Politik Pemerintahan

22 Tahun Gerakan Reformasi di Jombang (1-Bersambung)

Reformasi 98: Peran Besar dari Sebuah Kota Kecil

Demontrasi ribuan mahasiswa Jombang di gedung DPRD setempat pada 21 Mei 1998. [Foto/Fathor Rohman untuk beritajatim.com]

Jombang (beritajatim.com) – Suatu hari di bulai Mei 1998. Kampus Undar (Universitas Darul Ulum) Jombang sedang riuh. Mahasiswa memenuhi kampus yang berada di Jl Merdeka (sekarang Jl KH Abdurrahman Wahid/Gus Dur) itu. Mereka mengenakan jaket almamater warna kuning.

Pekik hidup rakyat, hidup mahasiswa, sahut menyahut membakar semangat ribuan mahasiswa yang sedang menggelar mimbar bebas. Semua itu semakin klop dengan hadirnya spanduk raksasa warna kuning dengan cat hitam bertuliskan ‘Kampus Rakyat Untuk Reformasi’. Pada bagian bawah juga ada tulisan Supersemar (Suara Keprihatinan Serikat Mahasiswa dan Rakyat). Spanduk itu menggantung di balkon kampus.

Supersemar adalah nama aksi gerakan reformasi di kampus tersebut. Tulisannya yang berukuran besar bisa terbaca dengan jelas dari jarak beberapa meter. Di bawah spanduk itu mahasiswa berkumpul. Mereka satu tekat mengusung tuntutan reformasi total. Mendesak agar Presiden Soeharto turun dari jabatannya.

Fathor Rohman muncul dari kerumunan massa. Dia bercelana jins, tubuhnya berbalut ‘yellow jacket’. Sedangkan kepalanya diikat potongan kain warna putih. Tangan kanan mahasiswa kelahiran Madura ini memegang megaphone. Lewat megaphone itu pula, mahasiswa Fisipol (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) angkatan 1992 ini menyemangati massa aksi yang jumlahnya semakin bertambah.

Itulah hari-hari penuh semangat, memasuki Mei 1998. Demonstrasi menumbangkan orde baru bukan hanya terjadi di kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Namun juga menjalar ke sekujur negeri, termasuk di Jombang, Jawa Timur.

Mahasiswa Undar menggelar mimbar bebas di kampusnya saat Mei 1998. [Foto/Fathor Rohman untuk beritajatim.com]
Meski gerakan reformasi itu sudah berlangsung 22 tahun lalu, namun kepingan-kepingan peristiwanya masih basah di benak Rohman. Maklum saja, saat demonstrasi 21 Mei 1998, pria yang kini tinggal di Blega, Bangkalan ini didapuk sebagai korlap (koordinator lapangan). Rohman lah yang memimpin ribuan mahasiswa mengepung gedung DPRD Jombang.

Rohman berkisah, memasuki Mei 1998, aksi ‘pemanasan’ sudah dilakukan di Undar. Mahasiswa membikin panggung untuk mimbar bebas. Di depan balkon kampus, mahasiswa membikin panggung mini terbuat dari meja yang ditata sedemikian rupa. Mereka juga mendirikan tenda. Setiap hari, mahasiswa melakukan orasi. Untuk mencairkan suasana, mereka juga mengisi panggung mimbar bebas tersebut dengan pentas musik bernada kritik.

“Kami melakukan orasi secara bergantian. Mahasiswa menuntut reformasi total. Menutut Presiden Soeharto mundur dari jabatannya. Semakin hari jumlah mahasiswa yang ikut aksi semakin banyak. Mereka dari semua fakultas. Bahkan ada dari kampus lain seperti Ikaha (sekarang Unhasy/Universitas Hasyim Asyari) juga ikut bergabung,” ujar Rohman, Kamis (21/5/2020).

Puncaknya pada 21 Mei 1998. Mahasiswa tidak betah lagi hanya melakukan orasi di dalam kampus. Mereka sepakat turun ke jalan, melakukan aksi untuk menumbangkan tirani. Namun beberapa hari sebelumnya, simpul-simpul mahasiswa terus melakukan kordinasi. Termasuk membahas nama gerakan dan siapa yang menjadi korlap, serta menyiapkan perangkat aksi.

Aksi reformasi total tersebut melibatkan seluruh elemen, baik organisasi intra maupun ekstra kampus. Di antaranya, FKSMF (Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Fakultas), SMPT (Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi) se-Jombang, PMII (Pegerakan Mahasiswa Islam Indonesia), HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), Formajo (Forum Mahasiswa Jombang), MaK (Masyarakat Anti Kekerasan), serta Aliansi Masyarakat Jombang.

Sedangkan sejumlah nama yang masuk dalam perangkat aksi di antaranya Nyohan Cacuk, Muslimin, korlap pendamping Ikhlas, seksi keamanan aksi Toni Corenx, Catur. Kemudian orator yang cukup mampu mendinamiskan massa adalah M Rifki dan Zakiya atau Yayak. Sementara masing-masing ketua senat fakultas menjadi jubir (juru bicara).

Ada juga kejadian yang cukup menyita perhatian. Selama aksi penurunan Soeharto berlangsung, mahasiswa juga menggelar mogok makan. Aksi ini dikomandani Farid Yapono, mahasiswa fakultas psikologi.

