Mojokerto (beritajatim.com) – Pabrik Gula (PG) Gempolkrep menargetkan dapat menggiling tebu sebanyak 895.000 ton di musim giling tahun 2022 dengan rendemen 8 persen. Target tersebut naik sebesar 158.000 ton dibanding tahun 2021 yakni 737.000 ton.
General Manager (GM) PG Gempolrep, Edy Purnomo mengatakan, tercapai jumlah tebu 737.000 ton untuk giling tahun 2021. “Mulai giling kita, tanggal 20 Mei sampai 14 Oktober tahun lalu dari kita 726.000 ton dengan rendemen 7,8 persen. Alhamdulillah di atas target,” ungkapnya, Jumat (18/2/2022).
Sementara untuk musim giling tahun 2022 ini, PG milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X menargetkan 895.000 ton. Target tersebut naik dibanding musim giling tahun 2021 lalu. Edy menjelaskan, naiknya target tersebut untuk mengimbangi kenaikan harga pupuk, biaya tenaga kerja dan lainnya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”gula”]
“Sehingga kita bisa dapatkan untung yang maksimal. Karena saat ini kita dihadapkan kondisi pandemi, ini juga membutuhkan pembiayaan, membutuhkan penanganan, di samping adanya kenaikan-kenaikan biaya pokok produksi, tenaga kerja juga naik,” katanya.
Sehingga untuk mendapatkan keuntungan maksimal, lanjut Edy, target pencapaian harus naik. PG Gempolrep memiliki empat wilayah yakni Mojokerto, Lamongan, Gresik dan Jombang dengan jumlah petani sebanyak kurang lebih 1.200 petani dengan luas area ladang tebu tetap di setiap musim giling.
“Luasannya relatif tetap jadi ada pengurangan luasan yang digunakan untuk properti, untuk komoditas lain tapi juga ada petani membuka lahan pengembangan. Antara kurang sama nambahnya relatif sama, kisarannya sekitar 12.000 hektare,” katanya.
Edy menjelaskan, jika curah hujan tinggi menguntungkan untuk pertumbuhan tebu. Pertumbuhan tebunya bisa optimal, produktivitas per hektare bisa naik. Harapannya, dengan kenaikan produksi saat ini dengan luasan tetap tetapi jumlah tebu tidak bisa naik 10-15 persen dari tahun lalu.
“Upaya kita yang pertama, daftar secara optimal tebu-tebu yang ada di wilayah kerja di 4 kabupaten itu. Jadi dari petani-petani semua yang tahun lalu belum masuk ke tempat kita, itu coba kita dekati melalui petugas-petugas kita yang ada di lapangan,” ujarnya.
PG Gempolkrep miliki sembilan wilayah dengan sembilan petugas tanaman dibantu 60 petugas di masing-masing desa/kecamatan untuk mendaftar area. Selain itu, PG Gempolrep juga mengakomodir tebu-tebu yang ada di luar wilayah. Misalnya kesulitan giling di tempat asal, PG Gempolrep siap mengakomodir.
“Kita bisa mendatangkan tenaga tebang, kita bisa mendatangkan tambahan truk angkutan untuk bisa mengakomodasi itu. Selain pupuk, petani kita dihadapkan terhadap kesulitan untuk mendapatkan tenaga kerja di kebun. Tenaga kerja untuk pemeliharaan sampai penebangan,” urainya.
Sehingga PG Gempolkrep berupaya untuk membantu peralatan-peralatan dengan memperkenalkan sistem mekanisasi. Dengan tenaga kerja sedikit, tegas Edy, para petani mengelola lahan tebu yakni dengan mengembangkan alat-alat mekanis. Pekerjaan secara manual bisa dilakukan dengan mesin.
“Insya Allah, untuk pabrik dalam proses mentenen sampai nanti tanggal 25 April kita sudah siap untuk beroperasi. Jadi di pabrik itu ada istilahnya uji coba mesin secara penuh pada tanggal 25 April sehingga nanti tanggal 25 April kondisi pabrik sudah siap, nanti tanggal 10 Mei kita sudah bisa menerima tebu dari petani,” tegasnya.
PT PTPN X menargetkan dapat menggiling tebu sebanyak 4,25 juta ton dengan rendemen 7,88 persen serta produksi gula mencapai 340.375 ton pada 2022. Proyeksi itu naik 33 persen dibanding target 2021 yang mampu menggiling tebu sebanyak 3,55 juta ton dengan produksi gula 256.495 ton.
PTPN X memiliki sembilan Unit PG yang tersebar di wilayah Jawa Timur, yaitu PG Kremboong di Kabupaten Sidoarjo, PG Gempolkrep di Kabupaten Mojokerto, PG Djombang Baru dan PG Tjoekir di Kabupaten Jombang, PG Lestari di Kabupaten Nganjuk, PG Meritjan, PG Pesantren Baru dan PG Ngadirejo di Kabupaten Kediri serta PG Modjopanggoong di Kabupaten Tulungagung. [tin/kun]






