Surabaya (beritajatim.com) – Program makan bergizi gratis (MBG) yang telah berjalan selama dua bulan mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Dalam diskusi bertema “Peran Stakeholder dan Media Dalam Mendukung Program Makan Bergizi Gratis” di Surabaya,
Kamis (27/2/2025), terungkap bahwa program ini bukan hanya bertujuan mengatasi gizi buruk dan stunting, tetapi juga memiliki dampak luas pada kesejahteraan ekonomi masyarakat.
Kepala Seksi Kesehatan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan Jawa Timur, Cici Swi Antika, menjelaskan bahwa program MBG memiliki 10 keunggulan, di antaranya:
* Mendukung ketahanan pangan
* Membangun sustainable ecosystem
* Memberikan pelatihan untuk peningkatan kapasitas
* Menciptakan lapangan kerja
* Meningkatkan pendapatan
* Membuka peluang investasi untuk hilirisasi
“Bukan semata-mata memberi makan bergizi,” tegasnya.
Tantangan terbesar program ini adalah mengatasi kekurangan gizi, kekurangan zat gizi mikro, dan obesitas. Selain itu, program ini juga bertujuan menurunkan angka kematian ibu melahirkan (AKI) dan kematian bayi (AKB), serta menekan angka stunting.
Data dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur menunjukkan bahwa angka stunting terus mengalami penurunan. Rata-rata prevalensi stunting Januari-November 2024 di Jatim adalah 5,96 persen, turun 0,08 persen dari Januari-Juni 2024.
“Tujuan utama dari program MBG ini untuk meningkatkan pemenuhan gizi, memperbaiki prestasi, meningkatkan kesejahteraan ekonomi, dan menciptakan lapangan kerja atau memberantas kemiskinan,” jelas Cici.
Program MBG mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk PT Frisian Flag Indonesia dan Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat (PKGM FKM) Universitas Indonesia.
PT Frisian Flag Indonesia telah menginisiasi program edukasi dan makanan bergizi sejak tahun 2013 melalui Gerakan Nusantara, yang telah menjangkau 2,5 juta anak. Mereka juga melakukan uji coba MBG di 10 sekolah di Cikarang, Bekasi.
PKGM FKM Universitas Indonesia menekankan pentingnya konsumsi susu untuk anak-anak, dan mendukung program MBG yang dilengkapi dengan susu.
“Makanan seimbang nggak boleh berlebihan dan ga boleh kurang. Salah satu _concern_ kami bahwa anak-anak membutuhkan protein berkualitas, karena dalam masa pertumbuhan. Beda dengan orang dewasa,” ujar Prof. Dr. drg Sandra Fikawati MPH.
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur, Lutfil Hakim, menekankan pentingnya peran media sebagai salah satu stakeholder dalam program MBG. Ia meminta media untuk memberikan koreksi dan edukasi, serta memahami seluruh proses edukasi hingga memberikan kritik yang konstruktif.
“Yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar skill menulis dan mengkritik, tapi harus paham aturan, regulasi, maupun mekanismenya,” tutupnya.[rea]






