Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Tujuh Malam dalam Dekapan Banjir

Warga Dusun Kedunggabus menyeberangi area persawahan yang banjir menggunakan rakit batang pisang, Kamis (11/2/2021). [Foto/Yusuf Wibisono]

Jombang (beritajatim.com) – Deretan tenda pengungsi berjajar di tanggul sungai Dusun Kedunggabus, Desa/Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Jombang, Kamis (11/2/2021) petang. Gerimis tipis jatuh dari gendongan langit. Setiap tetesannya membentuk lingkaran-lingkaran kecil di atas genangan air setinggi lutut yang merendam dusun tersebut.

Emi Wahyuningrum (42) duduk santai beralas anyaman bambu di tenda darurat yang terbuat dari terpal. Tubuhnya dibalut kaus warna merah muda. Emi tidak sendiri, dia ditemani suaminya, Muklas (50), dan kakaknya, Didik (50). Muklas hanya mengenakan kaos singlet, sedangkan Didik telanjang dada.

Meski duduk dalam satu tenda, ketiga orang ini tak banyak bicara. Mereka sekadar duduk-duduk di tenda berbentuk segitiga yang ukurannya tidak terlalu besar. Selain tiga orang, di dalam tenda juga penuh dengan berbagai perabotan. Ada panci, kompor panjang, wajan/penggorengan, teko, serta peralatan dapur lainnya. Dalam tenda tersebut juga ada tikar plastik, kardus, ember, termos, serta bantal, yang semuanya semburat tak beraturan. Lalu, sepasang kursi plastik warna hijau sebagai pemanis mejeng di mulut tenda.

Sementara di samping tenda, beberapa ekor kambing sedang menikmati hijaunya rumput di tanggul sungai. Sesekali hewan itu mengembik. Saat angin bertiup perlahan, bau pesing kotoran kambing menyeruak ke dalam tenda. Sangat menusuk hidung. Tak jauh dari tenda itu juga nampak sapi warna merah yang sedang mengibas-ngibaskan kepalanya. Sesekali sapi itu melenguh panjang.

“Sudah tujuh malam kami tidur di tenda darurat. Semua keluarga saya mengungsi di tenda ini. Jumlahnya ada enam KK (kepala keluarga). Kalau bapak-bapaknya lebih banyak berjaga di luar tenda saat malam,” kata Emi memulai ceritanya.

Emi masih ingat, musibah itu datang pada Jumat malam (5/2/2021). Semuanya berlangsung cepat dan tanpa permisi. Sebenarnya warga sudah mengetahui bahwa tanggul Sungai Afvoer Besuk yang melintasi Desa Bandar Kedungmulyo jebol di beberapa titik. Namun Emi dan warga lainnya tidak menyangka dari situlah bencana bermula.

Karena untuk mengantisipasi air meluber, warga sudah melakukan kerja bakti menutup jebolan tersebut. Karung-karung berisi pasir didatangkan. Kemudian diletakan di tanggul yang jebol. Namun upaya yang dilakukan warga tak membuahkan hasil. “Karena kuatnya arus, karung-karung tersebut malah terseret air. Begitu diletakan, langsung menghilang,” kata Muklas menggarami cerita sang istri.

Tenda darurat di atas tanggul yang digunakan untuk mengungsi Emi, warga Kedunggabus bersama enam keluarganya, Kamis (11/2/2021). [Foto/Yusuf Wibisono]
Debit air semakin meningkat. Air dari sungai tumpah ke sawah, kemudian menerjang kawasan pemukiman. Beruntung, pihak perangkat desa melalui pengeras suara di masjid dan musala terus memberikan imbauan. Mereka meminta warga segera mengungsi.

Muklas yang melakukan kerja bakti di tanggul, bergegas kembali ke rumah. Dia mengajak istri dan anaknya untuk mengungsi. Barang-barang berharga seperti kulkas dan televisi tidak sempat terbawa. Emi dan keluarganya hanya membawa baju secukupnya. Hewan ternak peliharaannya juga tak bisa diselamatkan. Hilang terbawa banjir.

Namun keluarga ini masih bisa bernafas lega. Karena dokumen kependudukan dan ijazah bisa diamankan. Malam itu, dalam suasana gelap gulita, Emi, Muklas dan anak-ananya bergerak ke atas tanggul. Begitu juga dengan ratusan warga Dusun Kedunggabus lainnya. Semuanya panik. Bencana seolah sudah menodong nyawa.

Dari atas tanggul itulah, ratusan warga menyaksikan kampungnya ditenggelamkan air bah. Air menggelinding ke tempat lebih rendah, lalu masuk rumah, hingga ketinggian dua meter lebih. Jalan desa di bawah tanggul yang posisinya lebih tinggi dari pemukiman juga ikut terendam. Malam itu, Dusun Kedunggabus Desa Bandar Kedungmulyo berubah menjadi kolam raksasa.

