Surabaya (beritajatim.com) – Bakal calon presiden dari Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP), Anies Baswedan dan NasDem ketika memilih Muhaimin Iskandar (Cak Imin) merupakan langkah politik yang strategis.
“Memilih PKB dan Cak Imin untuk berpasangan dengan Anies, merupakan langkah politik yang sangat tepat. Kita tahu kekurangan Anies adalah insentif elektoral dari kalangan Nahdliyin. Dan, suara Nahdliyin di Jawa, yakni Jatim dan Jateng sangat signifikan untuk disumbangkan ke pasangan Anies-Muhaimin (Amin),” kata Dr Umar Sholahudin., M.Sosio, Dosen Sosiologi Politik dan Wakil Dekan Bidang Akademik FISIP UWK Surabaya ini kepada beritajatim.com, Selasa (19/9/2023).
Menurut Umar, suara Nahdliyin baik di Jateng dan Jatim cukup signifikan dan solid. “Nah, apalagi sekarang ada kader Nahdliyin sekaligus Ketua Umum PKB jadi bacawapres. Soliditas struktural PKB dan masa kultural NU akan semakin solid dukung paslon Amin ini. Pengalaman Pilpres 2019 ketika PKB dukung Jokowi, kontribusinya juga cukup signifikan. Artinya, suara Nahdliyin bisa memberikan dan meningkatkan insentif elektoral kepada paslon ini,” tegasnya.
Baca Juga: Pengamat: Elektabilitas Anies – Cak Imin di Jawa Timur Terus Meningkat
Karena itu, pengamat politik yang juga aktivis anti korupsi ini berpendapat, paslon Amin harus mampu menjaga soliditas kaum Nahdliyin di Jatim dan Jateng. Mulai dari atas sampai bawah. Paslon Amin diharapkan sering turba ke masyarakat untuk menjadi soliditas sampai hari pencoblosan 14 Februari 2024.
“Hadirnya Cak Imin melengkapi celah lemah yang dimiliki Anies. Anies lebih merepresentasikan pemilih terpelajar dan perkotaan, sementara Cak Imin merepresentasikan pemilih tradisional atau pedesaan. Sehingga, hadirnya cak Imin akan meningkatkan insentif elektoral buat Anies,” pungkasnya dengan menambahkan secara struktural dan kultural, kader PKB dan NU akan all out memenangkan kadernya sendiri. (tok/ted)






