Jember (beritajatim.com) – PKS (Partai Keadilan Sejahtera) Jember belajar dari kekalahan Prabowo untuk menangkan Anies Baswedan. Saat Pilpres 2019, dari 31 kecamatan seluruh Jember, pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno hanya menang di dua kecamatan yaitu Tanggul dan Sumberbaru.
“Permasalahannya saat itu adalah euforia. Seakan-akan Prabowo ini didukung banyak orang. Padahal lemah di grass root,” kata Ketua Dewan Pengurus Daerah PKS Jember Sudianto, ditulis Rabu (8/3/3023).
Selain itu, Sudianto menilai, pengawalan terhadap suara Prabowo di tingkat Tempat Pemungutan Suara (TPS) saat itu lemah. “Jadi kalau Anies ingin menang, ya harus menguasai TPS. Bagaimana relawan-relawan bekerja di tingkat TPS. Bukan hanya pencitraan seperti kemarin. Kemarin pencitraan, tapi pengawalan di lapangan lemah,” katanya.
Baca Juga: PKS Jatim Sambut Gembira DPP Deklarasi Anies Baswedan Capres
Sudianto sudah menyampaikan hal ini kepada relawan Anies P24 yang berkunjung ke kantor PKS Jember kemarin. “Euforia di atas, tapi jarang kita menyentuh permasalahan di masyarakat,” katanya.
Memenangkan Anies di Jember bukan urusan gampang. Sudianto menyadari benar hal tersebut.
“Di tataran elite dan menengah ke atas, Anies cukup kuat. Kelemahan dia di tataran bawah. Anies ini kan figur baru yang diorbitkan PKS saat Pilkada DKI. Kami perlu kerja keras,” katanya.
Baca Juga: Demokrat, PKS dan Nasdem Terus Matangkan Koalisi Perubahan
Sudianto juga berharap tak ada serangan stigma politik identitas terhadap Anies. “Meskipun sekarang buzzer-buzzer tidak menggeliat seperti zaman dulu, tapi masih ada,” katanya.
PKS menawarkan sosok Anies sebagai simbol perubahan. “Perubahan yang kami tawarkan. Pengelolaan pertanian oleh presiden sekarang kan lemah, karena lebih banyak ke infrastruktur. Perhatian kepada pertanian, menjaga produk-produk UMKM juga lemah. Jadi tawaran kami memang lebih banyak pada perubahan dan program yang menyentuh masyarakat,” kata Sudianto. [wir/beq]






