Politik Pemerintahan

Kreatif, Warga Kota Kediri Buat Gentong Cuci Tangan Lukis hingga Dekomposer

Kediri (beritajatim.com) – Sujiman (59 tahun), warga Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri ini tidak menyangka, keisengannya mengunggah gentong cuci tangan karyanya ke grup RT memanen pesanan. Puluhan gentong cuci tangan lukis diproduksi per minggunya.

Pada saat pemerintah menginstruksikan warga untuk sering-sering cuci tangan dengan sabun, Sujiman membuat gentong cuci tangan berbahan gentong plastik bekas dan dipasang di depan rumahnya.

“Biar lebih bagus, saya gambari. Saya bukan pelukis, jadi gambaran saya seadanya. Tapi ternyata kok diminati,” katanya. Sejumlah tiga gentong kecil untuk cuci tangan bergambar bunga dipasang di depan rumahnya. Keunikannya mengundang warga lain untuk memesan termasuk Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri.

Tak kurang dari 100 unit dengan kapasitas 25 liter dipesan untuk menghadirkan tempat cuci tangan di beberapa titik Kota Kediri dan juga pesanan warga. Selain itu, ukuran kecil-kecil ada juga yang dipesan tetangganya. Untuk yang ukuran kecil, ia membandrol harga Rp 50 ribu/unit. Kendalanya hanya ketika harga bahan baku naik, maka ia terpaksa tak bisa memenuhi semua permintaan.

“Tadinya saya gambari sendiri. Kemudian ada teman pelukis yang menawarkan jasanya, makanya saya ajak sekalian,” kata Sujiman. Semangatnya adalah berbagi rezeki sebab saat pandemi, banyak teman-teman seniman yang kehilangan pemasukan.

Produksi itu diminati banyak orang khususnya di Kota Kediri. Bahkan karyanya ini menarik minat BNPB Pusat untuk meminta Sujiman membuat video tentang kampanye cuci tangan.

“Entah dari mana mereka tahu, saya ditelpon BNPB Pusat untuk bikin video. Mereka tertarik untuk bikin tutorial,” kata Sujiman. Tapi ternyata permintaan ini belum bisa dipenuhi. Selain sibuk mengerjakan banyak hal, Sujiman merasa tak ahli membuat video.

Alumni Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) ini memang kreatif melakukan uji coba berbagai hal. Ia meracik ramuan dekomposer yang diberi mikroorganisme lokal (MOL) gantinya EM4 untuk dekomposer dengan nama MOL Multiguna. Sujiman juga membuat alat dekomposer yang bisa mendekomposisi sampah organik menjadi kompos tanpa menimbulkan bau dan air lindi. Ratusan dekomposer rakitannya ini dipesan pelanggan dari berbagai kota di Jawa Timur termasuk lembaga pemerintah.

“Karena itu, saya diundang jadi narasumber berbagai acara terkait teknologi tepat guna. Juga jadi tim evaluasi Desa/Kelurahan Berseri Pemprov. Jawa Timur sejak 2014,” tambahnya. Hanya saja, karena Covid-19, program itu dihentikan meski sudah jalan pada awal 2020.

Namun hal itu tak menjadikannya kehilangan pekerjaan. Di rumahnya, berbagai percobaan terkait teknologi sederhana tepat guna terus ia lakukan. Mulai dari membuat pot, membuat kokedama, dan membuat semaian tanaman hias yang juga ada pembeli. Sujiman juga berkreasi dengan biopori dengan membuat casing sehingga kompos dari biopori mudah diambil dan lubang tidak mampet.

Karena kreativitasnya ini, utamanya terkait dekomposer, Sujiman sempat memenangkan penghargaan Juara II Inovasi Teknologi tingkat Nasional tahun 2012 untuk karyanya tentang MOL Multiguna. Ia juga meraih Juara II Inotek Kota Kediri tahun 2018 masih terkait dengan dekomposer sampah.

Meski percobaan jelas membutuhkan biaya, namun Sujiman dengan ringan tangan membagi pengetahuannya pada tetangga atau bahkan komunitas lingkungan yang mengundangnya dengan gratis.

“Kalau melakukan apapun dengan ikhlas, selalu ada jalan dan akan dibukakan rezeki,” katanya. Rezekinya tak hanya melalui menjual produk, diundang seminar sebagai narasumber, juga berbagai pekerjaan sporadis terkait dengan hasil karyanya. [nm/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar