Politik Pemerintahan

Dari FGD Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah

Seni Tradisional di Jombang Krisis Regenerasi

Pelaku seni mocopat asal Kecamatan Mojoagung saat melakukan presentasi di acara FGD, Kamis (19/12/2019).

Jombang (beritajatim.com) – Seni tradisional di Jombang tak lagi diminati oleh generasi muda. Dari tahun ke tahun, peminat seni tradisional semakin berkurang. Hanya golongan tua yang masih bergelut di ranah tersebut. Tentu saja, terjadi krisis regenerasi di wilayah kesenian itu.

Setidaknya hal itulah yang terungkap dalam Focus Group Discussion (FGD) Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah Kabupaten Jombang, Kamis (19/12/2019), di aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) setempat. Seni tradisional yang didera krisis regenarasi di antaranya ludruk dam mocopatan.

Mocopatan adalah seni melagukan atau menembangkan syair mocopat yang dilakukan oleh sejumlah orang secara bergiliran. “Dari 306 desa/keluarahan di Jombang hanya empat desa yang memiliki kelompok mocopat. Ini sungguh memperihatinkan,” kata pelaku seni mocopat, Sukadi, asal Kecamatan Mojoagung dalam FGD.

Sudah begitu, pada masing-masing kelompok, anggota paling muda berusia 50 tahun. Tak ada wajah muda yang aktif dalam kelompok seni mocopat. Jika kondisi itu dibiarkan, lanjutnya, tidak menutup kemungkinan seni mocopat akan tergerus zaman. “Padahal ini budaya yang harus kita lestarikan,” katanya.

Hal senada dilontarkan Didik Purwanto pimpinan Ludruk Budhi Wijaya Jombang. Didik juga membeberkan tentang sulitnya melakukan regenerasi di kesenian tersebut. Oleh sebab itu, baik Sukadi maupun Didik berharap Disdikbud Jombang memasukkan seni tradisional tersebut dalam kegiatan ekstra kurikuler (ekskul) di sekolah. Dengan begitu, generasi muda mengenal seni tradisional.

“Itu permasalahan yang kita hadapi, yakni regenerasi. Makanya, saya mengusulkan adanya ekskul seni tradisional di sekolah-sekolah,” kata Didik dalam paparannya.

FGD yang digelar Disdikbud Jombang ini merupakan kelanjutan pembahasan penyusunan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah. Draft tersebut sebelumnya telah disusun oleh Tim Penyusun Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah Kabupaten Jombang. Nah, dengan FGD tersebut diharapkan ada masukan dari masyarakat tentang budaya di Jombang.

Oleh sebab itu, selain tim penyusun, FGD juga melibatkan sejumlah komponen seperti pemerhati kebudayaan, pelaku seni, juru pelihara beberapa situs cagar budaya, praktisi pendidikan, serta para pemangku kebijakan di tingkat desa.

Ketua Tim Penyusun Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah, Nasrul Illahi, menjelaskan, pihaknya sudah menyusun draft PPKD (Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah) Kabupaten Jombang. Agar lebih akurat, para peserta FGD diminta mencermati isi draft tersebut. “Harapannya, hal-hal yang belum masuk bisa diusulkan untuk dimasukkan,” ujar budayawan Jombang ini.

Dalam acara tersebut, para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai bidang. Di antaranya, Manuskrip, Tradisi Lisan, Adat Istiadat, Ritus, Pengetahuan Tradisional, Teknologi Tradisional, Seni, Bahasa, Permainan Rakyat, Olahraga Tradisional, serta Cagar Budaya.

Masing-masing kelompok mengidentifikasi dan memasukkan temuannya. Selain itu juga menganalisa permasalahan serta rekomendasi ke depannya seperti apa. Perwakilan kelompok lantas mempresentasikan hasil diskusinya di depan forum.

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Jombang, Sugeng menambahkan, hasil FGD ini disusun menjadi dokumen kebudayaan daerah yang kemudian disahkan oleh Bupati Jombang. “Setelah itu kita kirim ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim). Pemprov Jatim kemudian menyampaikan PPKD ini ke pemerintah pusat,” pungkas Sugeng. [suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar