Surabaya (beritajatim.com) – Pergerakan sedimen dasar laut oleh gerakan gelombang dan arus yang tidak teratur bisa memengaruhi pondasi bangunan dan sarana prasarana yang dibangun di pesisir pantai.
Dari hal tersebut, salah satu profesor dari Departemen Teknik Kelautan, Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Prof Suntoyo berhasil mengembangkan rumus untuk menentukan pergerakan sedimen di dasar laut.
Suntoyo menjelaskan, pergerakan gelombang dan arus laut yang berubah-ubah menyebabkan pergeseran sedimen atau tanah pada dasar laut. Jika tidak dilakukan penanggulangan dengan baik, hal ini akan berdampak pada perencanaan pembangunan pondasi bangunan laut yang kurang kuat.
“Oleh sebab itu, perlu dilakukan pengembangan untuk rumus tegangan geser dasar dan transportasi sedimen,” ungkap Suntoyo, Jumat (14/10/2022).
Secara teori, lanjut dia, terdapat 4 jenis gelombang yang ada di laut, yakni gelombang non-linier, gelombang tidak simetris, gelombang irregular, serta gelombang dan arus. Dengan mengombinasikan 4 jenis gelombang dengan rumus tegangan geser dasar, Suntoyo berhasil mendapatkan nilai yang akurat untuk menghitung pergeseran sedimen.
Adapun inovasi pengembangan rumus tersebut antara lain formula tegangan geser dasar gelombang non-linier, formula tegangan geser dasar gelombang tidak simetris, formula tegangan geser dasar gelombang irregular, dan formula tegangan geser dasar kombinasi gelombang dengan arus.
“Saya yakin pengembangan formula ini mampu mendapatkan hasil yang lebih akurat daripada penelitian terdahulu,” paparnya.
Dirinya menegaskan, pengembangan rumus ini berguna untuk pengelolaan wilayah pesisir pantai serta perencanaan pembangunan di laut seperti bangunan dermaga. Melalui formula-formula tersebut, maka dapat diketahui gerakan sedimen pada dasar laut. Sehingga pembangunan tersebut mampu dilakukan secara efisien serta menekan biaya yang tinggi.
[berita-terkait number=”4″ tag=”its”]
Pengembangan rumus ini juga digunakan sebagai metode penanggulangan gerusan sedimen untuk pemasangan pipa atau kabel di dasar laut. Suntoyo mengungkapkan, apabila terjadi penggerusan sedimen, maka bagian pipa atau kabel tersebut akan lebih cepat rusak.
“Dengan perhitungan dan rumus yang akurat, maka tidak akan terjadi pipa atau kabel yang rusak akibat pergeseran sedimen,” tandasnya.
Lebih lanjut, Suntoyo menambahkan, pengembangan rumus tersebut pernah dipublikasikan pada jurnal penelitian tentang transportasi sedimen pada tahun 2008. Ia mengaku, telah banyak pakar kelautan internasional seperti dari Australia, Belanda, Italia, Jepang, dan Spanyol yang terbantu melalui penelitiannya. Ia berharap melalui ketekunan dan inovasinya di bidang kelautan dapat berkontribusi menyelesaikan persoalan kelautan bagi bangsa. [ipl/but]







