Surabaya (beritajatim.com) – Diduga cabul kepada muridnya, anggota unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya menangkap oknum guru sebuah MI di wilayah Tambaksari berinisial AR (38).
Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Mirzal Maulana menjelaskan jika AR ditetapkan sebagai tersangka usai penyidik unit PPA memeriksa 7 saksi. “Kami tetapkan AR sebagai tersangka dan sudah kami tangkap,” ujar Mirzal, Jumat (24/02/2023).
Mirzal mengatakan jika pihaknya masih terus melakukan penyelidikan terhadap kasus ini. “Untuk motif dan yang lainnya akan kami sampaikan. Saat ini kami sedang lakukan penyelidikan,” tambahnya.
Sebelumnya diberitakan beritajatim.com, seorang guru di sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Tambaksari Surabaya dilaporkan ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya usai diduga melakukan pencabulan kepada 3 muridnya. Dari informasi yang dihimpun Beritajatim.com, oknum guru berinisial AR (32) tersebut telah dipecat oleh pihak sekolah pada Rabu (15/02/2023). Keputusan pemecatan AR setelah sejumlah wali murid datang dan memprotes pihak sekolah.
[berita-terkait number=”5″ tag=”cabul”]
Kepala MI, AH mengatakan, aksi bejat AR terungkap usai salah satu korban bercerita kepada orang tuanya bahwa mereka mendapat pelajaran untuk merasakan sayuran berupa timun, wortel, dan terong dengan mata tertutup hasduk yang digunakan oleh para murid.
Sebelum pelajaran merasakan sayuran tersebut dilakukan, AR akan mengundi muridnya dengan memakai Stipo (penghapus cair) yang diestafetkan ke seluruh murid. Ia lantas akan mengatakan kata ‘stop’ tanda pemegang stipo terakhir harus merasakan pelajaran merasakan berbagai sayuran tersebut.
“Anak-anak diajak ke sebuah ruangan, bukan gudang. Biasanya dibuat sholat Dhuha dan makan guru-guru. Lalu tangan siswa diikat dan matanya ditutup sambil merasakan buah dan sayur apa yang dimasukan ke mulut mereka,” ujar AH saat dikonfirmasi awak media.
Namun, salah satu korban sempat melihat jika AR membetulkan celana usai diminta merasakan sayuran dan melapor ke orang tuanya. Orang tua siswi kelas 5 tersebut lantas menduga anaknya dilecehkan.
Orang tua siswi yang mendapatkan laporan dari putrinya langsung melaporkan kejadian tersebut ke sekolah. AH yang menerima laporan tersebut langsung memanggil AR. Saat itu, AR sempat berkelit. Namun, ketika dirinya menggebrak meja dan marah, AR hanya mengucapkan kata maaf.
“Saya marah, saya gebrak meja. Akhirnya pak AR cuma bisa nunduk terbata-bata minta maaf, matanya berkaca-kaca, saya tidak menyangka juga karena orangnya baik. Habis jam 12 siang selesai ngajar dia ga langsung pulang tapi mengajar les ke rumah murid-murid dekat sini juga. Keseharian juga sering shalat Dhuha, apalagi dia orang Sedayu Gresik kan terkenal kalangan santri,” tutur AH. (ang/kun)






