Malang (beritajatim.com) – Kekhawatiran bahwa Kecerdasan Artifisial (AI) akan menggeser banyak pekerjaan di sektor teknologi informasi (TI) semakin menguat. Menanggapi isu ini, Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB), Ir. Tri Astoto Kurniawan, S.T., M.T., Ph.D., IPM., memberikan pandangan mendalam bahwa meski beberapa peran terdisrupsi, peran manusia dengan sentuhan kebijaksanaan justru menjadi semakin vital.
Ir. Tri Astoto Kurniawan mengakui bahwa peran seperti programmer atau modding memang mengalami penurunan kebutuhan karena prosesnya kini dapat diakselerasi oleh AI. Namun, ia menegaskan bahwa ini bukanlah akhir dari karir di dunia komputer.
“Memang benar, peran programmer yang tiga tahun lalu sangat tinggi kebutuhannya, kini terdisrupsi. AI mempercepat proses coding. Tetapi, saya ingin menyampaikan bahwa masih banyak peran di dunia komputer yang betul-betul membutuhkan sentuhan manusia,” ujarnya saat ditemui pada ORDIK Pascasarjana Tahun Akademik 2025-2026 di Auditorium FILKOM UB, Selasa (19/8/2025).
Menurut Dekan, transformasi digital pada hakikatnya tidak hanya berbicara tentang teknologi, tetapi bertumpu pada manusia (human). Ia mencontohkan peran seorang analis perangkat lunak (software analyst) yang tugasnya tidak bisa digantikan oleh AI.
“Bayangkan kita mau membuat aplikasi untuk rumah sakit. Tidak semua orang di rumah sakit, dari direktur hingga staf, mampu menjelaskan secara teknis aplikasi seperti apa yang mereka butuhkan,” paparnya.
Di sinilah peran analis perangkat lunak menjadi krusial. Seorang analis harus mampu menggali kebutuhan, memahami alur kerja, dan menerjemahkan keinginan pengguna menjadi sebuah desain sistem yang efektif.
“Proses menggali kebutuhan ini membutuhkan wisdom (kebijaksanaan) yang hanya dimiliki manusia. AI bisa memberikan rekomendasi dan alternatif, tetapi keputusan akhir yang mempertimbangkan kebijakan, budaya kerja, dan kebutuhan non-teknis lainnya tetap membutuhkan manusia,” tegas Ir. Tri Astoto.
Menanggapi perbandingan dengan maraknya pemutusan hubungan kerja di sektor TI Amerika Serikat, Dekan FILKOM UB menilai bahwa konteks pembangunan di Indonesia sangat berbeda dan justru menciptakan peluang unik.
“Tantangan pembangunan kita berbeda dengan di Amerika. Tingkat pendidikan kita dan sebaran masyarakat di pedesaan menuntut pendekatan yang lebih humanis,” jelasnya.
Menurutnya, lulusan ilmu komputer di Indonesia memiliki peran strategis sebagai jembatan (bridging) teknologi bagi masyarakat, terutama di pedesaan. Mereka dibutuhkan untuk membantu mengangkat potensi desa agar bisa bersaing di tingkat global melalui pemanfaatan teknologi informasi.
“Potensi desa-desa di Indonesia ini luar biasa dan perlu diangkat ke panggung internasional. Caranya? Melalui teknologi. Tapi siapa yang akan mendampingi masyarakat desa? AI tidak bisa. Di sinilah peran SDM unggul bidang TI sangat dibutuhkan, sejalan dengan visi pembangunan Indonesia yang dimulai dari desa,” katanya.
Meski optimis dengan prospek lulusan, Ir. Tri Astoto Kurniawan juga secara transparan mengakui adanya tantangan internal, yaitu rendahnya partisipasi alumni dalam tracer study. Hal ini menyulitkan pihak fakultas untuk memetakan secara akurat sebaran dan serapan lulusan di dunia kerja.
“Kami kehilangan jejak alumni kami ada di mana saja. Ini tantangan bagi kami untuk membangun kerangka kerja agar alumni lebih responsif memberikan data, sehingga kami bisa mendapatkan gambaran yang akurat,” tutupnya. [dan/aje]






