusial agar diplomasi yang dijalankan pemerintah tidak hanya bersifat simbolis, tetapi memiliki dampak kebijakan yang konkret.
Langkah diplomatik ini disebut sebagai implementasi langsung dari Piagam PBB dan amanat luhur dalam Pembukaan UUD 1945. Indonesia memiliki kewajiban sejarah untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berlandaskan pada kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
“Prinsip ini memastikan bahwa diplomasi Indonesia bukan sekadar simbolik, melainkan berdiri teguh pada kedaulatan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap hukum internasional,” ujar Puan.
Lebih lanjut, Puan menyoroti dinamika internasional di awal tahun 2026 yang diwarnai peningkatan ketegangan konflik bersenjata dan perang dagang. Kondisi tersebut telah mengganggu stabilitas rantai pasok global dan memicu perlambatan ekonomi yang dirasakan banyak negara, termasuk Indonesia.
Ia mengingatkan bahwa dalam sistem dunia yang saling bergantung, tidak ada satu pun negara yang benar-benar bisa berdiri aman sendirian. Kerja sama antarnegara melalui diplomasi yang berorientasi pada solusi damai menjadi satu-satunya jalan untuk mencapai stabilitas global.
“Dalam dunia yang saling bergantung, tidak ada bangsa yang dapat berdiri dan aman sendirian, stabilitas global hanya dapat dicapai melalui kerja sama. Karena itu, dinamika global hari ini, menuntut diplomasi yang lebih efektif dan berorientasi pada solusi yang damai,” pungkas Puan. [hen/beq]






