Politik Pemerintahan

Mendur Bersaudara: Bersenjatakan Kamera Mewujudkan Kemerdekaan RI di Mata Dunia

Surabaya (beritajatim.com) – Bulan Agustus merupakan bulan yang patut dirayakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Pada tanggal 17 Agustus 1945, Republik Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan untuk pertama kalinya dalam sejarah. Peristiwa tersebut tentu menjadi peristiwa membahagiakan dan membanggakan bagi bangsa Indonesia yang sebelumnya telah terjajah ratusan tahun lamanya. Jika dihitung, maka pada Agustus tahun ini Republik Indonesia akan merayakan Dirgahayunya yang ke-75.

Biasanya, para pengguna media sosial maupun media-media resmi di Indonesia akan menampilkan foto peristiwa proklamasi untuk mengenang perjuangan para pahlawan. Namun tahukah Anda siapa yang mengabadikan momen proklamasi pada saat itu?

Mereka adalah Mendur bersaudara. Mereka merupakan fotografer yang berasal dari Manado, Sulawesi Utara. Kakak beradik tersebut memiliki nama lengkap Alexius “Impurung” Mendur dan Frans “Soemarto” Mendur. Dua bersaudara tersebut sama-sama merantau di usia muda ke Batavia (Jakarta). Selama masa pemerintahan Jepang, Alex dan Frans pernah bekerja sebagai pewarta foto di beberapa kantor berita antara lain Domei, Asia Raya, dan Djawa Shimbun Sha.

Tanggal 16 Agustus 1945 golongan pemuda telah santer mendengar bahwa proklamasi akan segera dilakukan mengingat terjadinya kekosongan kekuasaan saat itu. Bahkan barisan Pelopor (pendukung Soekarno) telah diperintahkan untuk mengamankan lapangan Ikada (saat ini Monas) sebagai bentuk persiapan acara. Pada tahun saat itu, Alex bekerja di Kantor Berita Domei sedangkan Frans di Harian Asia Raya.

Frans menerima informasi yang sama dari rekan wartawan Jepang dari Djawa Shimbun Sya. Berdasar informasi yang ia peroleh, proklamasi akan dilakukan di kediaman Ir. Soekarno, yakni Jl. Pegangsaan Timur No. 56, Cikini, Jakarta Pusat. Meskipun keraguan akan informasi tersebut sangat mereka rasakan, Frans dan Alex memutuskan untuk tetap berangkat ke lokasi dengan menempuh rute yang berbeda. Mereka berangkat bukan karena adanya perintah atasan, namun karena adanya inisisatif dari dalam diri mereka sendiri yang ingin menjadi saksi sejarah negaranya.

Sekitar pukul 05.00 pagi, Alex dan Frans berhasil memasuki daerah kediaman bung Karno dengan mengendap-endap untuk menghindari patroli tentara Jepang. Karena mereka berangkat tanpa persiapan yang matang, Frans hanya membawa sebuah kamera Leica dan satu rol film sebagai senjata.

Mendur bersaudara menunggu kehadiran para tokoh nasional bersama masyarakat sekitar yang juga antusias menantikan apa yang terjadi selanjutnya. Pada saat itulah, Alex dan Frans menyadari bahwa hanya mereka fotografer dan wartawan yang tengah berada di lokasi tersebut.

Berdasarkan artikel yang dimuat di Harian Merdeka pada Februari 1946, Frans menuturkan peristiwa yang terjadi selanjutnya. ”Gemuruh sorakan ‘Hidup’ dan ‘Indonesia Merdeka Sekarang’ memecah telinga ketika jam menunjukkan pukul 9.50 pada saat mana Dwitunggal Bung Karno/Hatta dengan diiringi tokoh-tokoh lainnya keluar dari ruangan perundingan menuju ke ruang depan tempat upacara, dimana telah tersedia alat pengeras suara.”

”Pecahlah bisul perayaan yang tertekan selama ini, bagai halilintar menderu terdengarlah seruan ‘MERDEKA – MERDEKA’ – terus menerus dan dengan tertib berhenti ketika mendengar aba-aba dari Dr Muwardi ‘Bersi…… ap! Semua hadirin tegak, menanti pengumuman selanjutnya.”