Warga Desa Bandar Kedungmulyo yang menggungsi di atas tanggul Sungai Brantas dengan mendirikan tenda terpal, Sabtu (6/2/2021)

“Air menerjang sangat cepat. Sekitar 25 menit, air sudah setinggi dada. Terus naik hingga menenggelamkan pemukiman dan jalan desa. Banyak hewan ternak yang tak sempat diselamatkan. Saya menemukan lima bangkai kambing di lokasi banjir,” kata Didik yang duduk di kursi plastik depan tenda sembari bertelanjang dada.

Esoknya, Muklas mendirikan tenda darurat di tanggul tersebut. Begitu juga warga lainnya. Jadilah tanggul sungai Kedunggabus seperti bumi perkemahan. Tenda berbahan terpal berderet memanjang. Sambung menyabung dari ujung ke ujung. Mereka tidur, memasak, dan bersantai dengan keluarga di tenda itu.

Emi bersyukur karena pada Sabtu pagi (6/2/2021) bantuan mulai berdatangan. Baik berupakan nasi bungkus, air bersih, pakaian, hingga logistik lainnya. Bahkan untuk tabung elpiji, pihak desa juga menyediakannya secara gratis. Apalagi di dekat tenda keluarga Emi ini juga ada posko kesehatan dan posko penanganan bencana.

Pengungsi Bertahan di Tanggul Sungai
Minggu (7/2/2021) malam, deretan tenda masih berdiri di sepanjang tanggul sungai. Sesekali, angin kencang menggoyang-goyang tenda itu. Sejumlah pengungsi masih banyak yang duduk-duduk di luar tenda. Namun ada juga yang sudah terbuai mimpi dalam tenda. Ketinggin banjir yang merendam dusun tetap stabil.

Supervisor Pusdalops BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Jombang Stevie Maria mengungkapkan, pada minggu malam ada dua lokasi yang digunakan warga Desa Bandar Kedungmulyo sebagai tempat mengungsi. Pertama di SDN Bandar Kedungmulyo, yang menampung 138 jiwa.

Sedangkan kedua di sepanjang tanggul Sungai Brantas desa setempat. Di lokasi ini terdapat 923 jiwa. Mereka berasal dari tiga dusun, masing-masing Dusun Kedunggabus sebanyak 460 orang, Kedungasem 325 jiwa, dan Dusun Bandar Kedungmulyo 138 orang. Sehingga jumlah total pengungsi di Desa/Kecamatan Bandar Kedungmulyo sebanyak 1.351 orang.

Warga Dusun Manisrenggo mengangkut sepeda motor dari rumahnya ke tempat lebih aman, JUmat (5/2/2021). [Foto/Yusuf Wibisono]
Namun jumlah itu menurun pada Selasa (9/2/2021). Karena banjir sudah ada penyusutan. Sehingga ada pengungsi yang kembali ke rumah, namun juga masih ada yang memilih bertahan di pengungsian. Semisal di sepanjang tanggul Sungai Brantas, Desa/Kecamatan Bandar Kedungmulyo. Di lokasi tersebut masih ada 449 pengungsi bertahan.

“Saat ini tidak jauh berbeda dengan jumlah sebelumnya. Masih ada ratusan warga Desa Bandar Kedungmulyo yang bertahan di pengungsian. Jumlahnya pada kisaran 435 orang. Mereka tidur di tenda darurat,” kata Pepi, panggilan akrab Stevi Maria, Kamis malam.

Emi dan Muklas adalah salah satu keluarga yang nekat bertahan di pengungsian tersebut. Mereka masih khawatir ketika kembali ke rumah. Karena banjir bisa datang sewaktu-waktu tanpa permisi. Dia baru berani pulang ketika tanggul Sungai Afvoer yang jebol sudah ditambal.

Ketakutan Muklas bukan tanpa alasan. Dia mencontohkan, banjir sempat surut pada Selasa (9/2/2021). Senyum warga pun mengembang karena bencana hendak pergi. Bahkan sudah ada yang mulai mebersihkan rumah. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Karena pada Rabu (10/2/2021) malam debit air kembali meningkat. Warga pun kembali lagi ke pengungsian.

“Saya baru berani pulang kalau tanggul sungai yang jebol sudah ditambal. Saya masih takut. Seperti kemarin itu, awalnya air mulai surut. Ternyata besoknya naik lagi,” kata Muklas yang diamini oleh sang istri.

Salahkan Sampah

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa meninjau jalan nasional di Bandar Kedungmulyo Jombang yang tergenang banjir, Sabtu (6/2/2021). [Foto/Yusuf Wibisono]
Hujan masih jatuh dari gendongan langit ketika Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau banjir di Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Sabtu (6/2/2021) siang. Adalah jalan nasional di Desa Gondangmanis yang menjadi tujuan pertama. Jalan yang menghubungkan Surabaya – Madiun ini tergenang air setinggi 50 sentimeter sejak Kamis (4/2/2021).

