Ponorogo (beritajatim.com) – Penanaman pohon secara massal bakal dilakukan di Kabupaten Ponorogo di pengujung 2023 nanti. Penanaman pohon yang akan melibatkan semua unsur ini diinisiasi oleh Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko.
Langkah ini diambil sebagai upaya Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Ponorogo untuk mengembalikan fungsi lahan hutan yang terancam.
“Ini tidak disiapkan anggarannya. Ini namanya kerja sama pergerakan, karena melibatkan semua unsur,” kata Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko, Senin (11/12/2023).
Dengan melibatkan semua unsur, Bupati Sugiri tentu melibatkan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk mendukung program ini. Sebagai contoh, Dinas Pendidikan (Dindik) akan mewajibkan setiap siswa menanam 3 pohon. Dengan begitu, harapan melibatkan berbagai instansi lain seperti Kemenag, Polres, TNI, dan unsur masyarakat lainnya.
“Misalnya 1 siswa SD menanam 3 pohon, dan itu dilakukan serentak tingkat TK, SD, SMP dan SMA. Dengan begitu, nantinya bakal ada 3 juta pohon baru yang ditanam dan harus kita rawat bersama,” ungkap Kang Giri sapaan akrabnya.
BACA JUGA: Pemkab Ponorogo Terus Proaktif Daftarkan Reog ke UNESCO
Melibatkan siswa atau generasi muda dalam penanaman pohon ini, kata Sugiri tidak hanya tentang reboisasi saja, tetapi juga tentang memberikan pengetahuan kepada pelajar tentang pentingnya fungsi hutan. Yakni dengan mencakup menjaga konservasi tanah, mencegah longsor, banjir, dan juga berkontribusi dalam upaya global untuk mengurangi pemanasan global.
“Ini merupakan upaya untuk mentransfer pengetahuan kepada para pelajar tentang betapa pentingnya hutan. Kita itu butuh oksigen, butuh resapan air maka harus menanam pohon,” tegasnya.
BACA JUGA: Warga Ponorogo Sukses Ubah Jajanan Jadul Mi Lidi Jadi Kekinian Laris Manis di Pasaran
Menanggapi lokasi reboisasi, Bupati menyebutkan bahwa target utama adalah daerah hutan yang sudah gundul. Sugiri juga berharap agar Perhutani dan pemerintah desa (Pemdes) turut berperan dalam mendata lahan yang memerlukan reboisasi. Penanaman pohon ini, diharapkan bisa menjadi kebiasaan untuk generasi muda. Dengan begitu, akan berdampal positif untuk alam.
“Kita harapkan ini menjadi kebiasaan, sehingga pemahaman akan pentingnya hutan dapat terbentuk, memberikan dampak positif bagi ekosistem,” pungkasnya. [end/beq]