“Semua terlibat. Semua bergandeng tangan dalam aksi Mei 1998. Termasuk Purek (pembantu rektor), dosen, serta karyawan Undar, ikut aksi. Bahkan Bu Nyai Mustain, memimpin istighasah saat kawan-kawan menggelar doa bersama karena ada aktivis dari Jakarta dan Yogyakarta yang tertembak,” ungkap Rohman.

Letusan Senjata Laras Panjang

Mahasiswa Undar turun ke jalan menuntut Presiden Soeharto mundur dari jabatannya pada 21 Mei 1998. [Foto/Fathor Rohman untuk beritajatim.com]

Hari yang ditunggu pun tiba. Aksi 21 Mei benar-benar pecah. Sejak pagi ribuan mahasiswa sudah menyemut di kampus Undar. Mereka kemudian melakukan longmarch menuju gedung gedung DPRD Jombang yang berjarak sekitar 2 kilometer. Namun represifnya aparat menjadi kendala.

Baru 200 meter meninggalkan kampus, barisan demonstran ini dihadang aparat bersenjata lengkap. Mahasiswa tetap ngotot melanjutkan aksinya. Tentu saja, aksi saling dorong tak terhindarkan. Di tengah ketegangan itu terdengar senjata laras panjang menyalak ke udara beberapa kali.

Rohman kaget. Senapan laras panjang itu meletus di dekatnya. Suaranya sangat memekakkan telinga. Aparat meminta mahasiswa mundur dan kembali ke kampus. Namun mahasiswa tidak patah arang. Bagi Rohman, layar yang sudah terkembang pantang untuk disurutkan. Mahasiswa tetap meminta longmarch ke gedung dewan. Aparat bersukukuh agar mahasiswa kembali ke kampus. Negosiasi pun dilakukan.

Akhirnya dicapai kesepakatan; mahasiswa tetap melanjutkan aksi, dengan catatan tidak berujung pada kericuhan dan penjarahan. Rohman kemudian ditandu oleh temannya yang bernama Ihklas. Itu dilakukan untuk memudahkan korlap mendinamiskan massa. Juga agar seruan dari korlap bisa didengar oleh seluruh massa aksi yang jumlahnya ribuan.

Barikade aparat di Jl Merdeka Jombang menghadang demonstrasi mahasiswa pada Mei 1998. [Foto/Fathor Rohman untuk beritajatim.com]
Jumlah massa yang bergabung bertambah banyak. Bukan hanya dari kalangan mahasiswa, warga sekitar juga ikut bergabung. “Laporan media massa saat itu, demonstrasi di Jombang diikuti 17 ribu orang. Makanya saya sampai ditandu ketika memberi aba-aba. Semua komando ada di ujung jari saya,” ujar Rohman.

Longmarch dilanjutkan, lautan manusia bergerak seperti air bah menuju gedung dewan. Sepanjang perjalanan yel-yel ‘turunkan Soeharto’ terdengar bersahutan. Yel-yel ‘hidup mahasiswa dan hidup rakyat’ juga terus diteriakkan guna membakar semangat. Tepat di bundaran Ringin Contong, massa aksi berhenti. Di titik nol kilometer kota Jombang itu mahasiswa melakukan orasi secara bergantian.

Menduduki Gedung Dewan

Mahasiswa Undar saat menduduki gedung DPRD Jombang, 21 Mei 1998. [Foto/Fathor Rohman]

Matahari seperti memanggang kepala, namun hal itu justru menjadi penyemangat bagi mahasiswa. Setelah puas berorasi di bundaran Ringin Contong, mahasiswa yang tergabung dalam ‘Supersemar’ melanjutkan longmarch menuju gedung DPRD Jombang yang berada di Jl KH Wahid Hasyim.

Agar tidak disusupi provokator, mahasiswa ‘memagari’ barisannya menggunakan tali rafia. Karena menurut Rohman, sempat terjadi kericuhan selepas perempatan stadion Jombang. Yakni, ada massa aksi yang nekat melemparkan batu ke deretan toko di Jl Merdeka. Oknum tersebut mengenakan topi dan wajahnya ditutupi sapu tangan.

Karuan saja, oknum tersebut langsung diamankan. Belakang diketahui bahwa dia bukanlah mahasiswa Undar. Ada dugaan, orang itu sengaja disusupkan untuk mengacaukan aksi mahasiswa. “Nah, agar kejadian serupa tidak terulang, massa aksi kita pagari menggunakan tali rafia,” kata Rohman mengenang.

Gelombang massa yang melakukan longmrach akhirnya sampai di gedung dewan. Lagi-lagi, aparat bersenjata lengkap melakukan penjagaan sangat ketat. Walhasil, seluruh massa yang mengikuti aksi berhasil memasuki halaman gedung wakil rakyat tersebut. Spanduk bernada tuntutan kembali dibentangkan. Orasi menuntut reformasi total kembali disuarakan.

Saat mahasiswa melakukan orasi itulah kabar gembira datang dari layar kaca. Di istana negara, Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya. Kabar itu merembet dari telinga satu ke telinga lainnya. Mahasiswa Undar yang sedang menduduki gedung dewan girang bukan kepalang. Tuntutan mereka dikabulkan. Soeharto jatuh dari tampuk kekuasaan.

“Gerakan reformasi di Jombang berlangsung damai. Tak ada kericuhan, tak ada penjarahan. Bahkan tidak ada satu pun pot bunga di trotoar yang pecah akibat aksi mahasiswa. Ini peran besar mahasiswa dari sebuah kota kecil bernama Jombang,” kata Rohman menutup kisahnya. [suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar