Ringkasan Berita:
- Panitia Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) menyiapkan posko kesehatan di sejumlah rest area jalur menuju Jombang untuk melayani peserta yang datang dari berbagai daerah.
- Layanan kesehatan akan diperkuat dengan tenaga medis serta dukungan RSUD Jombang, RSUD Ploso, Dinas Kesehatan, dan rumah sakit Arsinu.
- Panitia memastikan peserta yang membutuhkan penanganan medis akan mendapat pelayanan terlebih dahulu, sementara mekanisme pembiayaan dan klaim akan dikoordinasikan dengan pihak terkait.
Jombang (beritajatim.com) – Panitia Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) menyiapkan layanan kesehatan terpadu untuk mendukung kelancaran kedatangan peserta menuju Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Salah satu persiapan yang dilakukan adalah mendirikan sekitar 10 posko kesehatan di sejumlah rest area ruas tol Trans Jawa yang menjadi jalur menuju lokasi muktamar.
Posko kesehatan tersebut akan ditempatkan di jalur kedatangan peserta dari berbagai wilayah Indonesia. Rinciannya, sejumlah posko kesehatan dipetakan berada di rest area jalur Semarang-Jombang, sementara enam hingga beberapa titik lainnya disiapkan dari arah timur menuju Jombang.
Koordinator Bidang Kesehatan Panitia Muktamar ke-35 NU, Dr. dr. HM Zulfikar As’ad, MMR mengatakan pelayanan kesehatan tidak hanya difokuskan di area utama kegiatan, tetapi juga diperluas hingga titik perjalanan peserta.
“Area Muktamar sudah siap. Kami didukung RSUD Jombang, RSUD Ploso, Dinas Kesehatan, serta rumah sakit-rumah sakit Arsinu (Asosiasi Rumah Sakit Nahdlatul Ulama),” ucap Zulfikar As’ad atau yang akrab disapa Gus Ufik, Rabu (12/8/2026).
Menurut Gus Ufik, perluasan layanan kesehatan dilakukan untuk mengantisipasi kebutuhan medis peserta sejak perjalanan menuju Jombang. Selain lokasi muktamar, titik pelayanan juga mencakup bandara, stasiun, serta rest area yang menjadi jalur masuk peserta.
Langkah tersebut dilakukan mengingat peserta Muktamar ke-35 NU diperkirakan datang dari berbagai daerah di Indonesia. Panitia pun melakukan koordinasi dengan lembaga kesehatan NU di tingkat wilayah maupun cabang guna memperkuat pelayanan kesehatan sepanjang jalur kedatangan.
“Masukan dari SC dan OC, kami juga mempersiapkan mulai dari kedatangan di bandara, stasiun, dan beberapa rest area yang mengarah ke Jombang,” ujar alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (FK UGM) ini.

Gus Ufik menjelaskan, sekitar 10 titik pos kesehatan tersebut masih dalam tahap pemetaan dan koordinasi akhir. Penempatan masing-masing pos akan disesuaikan dengan kesiapan tenaga medis, lembaga kesehatan, serta fasilitas pendukung di setiap wilayah. “Namun, jumlah dan penempatan final masih dalam tahap koordinasi,” katanya melanjutkan.
Setiap pos kesehatan nantinya akan didukung tenaga medis dan tim pendukung. Panitia juga menggandeng lembaga kesehatan NU di sejumlah wilayah, terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur, untuk memastikan kesiapan pelayanan.
“Kita masih godok dengan kesiapan kita, kemudian koordinasi dengan lembaga-lembaga kesehatan di cabang dan wilayah. Mereka sudah siap membantu dan mendukung. Tinggal kita koordinasikan titik mana, siapa, LK mana, rumah sakit mana,” ungkapnya.
Selain jalur darat, pelayanan kesehatan juga akan tersedia di Bandara Internasional Juanda sebagai salah satu akses masuk peserta dari luar daerah. Panitia berupaya memastikan seluruh peserta mendapatkan akses layanan medis selama rangkaian kegiatan muktamar berlangsung.
Dalam aspek pembiayaan, panitia telah melakukan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten Jombang. Dukungan dari pemerintah pusat dan daerah diharapkan dapat memperkuat skema pembiayaan layanan kesehatan bagi seluruh peserta.
“Yang kita layani adalah seluruh muktamirin dari berbagai daerah. Kalau klaim hanya dari daerah Jombang atau Jawa Timur, tentu kita akan melihat jumlah peserta dari berbagai daerah tersebut. Insyaallah dari kementerian maupun provinsi akan mendukung kegiatan kita ini,” ungkap Gus Ufik.
Ia menegaskan, peserta yang membutuhkan layanan medis tidak akan dibebani persoalan biaya pada tahap awal penanganan. Prioritas utama adalah memberikan pertolongan terlebih dahulu, sementara proses klaim akan diselesaikan melalui koordinasi dengan pihak terkait. [suf]






