Magetan (beritajatim.com) – Mayoritas petani tembakau di wilayah Kecamatan Poncol saat ini sudah beralih jadi petani sayur. Ada beberapa alasan petani memilih menanam sayur ketimbang tembakau.
Catatan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) di thain 2022 ada 27 petani tembakau. Namun, tahun ini tinggal sekitar 10 orang saja.
Kepala Dinas TPHPKP Magetan Uswatul Chasanah menerangkan, petani tembakau sudah mulai beralih bertanam sayur. Sehingga, luasan lahan tembakau Magetan di wilayah Poncol sudah berkurang.
Data tahun 2022 ada empat hektar lahan perkebunan tembakau, produksinya 2,4 ton dengan produktivitas 610 kg per hektar. Jenis yang ditanam mliwis dan andong.
“Tahun ini kurang dari itu. Banyak petani tembakau di Poncol yang beralih ke sayur. Penyebab luas tanaman tembakau berkurang di Magetan tak lepas dari fluktuasi harga yang tidak menentu dan faktor cuaca sehingga petani memilih menaman sayuran,” kata Ana, Jumat (21/7/2023).
Pun, berkurangnya lahan membuat Magetan masih berangan-angan untuk bisa bekerjasama dengan insdutri rokok seperti PT Trimitra Karya Sejati yang merupakan Mitra PT Gudang Garam di Desa Prampelan, Kecamatan Karangrejo, Magetan.
Minimal harus ada 500 hektar lahan yang ditanami tembakau. Namun, di tahun 2022 baru 321 hektar. Sementara tahun ini diperkirakan berkurang karena petani tembakau di Poncol banyak beralih jadi petani sayur. “Kedepan kita harapkan petani lebih giat lagi menanam tembakau agar bisa terciptanya suatu kawasan sebagai syarat untuk bisa bekerja sama dengan industri rokok,” katanya.
Diketahui, Bupati Magetan Suprawoto mengatakan jika harga jual tembakau saat ini sedang bagus. Hal itu disampaikannya saat memanen tembakau bersama petani tembakau di Desa Sidomulyo Kecamatan Sidorejo Kabupaten Magetan, Jumat (21/7/2023).
Kang Woto, sapaan akrab Bupati Suprawoto, menceritakan jika belakangan untuk jenis tembakau rejeb khas Kecamatan Parang yang kering rajang mencapai Rp325.000 per kilogram.
Pun, untuk tembakau basah jenis andong dan mliwis yang banyak ditanaman di kawasan Sidorejo dan Panekan, harga daun basah per kilogramnya mencapai Rp8.000 per kilogram dan Rp10.000 per kilogram.
“Alhamdulilllah musim kemarau ini memberi keuntungan tersendiri bagi petani tembakau. Hasil panen bagus dan harganya cukup bagus bila dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya ya. Tembakau basah dihargai Rp8 ribu perkilogramnya,” kata pria alumnus S-3 Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang itu.
Harga kali ini terbilang jauh lebih tinggi ketimbang harga saat masih pandemi. Harga saat masih pandemi Covid-19 pernah mencapai Rp3.000 per kilogram. “Ini indikator baik dan dapat menjadi harapan besar bagi para petani untuk tetap menanam tembakau sebagai mata pencaharian di sektor pertanian,” paparnya.
Selain menemani petani panen, pria 67 tahun itu turut menyerahkan bantuan pupuk NPK, mulsa, dan bantuan bibit cabai pada gabungan kelompok tani desa setempat.
Diketahui, ada 5 kecematan penghasil tembakau di Magetan. Yakni Kecamatan Parang, Sidorejo, Panekan, Plaosan, dan Poncol. Total luasan lahan sesuai data Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan tahun 2022, yakni 321 hektar.
Paling luas yakni lahan tembakau di wilayah Kecamatan Panekan yakni 134 hektar. Jenis yang ditanam yakni mliwis atau andong. Total produksinya mencapai 83 ton. [fiq/kun]
BACA JUGA:






