Mojokerto (beritajatim.com) – Wikramawardhana adalah raja kelima Majapahit yang memerintah berdampingan dengan istri sekaligus sepupunya, yaitu Kusumawardhani putri Hayam Wuruk. Wikramawardhana dalam Pararaton bergelar Bhra Hyang Wisesa Aji Wikrama ini memerintah di tahun 1389-1427 masehi.
Wikramawardhana yang memiliki nama Raden Gagak Sali ini merupakan putra Dyah Nertaja, adik Hayam Wuruk yang menjabat sebagai Bhre Pajang. Ayahnya bernama Raden Sumana yang menjabat sebagai Bhre Paguhan bergelar Singhawardhana.
Wikramawardhana memiliki permaisuri bernama Kusumawardhani adalah putri Hayam Wuruk yang lahir dari Padukasori. Dalam Nagarakretagama (ditulis 1365), Kusumawardhani dan Wikramawardhana diberitakan sudah menikah. Padahal waktu itu Hayam Wuruk baru berusia 31 tahun.
Dalam kitab Pararaton menyebutkan, jika Wikramawardhana memiliki tiga orang anak dari selir, yaitu Bhre Tumapel, Suhita, dan Kertawijaya. Bhre Tumapel lahir dari Bhre Mataram, putri Bhre Pandansalas. Ia menggantikan Rajasakusuma sebagai putra mahkota.
Tetapi juga meninggal sebelum sempat menjadi raja. Kedudukan sebagai pewaris takhta kemudian dijabat oleh Suhita yang lahir dari Bhre Daha putri Bhre Wirabhumi. Pada tahun 1400 Wikramawardhana turun takhta untuk hidup sebagai pendeta.
Kusumawardhani pun memerintah secara penuh di Majapahit. Menurut kitab Pararaton, Wikramawardhana kembali menjadi raja karena Kusumawardhani meninggal dunia. Pada tahun 1401 Wikramawardhana berselisih dengan Bhre Wirabhumi, saudara tiri Kusumawardhani.
Baca Juga:
Situs Lantai Segi Enam Trowulan Diduga Pelataran Rumah Bangsawan era Majapahit
Perselisihan antara penguasa Majapahit Barat dan Majapahit Timur itu memuncak menjadi perang saudara tahun 1404, yang disebut perang Paregreg. Pada tahun 1406 pasukan istana barat dipimpin Bhre Tumapel menghancurkan istana timur. Bhre Wirabhumi tewas di tangan Raden Gajah alias Bhra Narapati.
Wikramawardhana kemudian memboyong Bhre Daha putri Bhre Wirabhumi sebagai selir. Perang Paregreg membawa kerugian besar bagi Majapahit. Banyak daerah-daerah bawahan di luar Jawa melepaskan diri ketika istana barat dan timur sibuk berperang.
Wikramawardhana juga berhutang ganti rugi pada kaisar Dinasti Ming penguasa Cina. Ketika terjadi penyerbuan ke timur, sebanyak 170 orang anak buah Laksamana Ceng Ho ikut terbunuh. Padahal waktu itu Ceng Ho sedang menjadi duta besar mengunjungi Jawa.
Menurut kronik Cina tulisan Ma Huan (sekretaris Ceng Ho), Wikramawardhana diwajibkan membayar denda pada kaisar sebesar 60.000 tahil. Sampai tahun 1408 baru bisa diangsur 10.000 tahil saja. Akhirnya, kaisar membebaskan hutang tersebut karena kasihan.
Pada tahun 1426 terjadi bencana kelaparan melanda Majapahit. Bhre Tumapel sang putra mahkota meninggal dunia tahun 1427. Candi makamnya di Lokerep bernama Asmarasaba. Disusul kemudian kematian istri dan putra Bhre Tumapel, yaitu Bhre Lasem dan Bhre Wengker.
Wikramawardhana akhirnya meninggal pula akhir tahun 1427. Ia dicandikan di Wisesapura yang terletak di Bayalangu. [tin/ted]






