Jember (beritajatim.com) – Rencana Bupati Hendy Siswanto menjadikan kawasan kampus Tegalboto, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember, Jawa Timur sebagai zona edukasi dan wisata pendidikan memanen dukungan parlemen.
Alfian Andri Wijaya, juru bicara Fraksi Gerakan Indonesia Berkarya DPRD Kabupaten Jember, mengatakan, rencana itu akan membuat perputaran ekonomi dinikmati bukan hanya kampus dan sekolah, melainkan juga masyarakat sekitarnya.
“Itu juga akan menjadi daya tarik tersendiri untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi, dalam kaitan pajak dan retribusi daerah,” katanya, dalam sidang paripurna pengesahan Peraturan Daerah tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, di DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur, Senin (23/10/2023) malam.
Fraksi GIB percaya rencana itu pada akhirnya berdampak terhadap peningkatan pendapatan asli daerah Kabupaten Jember. “Semoga usaha dan ikhtiar ini menjadi jalan terbaik dan bisa diwujudkan sebaik-baiknya untuk kepentingan rakyat dan pembangunan Kabupaten Jember di masa yang akan datang,” katanya.
Selain itu, Fraksi GIB juga menyambut niat dan itikad baik Hendy yang menerapkan uji coba sistem satu arah (SSA) dan rencana penataan pedagang kaki lima di sepanjang jalan di kawasan kampus Tegalboto. “Tujuan salah satunya adalah untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi masyarakat,” kata Alfian.
Menurut Alfian, apabila pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya di kawasan kampus, bagus, maka otomatis akan mampu meningkatkan pendapatan asli daerah dari sektor pajak dan retribusi daerah. “Oleh sebab itu, dalam kaitan retribusi ini, Pemkab Jember harus mempertimbangkan tentang retribusi parkir di tepi jalan umum dengan sematang-matangnya,” kataya.
“Jangan sampai, dengan upaya meningkatkan pendapatan ini, justru rakyat dikorbankan karena adanya dobel pungutan atas layanan parkir di tepi jalan umum. Pemkab Jember harus benar-benar cermat mengurus teknis pemungutan retribusi parkir ini,” kata Alfian.
Dukungan juga meluncur dari Fraksi Partai Nasdem melalui juru bicara Hamim. “Kami memberikan dukungan penuh, karena ada tujuan baik di dalamnya. Dukungan kami mempersyaratkan agar penerapan SSA tidak hanya bersifat uji coba setengah-setengah, tetapi 24 jam penuh harus menjadi komitmen bersama untuk bisa dilaksanakan,” katanya.
Nasdem meminta penataan ini disosalisasikan dengan baik kepada masyarakat. “Kami minta dukungan Universitas Negeri Jember dalam rangka menyukseskan program tersebut. Namun, sekali lagi yang menjadi elemen penting di seputaran lingkar empat ruas jalan daerah kampus tersebut adalah pedagang kaki lima yang sampai saat ini berkontribusi menimbulkan kemacetan di ruas jalan tersebut,” kata Hamim.
“Kami melihat belum ada goodwill dari Pemkab Jember untuk memberikan solusi kreatif kepada para PKL. Hal ini juga yang mengakibatkan Jember sulit memperoleh kembali penghargaan Adipura dan Wahana Tata Nugraha. Sudah tiga kali pergantian bupati, namun urusan PKL di Jember belum kunjung selesai,” kata Hamim.
Kawasan edukasi ini meliputi empat ruas jalan, yakni Jalan Kalimantan, Jalan Mastrip, Jalan Riau, dan Jalan Jawa yang melewati kampus Universitas Jember, Politeknik Jember, Universitas PGRI Argopuro, SMA Negeri 2, dan SMP Negeri 3.
“Saya tawarkan kampus jadi wilayah zona edukasi, wisata pendidikan. Kalau kampus jadi daerah wisata pendidikan, yang menikmati ekonomi bukan hanya kampus dan sekolah, tapi juga masyarakat sekitar,” kata Hendy.
Hendy terilhami kawasan di kota Utah, Amerika Serikat. “Kami tinggal beberapa bulan di Utah. Di sana, wilayah pendidikan. Semua merata. Kampus di situ kondisinya tidak tertutup, tapi terbuka. Kampus dimasuki semua orang,” katanya. [wir]