Saat gubernur datang, debit air di jalur nasional tersebut mulai surut. Namun masih ada genangan di beberapa titik. Gubernur sempat menyaksikan aspal yang ‘kroak-kroak’ akibat gerusan air. Juga merasakan genangan di atas mata kaki. Bupati Jombang Hj Mundjidah Wahab dan Wabup Sumrambah ikut mendampingi kunjungan orang nomor satu di Jatim ini.

Sayangnya, Gubernur Khofifah beserta rombongan tak sempat menjenguk banjir di Desa/Kecamatan Bandar Kedungmulyo yang sedang parah-parahnya. Usai dari jalan nasional, gubernur menyambangi 500 pengungsi yang ada di Balai Desa Gondangmanis, Kecamatan Bandar Kedungmulyo. Di tempat itu, Khofifah menyerahkan bantuan.

Banjir di Gondangmanis ini terjadi mulai Jumat (5/2/2021) dini hari. Ada empat dusun yang porak-poranda, yakni Dusun Gondangmanis, Manisrenggo, Prayungan, serta Kandangan. Namun pada Kamis (11/2/2021) air sudah surut. Bahkan tidak menyisakan genangan.

Setelah dari ke Balai Desa Gondangmanis, gubernur perempuan pertama di Jatim ini juga menengok dapur umum di posko utama yang berada di Kecamatan Bandar Kedungmulyo. Terakhir, rombongan meninjau rolag 70 dan DAM Gude yang berada di Kecamatan Gudo. Karena dari lokasi itulah pangkal persoalan banjir yang menerjang Kecamatan Bandar Kedungmulyo.

Tanggul Sungai Konto di rolag 70 jebol cukup lebar dan masuk ke aliran Sungai Avfoer Besuk. Karena kuatnya arus, Sungai Afvoer besok kedodoran menampung limpahan air. Beberapa titik tanggul jebol. Diantaranya, tanggul Sungai Afvoer di Desa/Kecamatan Bandar Kedungmulyo jebol di dua titik (Dusun Plosorejo) dengan lebar kurang lebih 20 meter. Tanggul tersebut jebol pada Kamis (4/2/2021) sekitar jam tiga dini hari.

Dusun Kedunggabus yang masih tergenang air setinggi 40 hingga 60 centimeter, Kamis (11/2/2021) petang. [Foto/Yusuf Wibisono]
Kemudian di Dusun Kedunggabus. Tanggul yang jebol di dusun tersebut sepanjang 10 meter. Sementara di Desa Gondangmanis tanggul jebol seluas 20 meter. Tepatnya di Dusun Prayungan. Lagi-lagi, air tersebut masuk area persawahan dan pemukiman.

Juga di Desa Brangkal, tanggul Sungai Avfoer jebol di dua titik. Masing-masing sepanjang 10 dan 7 meter. Jebolnya tanggul ini sekitar pukul setengah enam pagi. Pada Sabtu (6/2/2021), banjir di Dusun Manisrenggo, Gondangmanis mulai surut.

Namun muncul lagi banjir baru di dua desa lainnya. Yakni Desa Pucangsimo dan Desa/Kecamatan Bandar Kedungmulyo. Banjir di Bandar Kedungmulyo ini cukup parah. Ketinggian air mencapai 2 meter. Ribuan warga meninggalkan rumah untuk mengungsi.

Khofifah mengatakan, penyebab banjir di Bandar Kedungmulyo dipicu oleh beberapa variabel. Diantaranya menumpuknya sampah di aliran Sungai Konto. Oleh karena itu, Khofifah meminta seluruh elemen masyarakat untuk senantiasa mencintai sungai. Yakni melakukan bersih-bersih sampah yang ada di sungai.

“Ini harus melibatkan seluruh elemen. Mulai Kades, Lurah, Camat, dan relawan jogo kali. Karena penyebab banjir ini adalah sampah. Makanya program bersih-bersih sungai harus dikuatkan,” kata Khofifah ketika diwawancarai wartawan.

Berharap Surut
Petang mula menjelang, ketika kilat menyambar-nyabar di langit Dusun Kedunggabus, Kamis (11/2/2021). Dusun yang berubah menjadi kolam raksasa itu mulai disergap gelap. Karena sejak banjir menerjang listrik tak lagi menyala. Kedunggabus menjadi kampung mati.

Para pengungsi masih beraktifitas di atas tanggul. Ada yang menjarang air, ada pula yang menunggui hewan ternaknya di samping tenda. Hilir mudik pemberi bantuan korban banjir masih ada, meski sudah berkurang. Padahal sebelumnya banyak yang menyalurkan bantuan sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan.

Menurut Emi dan Muklas bantuan untuk para pengungsi terus mengalir. Makanya, mereka tidak kekurangan sesuatu apapun. Semuanya tercukupi. Keluarga ini hanya berharap banjir segera menyingkir. Bencana segera sirna. Sehingga mereka bisa melakukan aktifitas seperti sedia kala. “Itu saja harapannya. Semoga banjir segera surut,” katanya hampir bersamaan. [suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar