Surabaya (beritajatim.com) – Politisi Partai Gerindra, Yona Bagus Widyatmoko, mengkritik keras usulan tumpang tindih lahan makam yang diajukan oleh Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi. Menurutnya, kebijakan tersebut bukan solusi yang tepat dalam mengatasi keterbatasan lahan pemakaman di kota Surabaya.
“Ada banyak lahan tidur yang bisa dimanfaatkan. Pemkot Surabaya harus lebih bijak dalam mengoptimalkan aset yang ada,” ujar Yona di DPRD Surabaya, Selasa (18/3/2025).
Saat ini, menurut data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, terdapat 13 lahan makam dan satu krematorium yang dikelola pemerintah kota. Selain itu, terdapat 535 lahan makam di perkampungan yang bisa dijadikan alternatif. Namun, Yona menilai bahwa usulan tumpang tindih yang diajukan wali kota tidak menyelesaikan akar permasalahan keterbatasan lahan makam.
“Tumpang tindih tidak bisa menjadi solusi jangka panjang, apalagi jika berkaitan dengan tanah pemakaman yang sangat sensitif. Kalau tumpang tindih masih keluarga bisa lah ya, kalau bukan? Bagaimana?” tanyanya.
Sebagai alternatif, Yona menyarankan pemanfaatan lahan tidur di Kota Surabaya. Berdasarkan data, terdapat 9,5 juta meter persegi lahan tidur atau bekas Tanah Kas Desa (BTKD) yang tersebar di berbagai titik di kota. Ia menilai, lahan ini bisa dioptimalkan untuk kebutuhan pemakaman tanpa harus mengambil langkah kontroversial seperti tumpang tindih.
“Mengapa harus mengandalkan solusi sementara yang berisiko, ketika ada banyak lahan tidur yang tidak dimanfaatkan? Ini adalah peluang yang harus dimaksimalkan untuk kepentingan warga Surabaya,” tambahnya.
Selain itu, Yona juga menyoroti aspek ekonomi dalam kebijakan pemakaman. Menurutnya, masalah pemakaman di lahan padat penduduk sering kali kurang diperhatikan oleh pemerintah karena tidak berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Pemakaman adalah hak setiap warga negara. Semua orang akan meninggal, dan seharusnya Pemkot memberi perhatian yang lebih serius terhadap fasilitas ini,” katanya.
Ia juga mengusulkan agar pengelolaan Tempat Pemakaman Umum (TPU) di luar Babat Jerawat dan Keputih lebih ditata dengan baik, termasuk mensterilkan area dari gelandangan atau pengemis agar lingkungan TPU lebih aman dan nyaman bagi peziarah.
“Hal ini penting agar lingkungan TPU menjadi lebih aman dan nyaman bagi para peziarah. Dengan penataan yang baik, pemakaman di lahan padat penduduk pun bisa berjalan dengan lancar,” jelasnya.
Dengan mempertimbangkan potensi lahan tidur serta peningkatan tata kelola TPU yang ada, Yona berharap Pemkot Surabaya dapat merumuskan solusi yang lebih komprehensif daripada hanya mengandalkan usulan tumpang tindih yang dinilai tidak tepat.
“Kita harus berpikir jangka panjang dan memberikan solusi yang bermanfaat bagi semua pihak, terutama keluarga yang membutuhkan tempat pemakaman,” pungkasnya. [asg/beq]






