Sidoarjo (beritajatim.com) – PT Pertamina Gas (Pertagas) terus melakukan pendampingan terhadap program Corporate Social Responsibility (CSR). Salah satunya program yang diberikan untuk masyarakat Desa Penatarsewu Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo.
Diawali tahun 2013, adanya kegiatan charity, Pertagas melakukan perbaikan terhadap rumah pengasapan ikan, yang menjadi mata pencaharian warga Desa Penatarsewu. Sampai kini, Pertagas hadir mendampingi sekitar 80 usaha pengasap ikan.
Sebelum Pertagas datang, usaha ikan asap masih dikelola secara tradisional. Peralatannya pun kurang lengkap.
Head of External Relations East Region Pertagas Tedi Abadi Yanto memgatakan, sekitar tahun 2013, Pertagas mulai hadir mendampingi masyarakat. Program pelatihan diberikan dan infrastruktur pengasapan juga diperbaiki hingga intensif sekitar tahun 2017 sampai sekarang.
“Yang diperbaiki oleh Pertagas, mulai perbaikan cerobong asap, tungku, hingga pemberian cold box agar bahan baku ikan menjadi lebih banyak dan tahan lama. Harapannya tak lain agar bisa mendongkrak produksi ikan asap dan stok ikan asap lebih awet,” katanya, Rabu (20/10/2021).
Tedi menambahkan, di tahun 2018, seiring diversifikasi produk atau meningkatnya kegiatan produksi, muncul adanya tantangan berbeda. Salah satunya adalah packaging basah. Kemudian butuh pemasaran yang bisa dibuat oleh-oleh khas desa.

“Di tahun 2018 itu muncul ide membangun Resto Apung Seba (Seribu Barokah) dengan melibatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Penatarsewu. Tujuannya memberdayakan masyarakat lebih banyak lagi. Karena multiplier effecnya untuk usaha baru. Mulai tenaga kerja bagian masak makanan dan minuman, parkir di lokasi, kolam pancing, dan permainan air para pengunjung yang datang di resto,” urainya.
Satu tahun kemudian, pada 20 Mei 2019, Resto Apung Seba resmi dioperasikan dan sangat mendapatkan respon bagus dari masyarakat. Namun, belum lama berjalan, usaha Resto Apung Seba dihantam badai pandemi Covid-19 pada awal 2020.
Hal ini membawa dampak pada mitra binaan Pertagas tetsebut. Apalagi dengan adanya PPKM dan pembatasan pengunjung. Untuk memperluas pasar, anak usaha Pertamina tersebut membantu pemasaran lewat layanan pesan antar bekerjasama dengan penyedia aplikasi transportasi online.
Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat Desa Penatarsewu Abdul Arief menjelaskan, Pertagas selaku pembina CSR Desa Penatarsewu ikut turun tangan mengatasi permasalahan yang dialami Resto Apung Seba.
Akibat dampak Covid-19 yang luar biasa, pihaknya berinovasi mencari kerjasama dengan platform digital online. Seperti Gofood, membuka jasa katering untuk RSUD Sidoarjo, perusahaan dan lainnya yang memanfaatkan jasa kuliner mereka.
“Dampak sangat kami rasakan rasakan. Tapi syukur, sejak pandemi sampai sekarang, tidak ada satupun karyawan resto yang diberhentikan dan gaji setiap bulan bisa terpenuhi,” jelas Arief.

Resto Apung Seba ini, menyerap sumber daya asli lokal. Menu unggulannya meliputi mujair panceng, kelo kuning, mangut, dan aneka olahan ikan asap lainnya. “Meski sempat kesulitan saat awal menghadapi wabah Covid-19, saat ini bisnis Resto Apung Seba tetap bertahan,” imbuhnya.
Pendampingan Petragas di Desa Penatarsewu juga berkelanjutan di tahun 2021. Setelah sukses mengantarkan usaha pengasapan ikan naik kelas, membuka Resto Apung Seba, kini berinovasi mengatasi masalah sampah rumah tangga di kampung itu. Caranya dengan budidaya Maggot Black Soldier Fly (BSF).
Ediyanto warga setempat yang juga pengelola budidaya maggot sejak 2020 yang dipercaya dalam pengelolaan sampah. Pertimbangannya karena pandemi Covid-19, sampah rumah tangga meningkat. Warga juga kebanyakan beraktivitas di rumah.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pertagas”]
Menurut Ediyanto, sehari ada 5-6 gerobak motor memuat sampah rumah tangga. Sampah itu dibuang di tempat pembuangan sampah desa. Satu gerobak ada sekitar 4 kuintal sampah. “Setiap harinya bisa sampai 24 kuintal sampah yang menumpuk,” terangnya.
Dengan adanya budidaya maggot, sekitar 30-40 persen khususnya sampah organik rumah tangga bisa diurai. Perlenggkapan rumah budidaya hingga bibit maggot juga dukungan dari Pertagas. “Setelah maggot besar bisa dipanen dan dijual untuk pakan burung atau ternak,” lanjutnya
Masih kata Edi, selain itu, maggot juga bisa diolah lagi untuk menghasilkan pakan ikan yang lebih berkualitas. Caranya dengan digiling dan dicampur dedak serta limbah sirip ikan. “Kandungan proteinnya lebih tinggi, bisa dijual Rp 8 ribu per kilogram,” tukasnya.

Di kesempatan yang sama, Kepala Desa Penatarsewu, Choliq mengungkapkan, manfaat kehadiran perusahaan nasional itu cukup banyak dirasakan warga. Misalnya dari segi pengasapan ikan juga meningkat pesat.
Saat masih tradisional, satu pengasap hanya bisa mengasapi ikan sebanyak 90-100 kilogram. Sekarang ada yang bisa capai 2 kwintal sehari. “Produksi ikan asap di Desa Penatarsewu ini bisa capai 13 ton sehari,” rincinya.
Dia menambahkan, di Penatarsewu ada sekitar 80 usaha pengasapan ikan. Karena produksinya meningkat, hal itu juga berdampak positif ke serapan tenaga kerja. Warga yang dulunya nganggur bisa ikut bekerja membantu usaha ikan asap.
“Jadi tukang sisik ikan atau yang mengasap ikan. Kalau dulu dikerjakan sendiri, sekarang tetangganya bisa diajak kerja,” ucapnya.
Begitu juga, sambung Chaliq, dalam penanganan sampah yang didukung oleh Pertagas, juga membawa dampak yang baik di lingkungan, termasuk juga menyerap tenaga bagi para petugas sampah.
“Dulunya ada warga yang nganggur, ikut masuk kerja dalam penanganan sampah. Gaji setiap bulannya juga sepadan dan dampak lingkungan juga bersih, tidak ada sampah dibuang di sembarang tempat,” jelas Chaliq. [isa/but]






