Gresik (beritajatim.com) – Progres pembangunan PT Freeport Indonesia (PTFI) di kawasan Java Integrated Industrial Port and Estate (JIIPE) Manyar Gresik mencapai 80 persen, terhitung hingga Oktober 2023 ini.
Presdir PTFI Tony Wenas menuturkan, dirinya optimis pembangunan smelter di Gresik Jawa Timur sesuai schedule. Dimana, pada Mei 2024 akan beroperasi. “Hadirnya smelter di JIIPE Gresik merupakan fasilitas yang kedua dimiliki PTFI, setelah smelter pertama dibangun pada 1996 dan dikelola oleh PT Smelting yang juga berlokasi di Gresik,” tuturnya, Kamis (26/10/2023).
Ia menambahkan, pada Desember 2024 smelter tersebut sudah full capacity production. Artinya, produk-produk yang diolah PTFI bakal naik level sehingga bisa berkontribusi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
“Kalau smelter baru sudah tercapai, berarti 100 persen dari produk PT Freeport Indonesia itu akan betul-betul murni menjadi metal. Yaitu, tembaganya menjadi katoda tembaga, emasnya menjadi emas batangan, peraknya menjadi perak batangan,” imbuhnya.
Sementara itu, VP Government Relation Jakarta and Smelter Technical Support PTFI, Harry Pancasakti, mengatakan, perusahaan berharap mulai Januari 2024 hingga Mei 2024 menyelesaikan kegiatan pre-commissioning dan commissioning smelter Gresik.
BACA JUGA:
Proyek Pembangunan Freeport Indonesia di Gresik Optimis Sesuai Target
Sementara pada Juni 2024, baru akan memulai tahap operasi smelter Gresik. Harry menilai, tahap operasi ini cukup menantang karena desain baru, menjadikan smelter ini memiliki single line terbesar di dunia. “Begitu startup di Juni 2024 operasinya dimulai, kita baru akan bisa mulai produksi konsentrat dimurnikan menjadi katoda tembaga itu pada Agustus 2024,” ungkapnya.
Harry menuturkan, smelter Gresik ini akan menjadi smelter tembaga dengan single line terbesar di dunia dengan kapasitas 1,7 juta ton per tahun. Selain tantangan pada penyelesaiannya, operasionalnya juga dinilai akan menantang.
“Penyelesaian smelter di Gresik merupakan perjalanan panjang dengan total investasi sekitar USD 3 miliar, atau sebesar Rp 45 triliun. Dia berharap smelter ini bisa menjadi pondasi kuat untuk mencapai target Indonesia Emas di tahun 2045,” katanya.
BACA JUGA:
Smelter Freeport Indonesia di Gresik Dukung Industri Hilir
Harry menggambarkan, produksi 600 ribu ton alias 600 juta kilogram ini bisa digunakan untuk memproduksi 30 juta baterai kendaraan listrik, di mana 1 unit baterai membutuhkan 20 kg katoda tembaga. Di sisi lain, kata dia, seluruh kegiatan hilirisasi tembaga yang dilakukan PTFI memiliki nilai tambah 100 persen, yakni pengolahan bijih tembaga menjadi konsentrat bernilai tambah 95 persen, 5 persen sisanya pemurnian menjadi katoda tembaga di smelter Gresik.
Selain menjadi perusahaan smelter terbesar di dunia. Pekerjaan proyek PTFI di Gresik itu juga menyerap ribuan pekerja. Total ada 23.738 tenaga kerja. Rinciannya, 5.766 asal Gresik. Selanjutnya, 7.565 pekerja berbagai daerah asal Jawa Timur (bukan termasuk Gresik). Kemudian 10.029 pekerja dari berbagai daerah se-Indonesia, dan 378 orang ekspatriat. [dny/suf]






