Ponorogo (beritajatim.com) – Belum tuntas permasalahan penyakit mulut dan kuku (PMK) gelombang kedua, Kabupaten Ponorogo diharuskan juga waspada terhadap penyakit lainnya yang juga menyerang ternak sapi. Penyakit yang perlu diwaspadai itu adalah penyakit lumpy skin disease (LSD).
Informasi yang dihimpun beritajatim.com, penyakit LSD ini sudah menjangkiti sapi yang berada di Kabupaten Ngawi. Disana ada puluhan sapi yang sudah positif terkena penyakit LSD ini. Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertahankan) Kabupaten Ponorogo Masun menyebut untuk Ponorogo masih zona hijau. Belum ada temuan atau laporan dari warga terkait penyakit tersebut.
“Penyakit LSD ini dilaporkan masuk Indonesia pada akhir Desember lalu. Ada 4 kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang sudah terkena, salah satunya daerah tetangga Ponorogo. Makanya kita harus meningkatkan kewaspadaan,” kata Kepala Dispertahankan Kabupaten Ponorogo Masun, Jumat (03/02/2023).
Penyakit kulit infeksius ini disebabkan oleh virus, yakni namanya Lumpy Skin Disease Virus (LSDV). Umumnya penyakit ini menyerang hewan sapi dan kerbau. Gejala hewan yang terjangkit penyakit LSD, hewan ternak mengalami bentol, terasa gatal dan demam.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pmk”]
“Gejala suhu panas, kulitnya bentol-bentol. Morbilitasnya 45 persen. Tingkat kematian maupun penyebarannya masih lebih rendah dari PMK,” katanya.
Meski lebih rendah dari PMK, namun Masun menghimbau masyarakat yang beternak sapi untuk tetap waspada. Pasalnya, kalau ternak sudah terkena penyakit LSD, maka akan berpengaruh signifikan pada aspek ekonomisnya. Yakni harga beli ternak tersebut pasti akan turun, jika diketahui terkena penyakit LSD.
“Hewan yang terkena LSD ini, pasti berdampak signifikan pada aspek ekonomisnya,” pungkasnya. [end/but]