Tak lama kemudian, proklamasi berhasil dikumandangkan oleh Ir. Soekarno untuk yang pertama kalinya. Pada saat berlangsungnya proklamasi tersebut Alex dan Frans secara diam-diam memotret sebanyak dan sebaik mungkin untuk mengabadikan sejarah yang diidam-idamkan oleh seluruh rakyat Indonesia. Akan tetapi, kebahagiaan yang dirasakan tidak bertahan lama, dua bersaudara tersebut segera diburu dan digeledah oleh tentara Jepang. Tentara Jepang berusaha merampas segala hal yang berkaitan dengan kejadian kemerdekaan yang baru saja terjadi, termasuk foto bukti yang susah payah mereka dapatkan.

Berdasarkan cerita dari beberapa artikel yang beredar, rol film milik Alex tidak berhasil diselamatkan karena “dihancurkan” tentara Jepang. Di lain tempat, Frans juga digeledah namun ia memiliki nasib yang berbeda. Frans sempat menyelamatkan rol film yang dimilikinya dengan cara menguburnya di bawah pohon sekitar halaman Kantor Asia Raya. Saat tentara Jepang menggeledahnya, Frans berdalih bahwa rol film miliknya telah dirampas oleh barisan pelopor. Kebohongan yang dicetuskan Frans ini menyelamatkan keduanya dari hukuman pemerintah Jepang kala itu.

Setelah kondisi dirasa aman, Frans secara nekat memutuskan untuk kembali mengambil rol film yang telah dikuburnya. Rol film yang berhasil ia selamatkan kemudian ia cetak secara diam-diam dengan kakaknya di kamar gelap Kantor Berita Domei. Demi mencetak foto tersebut meraeka harus menyelinap saat malam hari dan memanjat pagar kantor.

Foto Frans berhasil dicetak, akan tetapi foto tersebut tidak langsung dipublikasikan. Hingga pada 17 Februari 1946, tepat 6 bulan kemerdekaan dan setelah Jepang angkat kaki dari Indonesia, foto yang diperoleh Frans untuk pertama kali dipublikasikan secara nasional melalui surat kabar yang digawangi oleh B.M. Diah. Foto tersebut muncul dalam edisi khusus “Nomor Peringatan Enam Bulan Republik” yang diterbitkan Harian Merdeka.

Setelah masa itu, Mendur bersaudara memutuskan untuk mendirikan kantor foto berita mereka sendiri yang profesional dan independen bernama IPPHOS (Indonesian Press Photo Service). Hal ini merupakan upaya yang dapat mereka lakukan sebagai bentuk perjuangan bagi bangsa. Hingga saat ini juga belum diketahui dengan pasti berapa banyak cetakan foto yang dimiliki oleh Mendur bersaudara. Bahkan Oscar (perwakilan Kantor Berita Antara) menuturkan masih ada kemungkinan foto-foto proklamasi yang tercecer dan belum ditemukan saat ini, tuturnya pada salah satu artikel yang dimuat pada BBC News Indonesia.

Frans meninggal dunia pada tahun 1971 sedangkan Alex meninggal pada tahun 1984. Keduanya meninggal tanpa menerima penghargaan atas sumbangsihnya pada negara yang menciptakan bukti autentik dari adanya kemerdekaan itu sendiri di mata dunia. Bahkan tersiar kabar bahwa mereka ditolak untuk dimakamkan di Taman Nasional Pahlawan. Hingga pada tanggal 9 November 2009, Susilo Bambang Yudhoyono (Presiden RI kala itu) menganugerahi Mendur bersaudara dengan penghargaan Bintang Jasa Utama.

Untuk mengenang perjuangan Mendur bersaudara, keluarga besar Mendur mendirikan sebuah monumen yang disebut “Tugu Pers Mendur”. Tugu ini berupa patung Alex dan Frans serta bangunan rumah adat Minahasa berbentuk panggung berbahan kayu. Tugu ini diresmikan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 11 Februari 2013. [kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar