Yogyakarta (beritajatim.com) – Kasus pernyataan kontroversial Rocky Gerung yang menyatakan Presiden Jokowi dengan mengucapkan Baj**gan To**l menjadi viral.
Banyak kontra kaitan dengan pernyataan ini. Informasi terkini beberapa elemen pendukung Presiden Jokowi mendesak Rocky Gerung meminta maaf dan tengah menyiapkan gugatan hukum kaitan kasus ini. Bahkan Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto juga mendesak hal serupa.
Terbaru muncul pernyataan mengapa Rocky Gerung melakukan hal tersebut lantaran dirinya penganut paham mashab Sinisme Diogenes dari Sinope. Diogenes adalah seorang filsuf yang termasuk ke dalam Mazhab Sinis.
Menanggapi hal ini, Kepala Pusat Studi Pancasila (PSP) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Agus Wahyudi, M.Si., M.A., Ph.D mengaku kaget dengan klaim Cynics alias penganut Mashab Sinisme tersebut.
Hal ini lantaran apa yang ada dalam keseharian Rocky Gerung sama sekali tidak menunjukkan dirinya seorang Cynics.
“Klaim atau anggapan cukup menarik kalau benar dirinya sendiri yang mengklaim sebagai seorang Cynics. Menurut saya ini kurang tepat atau malah hanya sebuah wujud kepanikan dirinya pasca viralnya pernyataan kontroversi tersebut. Hal ini karena gaya hidup Rocky Gerung sangat tidak Cynics misalnya dirinya berkepribadian sangat optimis, suka makan-makan, nari-nari, ngobrol intelektual, terbuka dan ini kaitannya sangat berbeda jika dibandingkan dengan penganut Cynics,” jelas Dosen Fakultas Filsafat UGM ini.
Baca Juga: Tim Hukum PDIP Jatim Laporkan Rocky Gerung ke Polisi
Menurutnya seseorang dengan paham Cynics melihat dirinya sebagai seorang yang pesimis melihat hidup, tidak memiliki harapan hidup apalagi hingga bisa mengkontrol isu politik ini dikatakannya hal yang nihil sebagai seorang Cynics.
Agus Wahyudi menuturkan secara objektif dalam sebuah penelitian yang khas, salah satu doktrin ciri utama Cynics adalah cara pandang dan kepercayaan tingkat manusia yang pada dasarnya jahat dan rakus dan juga polos.
Sementara Rocky Gerung sangat mengerti taktik dan tujuan utama sehingga menurut Agus, Rocky Gerung bukanlah seorang Cynics namun dirinya hanya sedang “menari” bermain politik.
“Saya menduga dan mendefinisikan bahwa dirinya hanya ngeles karena kepanikan sesaat adanya isu dari pernyataan dirinya yang berkembang menjadi viral,” bebernya.
Masih menurut pria yang akrab disapa Pak Awe ini, sebenarnya apa yang dirinya lakukan ini dalam norma demokrasi adalah wujud seseorang yang tidak memiliki manner atau attitude saja dalam sebuah norma berpolitik.
Agus menegaskan dalam sebuah demokrasi perlu membicarakan mengenai kebebasan berpendapat dan cara berpendapat seseorang. Sementara Rocky Gerung menganut pandangan demokrasi dengan standar kebebasan berpendapat yang hanya bisa dibatasi jika sudah dalam taraf membahayakan.
Adapun jika kasusnya adalah tersinggung dalam sebuah demokrasi ini tidak bisa diadili dan dijatuhi sanksi hukum. Hal ini karena dalam setiap interaksi semua potensial tersinggung.
“Jika semua hal tersinggung tersebut diadili maka lingkup sebuah demokrasi menjadi sempit,” jelasnya.

Menurut Pak Awe, batas kebebasan berpendapat menurut standar demokrasi liberal ini juga tidak bebas sebenarnya karena harus dibatasi. Meski demikian ukuran pembatasan ini jika sudah ada hal yang berhubungan dengan membahayakan nyawa, keamanan serta harta benda orang lain. Sehingga demokrasi yang demikian ini bisa dijatuhi sanksi hukum.
Masih menurutnya lagi, sebenarnya sejauh ini kasus seperti Rocky Gerung ini tidak bisa dihukum secara pidana dan seharusnya seorang Rocky Gerung sangat tahu untuk urusan ini.
“Kita sedang membaca dalam kapasitas politik dirinya ada pengikut dibelakang dan dirinya sedang menari dan mempertontonkan tariannya. Ada audiens yang sedang jadi sasaran dia untuk sebuah kemenangan politik tertentu. Sekali lagi saya tegaskan dengan gaya hidup seorang Rocky Gerung yang demikian dirinya tidaklah bisa dikatakan sebagai seorang Cynics karena ia memiliki optimisme dan harapan,” tegas Pak Awe lagi.
Meski demikian Agus Wahyudi mengingatkan bahwa hukum di Indonesia bukanlah penganut hukum liberal. Indonesia memiliki aturan atau hukum yang melindungi seperti misalnya UU ITE. Sehingga segala sesuatu tetap bisa berpotensi.
Baca Juga: Viral Video Rocky Gerung Gagal Jadi Pembicara di Unair
Agus Wahyudi menegaskan kasus viralnya Rocky Gerung ini menurutnya adalah kasus seseorang yang kurang manner atau tidak ada adab.
Pada bagian lain, Kepala PSP UGM ini mengapresiasi langkah Presiden Jokowi yang bijaksana dan tidak mengadukan ke polisi sehingga Rocky Gerung ini dianggap tidak perlu dihukum.
Kasus viralnya pernyataan Rocky Gerung yang menggunakan kata kata kasar ditujukan untuk Presiden Jokowi yang menimbulkan kontroversi ini muncul tatkala Rocky Gerung menganggap presiden Jokowi “menjual negara ke pengusaha China” demi pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) ketika melakukan kunjungan kerja ke China beberapa waktu lalu. (aje/ted)






