Mojokerto (beritajatim.com) – Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Diyakini abu Prabu Hayam Wuruk yang merupakan raja ini berada di Dusun Panggih, Desa Panggih, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Adapun warga percaya dan meyakini bahwa abu Raja Majapahit ini berada di Trowulan Mojokerto.
Tempat ini biasa disebut warga sekitar dengan Reco Banteng (Arca Banteng). Melansir sejumlah sumber, kendati Arca Banteng tak lagi ada namun lokasi ini dipercaya masyarakat jika abu yang ditempatkan di dalam tembikar merupakan abu Prabu Hayam Wuruk.
Setelah tiga kali dipugar antara tahun 1963-1996, Reco Banteng menjadi tempat berziarah yang cukup memadai. Pada bagian dalamnya, terdapat sebuah makam berukuran 4×1,5 meter dan terpampang sebuah lukisan potret Prabu Hayam Wuruk berukuran 1×1,2 meter.
BACA JUGA: Prakiraan Cuaca Malang Raya Hari Ini Jumat 8 Desember 2023: Siang Hujan Ringan
Konon di bawah makam ini terpendam abu Prabu yang mempunyai gelar Maharaja Sri Rajasanagara tersebut. Hayam Wuruk merupakan raja ke-4 Majapahit yang memerintah tahun 1350-1389 masehi yang merupakan putra dari Ratu Tribhuwana Tunggadewi.
Ratu Tribhuwana Tunggadewi sendiri merupakan raja pertama Majapahit Raden Wijaya. Hayam Wuruk yang bergelar Sri Rajasanagara ini memerintah Kerajaan Majapahit pada usia 16 tahun yang diangkat sebagai raja menggantikan ibunya, Tribhuwana Tunggadewi.
Ini setelah raja ketiga Kerajaan Majapahit ini mundur setelah 21 tahun berkuasa. Selama 39 tahun berkuasa, Hayam Wuruk disebut-sebut sebagai raja Majapahit terbesar atau paling utama. Keberhasilannya membawa Majapahit menuju puncak kejayaan tidak lepas dari bantuan Mahapatih Gajah Mada.
Pada saat Hayam Wuruk dan Gajah Mada menjalankan pemerintahan, seluruh kepulauan Indonesia bahkan Jazirah Malaka mengibarkan panji-panji Majapahit. Sumpah Palapa yang dinyatakan Gajah Mada pun terlaksana, dengan daerah kekuasaan Majapahit.
BACA JUGA: Cabai Mahal, Penjual Ceker Pedas Ponorogo Putar Otak
Meliputi Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, ditambah Tumasik (Singapura) dan sebagian Kepulauan Filipina.
Selain itu, kerajaan ini memiliki hubungan dengan Campa (Thailand), Kamboja, Siam, Birma bagian selatan, Vietnam, dan Tiongkok. Hayam Wuruk wafat di tahun 1389 masehi atau berusia 55 tahun. (Tin/Aje)
![Abu Raja Hayam Wuruk dari Majapahit Diyakini di Trowulan Caption : Petilasan Hayam Wuruk di Dusun Panggih, Desa Panggih, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. [Foto : ist]](https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2023/12/IMG-20231208-WA0000.jpg)





